Hukum Mandi Wajib Setelah Imsak, Ini Penjelasan Serta Niat dan Tata caranya

Hukum Mandi Wajib Setelah Imsak, Ini Penjelasan Serta Niat dan Tata caranya

Posted on

Hukum Hukum Mandi Wajib Setelah Imsak, akhir-akhir ini memang banyak dipertanyakan. Mengingat banyaknya pertanyaan tersebut, maka kali ini kami akan menguraikan penjelasannya sesuai apa yang pernah diajarkan oleh beliau Rasulullah SAW. Agar lebih lengkap, kami sertakan pula penjelasan terkait niat dan tata caranya. Berikut penjelasannya, silahkan baca sampai tuntas agar mudah memahami dan mudah melaksanakannya.

Islam sebagai agama rahmatan lil alamin menyeimbangkan kebutuhan rohani dan jasmani. Salah satu bukti Islam Rahmatan Lil Alamin (memberi rahmat bagi alam semesta) adalah keringanan dalam beribadah puasa.Tidak ada yang sulit dan memberatkan di luar batas kemampuan manusia. Tujuan puasa untuk menempa dan menggembleng rohani manusia, agar menjadi orang bertakwa yang mampu mengendalikan hawa nafsunya. Namun kebutuhan jasmanipun tak dilupakan. Dalam hal ini kebutuhan biologis pasangan suami isteri saat bulan Ramadhan.

KLIK DISINI untuk mengirim WA (tanpa harus menyimpan nomor terlebih dahulu) ke Call Center NU Care LAZISNU DIY, untuk konsultasi/tanya-tanya.

Sebelum masuk pembahasan ini kita harus memahami “catatan penting” berikut:

1. Pada awal syariat puasa di tahun 2 hijriah, dilarang sama sekali berhubungan intim suami istri, baik siang maupun malam Ramadhan. Namun akhirnya Allah SWT memberikan dispensasi dan keringanan di malam hari.

Disebutkan dalam Tafsir Jalalain juz 1 hal 27: “Suatu malam di bulan Ramadhan, Umar bin Khattab RA terlanjur mengajak istri untuk berhubungan badan. Beliau sangat menyesal dan mengadukannya kepada Nabi SAW.

Lalu Nabi menunggu wahyu turun. Akhirnya turun surat Al Baqarah ayat 187 tentang dispensasi “rafats” (bercampur/hubungan suami istri).”

احل لكم ليلة الصيام الرفث الى نساءكم.

Artinya: Dihalalkan bagimu pada malam hari puasa bercampur dengan istrimu”.

Alasan kebolehan ini:

علم الله انكم كنتم تختانون انفسكم فتاب عليكم وعفا عنكم

“Allah Maha Tahu kamu tidak dapat menahan dirimu sendiri. Tetapi Dia menerima taubatmu ampuni kamu dan memaafkanmu”.

Dari redaksi ayat tersebut, bisa kita pahami bahwa Allah SWT begitu kasih sayang dan mengerti kondisi hamba-Nya. Tidak mungkin ia mampu menahan diri selama 1 bulan penuh siang malam.

2. Redaksi kata “arrafatsu” dalam ayat tersebut (dijelaskan dalam tafsir Jalalain) bermakna “Al Ifdha’” (hubungan suami istri). Kata yang sangat halus dan sopan untuk mendeskripsikan hubungan suami istri.

3. Durasi malam hari berlaku sejak maghrib terbenam matahari hingga fajar adzan subuh. Diupayakan tidak mepet waktu adzan subuh, untuk berjaga-jaga.

Terkait Mandi Wajib di Bulan Puasa Setelah Adzan Subuh, Ini Penjelasannya:

Termasuk keringanan dalam ibadah puasa adalah waktu mandi junub (setelah berhubungan suami isteri). Mandi junub tidak diharuskan di malam hari. Namun boleh dilakukan setelah imsak bahkan setelah adzan subuh tiba. Dengan syarat saat adzan subuh, hubungan suami isteri sudah dihentikan.

Baca Juga >  Boleh Berkorban dengan "Seekor" Ayam, Angsa, dan Hewan Lain yang Halal Dimakan

Patut jadi perhatian, jangan sampai mandi junub ditunda hingga terbit matahari (syuruq).

Sebab batas terakhir shalat subuh adalah terbit matahari. Sedangkan suami istri berkewajiban shalat subuh. Dan harus didahului mandi junub agar suci dari hadats besar.

