Jangan Sampai Terperangkap Mentalitas Terjajah!

tuan guru bajang

Berita NU, BANGKITMEDIA.COM

PATI – Jangan sampai umat dan bangsa ini terus dihinggapi penyakit mental inferiority complex (merasa rendah dan tidak berdaya secara akut berhadapan dengan Negara-negara maju). Penyakit ini membuat umat dan bangsa ini sulit mengalami kemajuan dan kejayaan. Itu adalah mentalitas terjajah!

Demikian ditegaskan Tuan Guru Dr. H. Zainul Majdi, doktor tafsir dari Al-Azhar University dan juga Gubernur NTB, dalam diskusi ilmiah di Pesantren Raudlatul Ulum Kajen Pati Jawa Tegah, Sabtu (17/02).

Bacaan Lainnya

Zainul Majid menegaskan bahwa ada seorang intelektual bernama Bennabi yang setelah melakukan perjalanan panjang di Negara-negara Islam, baik Asia maupun Afrika, masih menjumpai sisa-sisa mentalitas yang sangat membahayakan umat Islam, yaitu qaabilun lil-isti’mar, menerima untuk dijajah. Mentalitas ini menjadikan umat Islam terbiasa menggantungkan diri kepada pihak lain, khususnya Negara-negara yang pernah menjajah.

“Tentu ini adalah realitas ironi yang harus diubah supaya umat Islam mampu tegak berdiri dengan kepala sendiri, percaya dengan kemampuan sendiri, dan tidak merasa rendah diri berhadapan dengan Negara lain, apalagi yang pernah menjajah. Al-tsiqah bin nafsi (percaya kepada diri sendiri) dan menggelorakan semangat optimisme (tafaaul) harus menjadi gerakan kolektif yang harus terus disuarakan demi ‘izzul Islam wal muslimin (keagungan Islam dan umatnya),” tegas Tuan Guru Bajang, panggilan akrabnya.

Untuk keluar dari mentalitas terjajah ini, Zainul Majdi mengajak umat Islam untuk kembali kepada spirit ilmu pengetahuan.  Jangan sampai umat Islam terkena penyakit malas bangkit (kasalul juhud), tapi justru harus membangkitkan diri dengan menjelajah ilmu sampai kepada puncaknya.

“Sanad (mata rantai transmisi ilmu) umat Islam Indonesia termasuk sanad ilmu yang orisinal dan fundamental (ashil) yang tersambung langsung kepada baginda Nabi Muhammad SAW. Ulama-ulama Indonesia dalam sejarahnya pernah mewarnai dunia intelektualitas dunia di jantung ilmu dan peradaban,” tegas pakar ilmu tafsir ini.

“Syekh Nawawi al-Bantani, Syekh Ahmad Zaini Dahlan, Syekh Khatib Minangkabau, Syekh Mahfudh At-Tarmasi, dan Syekh Yasin bin Isa al-Fadani yang dikenal dengan musnidun dun-ya adalah tokoh-tokoh ulama nusantara yang menjadi guru besar dan mufti di Masjidul Haram Mekkah sebagai pusat keilmuan dan peradaban Islam yang menjadi rujukan umat Islam dunia. Spirit intelektualitas ulama-ulama berkaliber internasional inilah yang harus diwarisi oleh umat Islam nusantara, khususnya kepada para santri yang sedang menimba ilmu di pesantren,” lanjutnya.

Zainul Majdi mengajak para santri agar tidak membatasi kajian ilmunya pada bidang-bidang tertentu, misalnya hanya dalam aspek fiqh, tauhid, dan akhlak. Para mushannif (penulis kitab) yang dikaji di pesantren sebenarnya mempunyai beragam kitab yang seyogianya dikaji semua untuk mengetahui gambaran utuh pemikiran seorang tokoh.

“Imam Jalaluddin As-Suyuthi tidak hanya menulis kitab Tafsir Jalalain yang biasa dikaji di pesantren. Beliau juga menulis kitab sejarah Taariikhul Khulafa’ (sejarah para raja), dan lainnya. Demikian juga Imam al-Ghazali, Ibnu Sina, dan lainnya,” tegasnya.

Dari sini juga, Zainul Majdi memuji semangat Islam Nusantara yang dikembangkan oleh Nahdlatul Ulama(NU). Baginya, Islam Nusantara membawa kesadaran baru umat Islam untuk membumikan Islam Rahmatan Lil-Alamin. Kesadaran baru ini sangat penting di tengah eskalasi gerakan radikalisme dan fundamentalisme gerakan keagamaan yang semakin meningkat di Indonesia. Pada November 2017 lalu,Tuan Guru Bajang juga menjadi tuan rumah Munas Alim Ulama’ NU di Nusa Tenggara Barat. Berita Islam Terkini (jamal/md)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *