Bangkitmedia.com, YOGYA – Katib Syuriyah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), KH Hilmy Muhammad atau Gus Hilmy, menegaskan bahwa kekuatan mental seorang Muslim tidak lahir dari sekadar motivasi, melainkan dari fondasi intelektual dan moral yang kokoh: ilmu dan tawadhu.
Dalam Pengajian Ramadan Kitab Mabadi’ Khoiri Ummah yang disiarkan melalui Kanal YouTube Krapyak Official, Rabu (25/2/2026), Gus Hilmy menjelaskan bahwa ketakutan sering kali bukan persoalan keberanian, tetapi persoalan pengetahuan.
“Rasa takut yang berlebihan biasanya bersumber dari al jahla, ketidaktahuan terhadap hakikat suatu urusan,” ujarnya.
Ia memaparkan, seseorang yang tidak memahami persoalan secara utuh cenderung membangun asumsi negatif. Ketidaktahuan melahirkan kekhawatiran, dan kekhawatiran yang tidak terkelola menjadi penghambat langkah. Contoh sederhana, menurutnya, adalah ketakutan melanjutkan studi ke luar negeri karena mengira biaya tidak terjangkau, padahal tersedia berbagai skema beasiswa dan pendanaan.
Karena itu, ia mendorong keberanian yang berbasis proses. Ketakutan, kata dia, harus dihadapi melalui pengalaman berulang (watajribati) hingga menjadi kebiasaan. Dengan latihan yang konsisten, sesuatu yang awalnya menakutkan akan berubah menjadi biasa.
“Melawan ketakutan adalah dengan melakukannya berkali-kali sampai rasa takut itu kehilangan daya,” tegasnya.
Namun demikian, aspek mental menurut Gus Hilmy tidak hanya bertumpu pada kecakapan intelektual. Ada dimensi moral yang tak kalah penting. Ia menilai, kehidupan yang bersih dari perbuatan tercela menjadi fondasi psikologis agar seseorang tidak dibayangi kecemasan.
“Orang yang menyimpan kesalahan atau kegaduhan moral akan hidup dalam ketakutan kerana ada beban masa lalu,” ujarnya.
Lebih jauh, Gus Hilmy menguraikan konsep tawadhu sebagai sikap kunci dalam menjaga keseimbangan kepribadian. Ia menekankan bahwa tawadhu bukanlah rendah diri, melainkan posisi moderat antara kesombongan (al-kibr) dan kehinaan diri (al-wadhi’ah).
“Tawadhu adalah kerelaan menempatkan diri lebih rendah demi menghormati orang lain, bukan kerana merasa tidak berharga,” jelasnya.
Menurutnya, kerendahan hati justru menjadi mekanisme elevasi spiritual. Seseorang yang merendahkan hati karena kesadaran akan keagungan Allah dan keterbatasan dirinya, akan diangkat derajatnya.
“Siapa yang rendah hati kerana Allah, Allah akan meninggikan darjatnya,” tandasnya.
Melalui dua pilar tersebut, ilmu yang membebaskan dari ketakutan dan tawadhu yang menjaga keseimbangan moral, Gus Hilmy menegaskan bahwa kesehatan mental Muslim bukanlah konsep abstrak, melainkan hasil dari proses pembentukan diri yang sadar, terlatih, dan berakar pada nilai-nilai spiritual. (*)