DALIL:

Dasar kebolehan mandi junub setelah adzan subuh ini adalah hadits Nabi dari Aisyah RA:

كان رسول الله صلعم يصبح جنبا من غير حلم ثم يصوم

Rasul SAW pernah junub saat masuk waktu subuh, bukan karena mimpi (tapi karena berhubungan suami istri). Lalu beliau tetap lanjutkan puasanya.(HR Bukhari Muslim).

Dalam hadits lain riwayat Aisyah RA:

كان رسول الله صلعم يدركه الفجر وهو جنب من اهله ثم يغتسل ويصوم

“Pernah Rasul SAW masuk waktu subuh dalam keadaan junub karena berhubungan dengan isteri. Lalu beliau mandi dan lanjut puasanya.” (HR Bukhari Muslim)

Namun DISUNNAHKAN mandi junub sebelum subuh. Dalam kitab Fathul Muin, Fikih Madzhab Syafii hal 58 dijelaskan:

وسن غسل عن نحو جنابة قبل فجر لؤلا يصل الماء الى باطن نحو اذنه او دبره

“Disunnahkan mandi junub sebelum subuh. Ini bertujuan supaya air tidak tembus ke dalam rongga telinga atau duburnya saat puasa”.

KASUS SUAMI ISTRI BANGUN KESIANGAN.

Terkadang suami istri bangun kesiangan setelah terbit matahari. Maka dalam hal ini suami istri segera mandi junub, lalu segera mengqadha/ganti shalat subuh.

Setelah itu tetap lanjut puasanya. Asalkan tidak sengaja dan tidak berulangkali, maka keduanya tidak berdosa. Puasanya tetap sah.

ALANGKAH MUDAHNYA ISLAM DITERAPKAN.

Wallahu A’lam.

Penulis: Dr Moh. Wahib Abdul Aziz, alumnus Pesantren Nurul Jadid Paiton Probolinggo, sekarang jadi Wakil Dekan Fakultas Syariah di IAIN Fattahul Muluk Jayapura Papua.

Catatan Redaksi:

Berikut ini niat dan tata cara mandi junub.

Hukum mandi wajib setelah imsak

نَوَيْتُ الْغُسْلَ لِرَفْعِ الْحَدَثِ اْلاَكْبَرِ فَرْضًا ِللهِ تَعَالَى

Nawaitu Ghusla Lifrafil Hadatsil Akbari Fardhan Lillahi Ta’aala.

Artinya: Aku berniat mandi besar untuk menghilangkan hadats besar fardhu karena Allah ta’aala.

Tata Cara Mandi Junub:

1.Niat

2. Mendahulukan mengambil air wudu, yakni sebelum mandi disunatkan berwudu terlebih dahulu.

3. Menghadap kiblat sewaktu mandi dan mendahulukan bagian kanan dari pada kiri.

4. Membaca ‘Bismillahirrahmaanirrahiim,’ pada permulaan mandi.

5. Membasuh seluruh badan menggunakan air, yakni meratakan air ke semua rambut dan kulit.

6. Mendahulukan membasuh segala kotoran dan najis dari seluruh badan.

7. Membasuh badan sampai tiga kali.

8. Membaca doa sebagaimana membaca doa sesudah berwudu.

Selesai.

اَشْهَدُاَنْ لَااِلٰهَ اِلَّا اللّٰهُ وَحْدَهُ لَاشَرِيْكَ لَهُ. وَاَشْهَدُ اَنَّ مُحَمَّدًاعَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. اَللّٰهُمَّ اجْعَلْنِىْ مِنَاالتَّوَّابِيْنَ، وَجْعَلْنِيْ مِنَ الْمُتَطَهِّرِيْنَ، وَجْعَلْنِىْ مِنْ عِبَادِكَ الصَّالِحِيْنَ Latin: “Asyhadu allaa ilaaha illallah wahdahu laa syariikalahu . Wa asyhadu anna Muhammadan’abduhu wa rasuuluhu Allahumma-j alnii minattabinna waj alnii minal mutathohiirina waj alnii min ‘ibadatishalihin.” Artinya: “Saya bersaksi tiada Tuhan melainkan Allah yang esa , tiada sekutu bagi-Nya . Dan saya bersaksi bahwa nabi Muhammad adalah hamba-Nya dan utusan-Nya . Ya Allah jadikanlah saya orang yang ahli taubat , dan jadikanlah saya orang yang suci , dan jadikanlah saya dari golongan hamba-hamba-Mu yang shaleh.”

Artikel terkait silahkan baca di sini