Hakikat Makna Bulan Sya’ban dan Penjelasannya.
Sya’ban merupakan bulan persiapan untuk memasuki bulan yang penuh dengan rahmat, maghfirah dan penuh ganjaran serta dijauhkan dari siksa api neraka.
Bulan itu ialah tempat dimana turunya wahyu Allah pertama kali yaitu surah al-Alaq ayat 1-5 bernama bulan Ramadhan, Persiapan pada bulan Sya’ban meliputi persiapan jasmani dan rohan serta berhati-hati dari segala bentuk godain hawa nafsu.
Jasmani dan rohani harus segera mempersiapkan diri dari segala hal untuk menyongsong bulan suci Ramadhan, misalnya bersih-bersih ingkungan, tempat ibadah serta menpersiapkan mental dari segala bujuk rayu nafsu diri sendiri. hal ini dimaksudkan untuk mendekatkan diri kepada Allah, sehingga merasa selalu dekat dengan Allah.
Kata sya’ban sendiri diambil dari bahasa arab yang berasal dari kata syi’ab yang artinya jalan di atas gunung dan orang arab pada bulan itu biasanya yatasya’abun (berpencar) mencari sumber mata air, lalu digunakan oleh orang Arab untuk mencari jalan guna mencapai kebaikan dalam hidup. Dan juga dikatakan sebagai bulan sya’aba (muncul) karena muncul di antara dua bulan, Rajab dan Ramadan.
Jamaknya adalah Sya’abanaat dan Sya’aabin. Bulan Sya’ban juga diartikan sebagai bulan yang menjadi kesempatan bagi hamba Allah yang beriman dan bertaqwa, untuk menjadi orang yang diharamkan masuk ke dalam neraka. “Barang siapa yang merasa senang akan datangnya bulan Ramadhan maka diharamkan jasadnya masuk ke dalam Neraka (Hadits)”.
Baru saja merasa senang sudah demikian besar keutamaannya apalagi bila sampai pada amaliyah, tentu lebih besar lagi keutamaannya. Alangkah baiknya bila pada bulan ini untuk mengkadha puasa, bila ternyata pada tahun yang lalu pernah meninggakan puasa karena sakit, menjadi musyafir atau bagi wanita sedang melahirkan, menyusui atau sedang nifas maka masih ada kesempatan untuk mengqadhanya, agar bulan puasa nanti menjadi lebih ringan di dalam menjankan puasa karena merasa tidak mempunyai hutang puasa.
Menurut Yahya bin Mu’adz bahwa Sya’ban terdiri dari lima huruf yaitu syin, ‘ain, ba’, alif dan nun dan masing-masing bernakna sebagai berikut. Pertama: Syin syarafatun atau syafa’atun yang berarti kemuliaan dan syafa’at. Kedua: ‘Ain : Al ’izzah wa karomah yang berarti kemenangan dan karomah. Ketiga: Ba’ Al Birru yang berarti kebaikan. Ke-empat: Alif Ulfah yang berarti rasa belas kasihan. Ke-Lima: Nun, Nur yang berarti cahaya.
Itulah sebabnya bulan Rajab menjadi bulan untuk mensucikan tubuh, bulan Sya’ban untuk mensucikan lubuk hati dan Ramadhan untuk mensucikan jiwa/ ruh. Maka barang siapa yang mensucikan tubuhnya di bulan Rajab, sucilah hatinya di bulan Sya’ban, dan siapa yang mensucikan lubuk hatinya di bulan Sya’ban, sucilah jiwanya di bulan Ramadhan (Durrotun Nashihin).
Rasulullah SAW sebagai pribadi yang maksum namun beliau berbeda yang hamba Allah yang lain, karena beliau tidak pernah mengandalkan kunci dan garansi, namun beliau sentiasa merasa kurang didalam melaksanan perintah Allah.
Pada bulan Sya’ban Rasulullah selalu berupaya untuk menyempurnakan ibadahnya sehingga pada bulan Sya’ban berupaya untuk meraih keutamaan. Sebagaimana hadits yang diriwayatkan oleh istrinya Siti Aisyah.
“Dari Aisyah; Rasulullah tidak pernah puasa dalam satu bulan yang lebih banyak dari bulan Sya’ban. Sesungguhnya beliau berpuasa sebulan penuh pada bulan ini. (Hr. Bukhari Musim).
“ Dari Abu Hurairah RA berkata, Rasulullah SAW bila pertengahan bulan Sya’ban telah dijumpai, maka janganlah berpuasa sunnah. (HR. Turmudzi).
Sungguh banyak amal ibadah yang dapat dilakukan, baik amalan jasmani maupun rohani. Mudah-mudahkan antara jasad dan ruh selalu berjalan untuk menuju pada ridha Allah SWT. (amiruddin)
Demikian ulasan khusus terkait Hakikat Makna Bulan Sya’ban dan Penjelasannya. Semoga bermanfaat.
Artikel terkait baca di sini. Tonton juga video seputar hikmah kehidupan. Tonton di sini








