ka'bah

Ijazah Doa Sowan Ka’bah: Allahumma Bedundak-Bedunduk

Posted on

Ini kisah seorang teman. Saat pertama kali ke tanah suci, ia bertemu gurunya di depan Ka’bah. Beliau adalah pengasuh pondok pesantren sekaligus pembimbing KBIH yang setiap tahun bisa berangkat haji dan umroh.

“Kiai, mohon saya didoakan bisa seperti panjenengan,” pintanya pada guru sambil duduk-duduk santai.

“Apanya yang seperti saya? Pengen punya perut gendut begini? Heheheh,” Gurunya balik bertanya sembari bercanda.

“Hehehe, boten Kiai. Maksud saya didoakan supaya bisa bolak-balik berangkat haji atau umroh setiap tahun,” jawabnya.

Sang Guru lantas menarik tangan muridnya dan mengajaknya mendekat ke Multazam. “Aminkan doa saya ya. Sing temenan loh,” begitu instruksinya. Si murid hanya mengangguk. Maka terdengarlah: “Allahumma bedundak-bedunduk. Allhumma bedundak-bedunduk. Allahumma bedundak-bedunduk (dilanjut doa berbahasa Arab).”

Saat mendengar doa itu, batin teman saya mengalami dilema. Antara menahan tawa dan berusaha mengaminkan doa dengan khusuk. “Masak doa kok Allahumma bedundak-bedunduk,” kira-kira begitu kata hatinya.

Tampaknya guru merasakan itu. “Kan sudah saya bilang sing temenan. Kok malah guya-guyu. Mbuh loh ya kalau tidak terkabul,” nasihat gurunya ketika kembali duduk di tempat semula. “Ampun Kiai, ngapunten.” 

“Setelah thawaf wada’ biasanya orang baca doa yang di antara bunyinya adalah:


وَارْزُقْنِىَ العَوْدَ ثُمَّ العَوْدَ مَرَّاتٍ بَعْدَ مَرَّاتٍ

Intinya berarti meminta kepada Allah untuk mengulanginya berkali-kali. Lah yang begitu itu kan bahasa Jawa-nya bedundak-bedunduk. Allah itu Maha Mengetahui. Orang boleh berdoa pakai bahasa apa saja. Yang penting khusuk dan untuk kebaikan. Ngono loh.”

Walhasil, sepulang dari Tanah Suci teman saya itu resign sebagai karyawan dan mulai merintis travel sendiri. Tentu dengan ikhtiar dan doa yang luar biasa. Sudah empat tahun berlalu dan ia berhasil mewujudkan keinginannya bedundak-bedunduk ke Makkah-Madinah. Alhamdulillah.

doa menuju ka'bah
——-
Keterangan: Foto hanya pemanis. Peristiwa bersama Enny Hidayati (istri penulis-red) pada Desember 2014 yang semoga terulang di 2019. Termasuk bagi kalian yang sudah membaca. اللهم امين

(Penulis: A Afif Amrullah, Ketua KPID Jawa Timur)