Perpustakaan UNU Jogja Gelar User Education Bagi Mahasiswa Baru 2019

Kenapa Banyak Mahasiswa Tidak Capek Kuliah Berlama-lama?

Posted on

Secara tak sengaja saya sering “ndilalah” diketemukan mahasiswa “Begawan”, baik yang sedang S1, S2, maupun S3, baik yang kuliahnya di dalam maupun di luar negeri. Beliau rata-rata molor lulus itu sejak memasuki bottle neck yang bernama TA/skripsi, tesis, atau publikasi (sebagai syarat maju ujian disertasi).

Ada pertanyaan yang tidak boleh saya tanyakan yakni “Sampeyan apakah tidak capek sekolah berlama-lama begini ?” atau “Bayar SPP tambahan segitu mahal, tidak apa-apa tah ?”. Tidak saya tanyakan itu, sebab biasanya dalam hitungan detik dia akan ambil tissue mengusap matanya.

Tentu saja beragam sekali masalah mereka. Tapi yang terbanyak adalah bermasalah dengan pembimbingnya. Hubungan guru dan murid ini harus harmonis. Guru harus senantiasa ridlo kepada muridnya. Dan murid harus senantiasa hormat kepada gurunya. Secara lisan mudah mengatakan itu, tapi secara realisasi tidak mudah.

Guru yang ridlo (seneng) terhadap muridnya pasti selalu kepingin ketemu. Acara seminar mingguan, bimbingan bersama, atau forum sejenis itu yang seminggu sekali kadang-kadang tidak cukup untuk melampiaskan keinginan guru bertemu murid. Setiap kesulitan yang dihadapi muridnya, guru selalu ikut sibuk mencari-cari apa saja alternatif solusinya. Apalagi kalau ditambah dengan doa guru kepada Allah SWT untuk keberhasilan murid-muridnya, pasti akan dahsyat. Karena itu tidak jarang terselip kata “wa talaamidzana” dari lantunan doa para Kiai yang sempat terekam telinga saya, maksudnya beliau memohonkan juga untuk para santri beliau.

Baca Juga >  Bagaimana Memilih Kuliah yang Tepat dan Strategis?

Muridpun harus ta’dhim (hormat) kepada gurunya. Ekspresi kecewa seseorang tidak dapat dibohongi. Meskipun berpura-pura senyum di hadapan guru, tapi kalau di belakang malah ngerasani, ghibah, atau mengungkap ketidak-puasan, bagaimana mungkin dia dapat disebut ta’dhim. Maka senyum di bibir saja tidak cukup, perlu senyum di wajah. Rindu ketemu guru itu sebanding dengan rindu ingin segera menemukan solusi demi solusi perjuangannya. Apalagi kalau si murid bersedia menyisipkan gurunya dalam lantunan doanya.

Nasihat teman saat saya baru pertama kali menginjakkan kaki di Jepang memulai kuliah S3 bunyinya lebih kurang begini:
“Mas Agus, mulai sekarang doa Sampeyan harus ditambah. Jangan hanya untuk diri sendiri, tapi juga untuk pembimbing kita. Doakan agar beliau sehat wal afiat, panjang umur, dan banyak rejeki”. Barangkali akibat nasihat ini, saya diizinkan Tuhan menempuh S3 dalam 5 semester.

Penulis: Prof Agus Zainal Arifin, ITS Surabaya.