pesantren NU

Eks HTI Perlu Mondok ke Pesantren Nahdlatul Ulama

Posted on

Berita NU, BANGKITMEDIA.COM

YOGYA- Kabar soal HTI yang resmi dibubarkan setelah sidang di PTUN, 7 Mei 2018, menjadi trending topic di media sosial Indonesia. Kader HTI mestinya belajar lagi tentang khilafah, biar mengetahui substansi khilafah itu sendiri. Tempat belajar yang sangat baik ya di pesantren NU, karena belajarnya sistematis dan tuntas.

Demikian ditegaskan KH Irwan Masduqi, dari Mlangi Yogyakarta dalam akun facebooknya, Selasa (08/05).

KLIK DISINI untuk mengirim WA (tanpa harus menyimpan nomor terlebih dahulu) ke Call Center NU Care LAZISNU DIY, untuk konsultasi/tanya-tanya.

“Kader HTI gagal memahami substansi khilafah. Mereka hanya memahami khilafah dari kulitnya saja kemudian membenturkannya dengan ideologi bangsa kita. Lihatlah kajian kitab kuning di Pesantren, para santri selalu mempelajari bab khilafah tapi mereka tidak lantas menjadi kader HTI. Kenapa? Karena pesantren mampu mendialogkan kitab kuning dengan nilai-nilai keindonesiaan,” tegas Kiai Irwan.

Bagi Gus Irwan, panggilan akrabnya, pembahasan tentang khilafah Islamiyyah/nasbul imamah/daulah Islamiyyah ada di kitab Fathul Qarib, Fathul Muin hingga Fathul Wahhab.

“Hanya kitab Fathul Izar yang tidak mengupasnya sebab isinya soal kamasutra Arab. Hehe.,” lanjut Gus Irwan yang disambut tawa para netizen.

Gus Irwan juga menegaskan bahwa santri yang kritis progresif akan mampu mengambil spirit positif dari sistem khilafah seperti tujuan mewujudkan keadilan dan kesehteraan, lalu menyelaraskannya dengan tujuan-tujuan mulia demokrasi Pancasila.

“Ex-HTI perlu mondok ke Pesantren NU dan belajar bagaimana memahami secara substansial Khilafah Islamiyah dengan benar,” lanjut Gus Irwan.

Statemen Gus Irwan ini mendapatkan komentar beragam dari netizen. Mayoritas menyepakati usulan Gus Irwan, sembari tetap memberikan komentar kritis terkait HTI.

“Sama halnya orang yang taunya syariat dan tidak tau maqasidnya.. saklek,” Kang Utsman berkomentar.

Baca Juga >  Generasi Milenial Butuh Inspirasi seperti Ibnu Arabi

“Kader HTI mondoknya di pesantren kilat, tidak thuluz zaman (masa yang lama-red) di pesantren yang kitab kuning menjadi keseharian belajarnya,” sahut Muhammad Walid.

“Karena kader HTI langsung denga terjemahannya. Itupun kitab terjemahnya Taqiyuddin an-Nabhani yang berjilid jilid,” Ibu Hibban Ulumuddin ikut serta menyahut.

“Bukan hanya gagal paham, tapi diplintir juga. Dari memilih pemimpin dijustifikasi berarti negaranya harus negara Islam, khususon khilafah,” tulis Dindin Nugraha menambah komentar kritis.

“Di Piagam Madinah, isinya perjanjian kerjasama umat Islam yang justru minoritas lho, dengan suku-suku yang non Islam. Itu luar biasanya Piagam Madinah. Rasul menyebutnya ummatan wahidatan, umat yang satu. Nah loh… Piagam Madinah yang sering dijadikan model sama HTI itu justru bentuknya “negara” yang berdasarkan kesepakatan. Indonesia ini nunut sunnah Rasul, jangan sembarangan,” lanjut Dindin Nugraha.

Di beranda facebook yang lain, seorang aktivis muda dari Yogyakarta, Tomy Widiyatno Taslim juga memberikan komentar kritis terkait HTI.

“Organisasi seperti HTI ini sebaiknya tidak perlu tedeng aling-aling. Kalau memang mau berpolitik praktis, bikin partai saja. Tak perlu pakai topeng apapun. Keinginan, yang salah satunya ingin menegakkan khilafah, yang sudah terbukti bermasalah dan dibubarkan di banyak negara, tentu saja sebuah persoalan. Kalau dianggap tidak bermasalah, maka di banyak negara pasti diterima baik,” tulis Tomy Widiyatno Taslim. Berita Islam Terkini (rohim)