Guru Madrasah

Guru Madrasah Non-PNS di Semarang Tingkatkan Kapasitas Keilmuan

Berita NU, BANGKITMEDIA.COM

SEMARANG- Minimnya tunjangan tidak menyurutkan semangat guru madrasah non-PNS di Kota Semarang untuk meningkatkan kualitas penyelenggaraan proses belajar mengajar bagi para anak didiknya. Bahkan dengan tunjangan profesi Rp 1,5 juta perbulan mereka rela mengikuti pelatihan dengan biaya sendiri.

Demikian disampaikan Mujib Sya’roni, Ketua Ikatan Guru Madrasah Kota Semarang (IGMAKOS) di sela kegiatan Workshop Peningkatan Mutu Guru Madrasah di Islamic Centre Manyaran Semarang, hari ini (8/9).

“Kegiatan ini sebagai gerakan moril dari para guru non PNS yang sudah mendapatkan Tunjangan Profesi baik yang Inpassing ataupun yang non inpassing se-Kota Semarang untuk meningkatkan kualitas penyelenggaraan proses belajar mengajar. Apalagi saat ini paradigmanya berbeda, karena sebelumnya menggunakan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) dan saat ini menggunakan Kurikulum 2013 (K-13),” terang Sya’roni.

Plt Kementerian Agama Kota Semarang, Rahmat Pamudji mengapresiasi workshop yang dilaksanakan IGMAKOS. Menurutnya kegiatan ini mendorong para guru madrasah untuk meningkatkan kompetensi dan kinerjanya sehingga mutu pendidikan madrasah bias meningkat.

Senada, Kepala Seksi Pendidikan Madrasah Kementerian Agama Kota Semarang, Dr. Fatkhurozy, M.Pd, mengatakan kegiatan ini wujud nyata pengabdian para guru non-PNS untuk meningkatkan mutu pendidikan madrasah meski dalam keterbatasan.

“Sementara beredar isu guru yang sudah mendapatkan tunjangan profesi mutunya kurang, tapi kita bisa lihat sendiri bahwa hal itu tidak terjadi di Semarang. Saya sangat terharu melihat antusiasme para guru madrasah non PNS di Kota Semarang yang secara sukarela mengadakan kegiatan ini dari swadaya para guru,” kata doktor lulusan Unnes tersebut.

Baca Juga >  Pon. Pes. Ar-Robithoh Krapyak, Sleman, Gelar Peringatan Haul

Lebih lanjut Fatkhurrozi menjelaskan bahwa pihaknya yang menaungi pendidikan madrasah di Seamarang siap memfasilitasi kegiatan serupa di masa mendatang. Hal ini, katanya, untuk memberikan rasa keadilan bagi para guru madrasah sehingga tidak merasa terdiskriminasi dengan dikotomi status PNS dan honorer.

Workshop Peningkatan Mutu Guru Madrasah dihadiri 378 peserta yang berasal dari guru di tingkat Madrasah Aliyah (MA), Madrasah Tsanawiyah (MTs). Kegiatan yang sama ditujukan untuk guru di tingkat Raudhatul Atfal (RA) diadakan di tempat berbeda di Pascasarjana Universitas Wahid Hasyim Semarang dan Raudhatul Atfal (RA).