Bangkitmedia.com, YOGYA -Memilih pengurus takmir, menurut anggota DPD RI Dr. KH Hilmy Muhammad, harus orang yang rajin ke masjid. Selain itu juga orang yang peduli kepada masjid. “Ini sesuai dengan dhawuh simbah Kyai Zainal Abidin Munawwir. ““Kalau orang tidak pernah ke masjid kok dijadikan pengurus takmir, wah itu alamat tidak akan berjalan,” katanya.
Mengurusi masjid, menurut anggota DPD RI Dr KH Hilmy Muhammad, sebenarnya sama dengan mengurusi sampah. Kesamaannya di sini adalah sama-sama menghasilkan uang. “Sebenarnya kalau dalam mengurusi masjid serius, tak akan kekurangan dana. Tidak perlu mencari dana keluar,” kata Senator DPD RI wakil dari DIY ini.
Pendapat ini dikemukakan pada Rapat Koordinasi Rutin Lembaga Takmir Masjid (LTM) PWNU DIY, LTM PCNU se-DIY dan Takmir Masjid Percontohan di gedung DPD RI Jl. Kusumanegara, Sabtu (10/05/2025). Rakor mengangkat tema “Merawat Masjid, Membangun Peradaban”.
Cucu almaghfurlah KH Ali Maksum ini menjelaskan, kalau baik dalam mengelola masjid, maka dana akan datang sendiri. Baik dalam hal ini antara lain transparan di bidang keuangan. Selain itu program-program masjid juga jelas, misalnya memberi beasiswa untuk anak-anak jamaah atau remaja masjidnya serta memberi bantuan sosial kalau ada jamaahnyayang sakit. “Kalau transparan, insya Allah feed back ada. Jadi dari masjid bisa untuk nguripi masjid,” tegasnya.

Gus Hilmy juga menjelaskan, mengurusi masjid sebenarnya sama dengan mengurusi sampah. Kesamaannya di sini adalah sama-sama menghasilkan uang. “Sebenarnya kalau dalam mengurusi masjid serius, tak akan kekurangan dana. Tidak perlu mencari dana keluar,” kata Senator DPD RI wakil dari DIY ini.
Sama halnya dengan mengurusi sampah, lanjutnya, kalau sampah dikelola secara benar maka akan menghasilkan uang. Hal ini sudah dibuktikan dalam pengelolaan sampah di Pondok Pesantren Krapyak, di mana para pengelolanya tidak mau dibayar. Sebab pendapatan dari sampah sudah banyak. Agar sampah bisa dikelola dengan benar, maka harus dipilah dari rumah, dipisahkan antara sampah organik, an organik, plastik dsb.
”Pengelola sampah tiap hari mengambil sampah di depan-depan kamar pesantren, termasuk depan rumah kiai tanpa dibayar. Syaratnya sampah tersebut sudah dipilah. Kalau belum dipilah, meski di depan rumah kiai tidak akan diambil, sehingga sampah akan menumpuk dan terpaksa pihak pemilik rumah harus memilah sampah tersebut,” paparnya. (Lutfi)

Gus Hilmy foto bersama dengan jajaran pengurus LTM PWNU DIY, LTM PCNU se-DIY dan pengurus Takmir Masjid Percontohan.








