Membaca doa qunut pada saat shalat witir di bulan ramadan hukumnya sunnah. Waktu pelaksaannya dimulai pada malam ke-16 di bulan ramadan. Kesunnahan tersebut bukan tanpa dasar, sebab banyak dalil yang menjelaskannya.
Sebagaimana diulas oleh Ustadz Yusuf Suharto di situs tebuireng.online, bahwa diantara dalil disunnahkannya doa qunut di paruh kedua bulan ramadan adalah :
Pertama, Atsar dengan status hasan yang diriwayatkan oleh Imam Abu Dawud :
أن عمر بن الخطاب جمع الناس على أبي بن كعب فكان يصلي لهم عشرين ليلة ولا يقنت الا في النصف الباقى من رمضان. رواه أبو داود
“Bahwasanya Umar Ibn Khattab berinisiatif mengumpulkan masyarakat agar shalat tarawih bersama (dengan imam) Ubay Ibn Ka’b, maka beliau shalat tarawih bersama mereka selama 20 malam, dan beliau tidak berdoa qunut kecuali dalam separuh yang kedua (malam 16 Ramadan hingga seterusnya),” (HR. Abu Dawud).
Kedua, Al-Imam Al-Baihaqi di dalam kitabnya Ma’rifatus Sunani wal Atsar dan As-Sunanul Kubro pada Bab “Man Qaala Laa Yaqnut fil Witri Illaa Fin Nishfil Akhiri Min Ramadan” (Bab komentar Orang-orang yang tidak berqunut kecuali pada pertengahan terakhir bulan Ramadan) menyebutkan beberapa riwayat, di antaranya Al Imam Al-Syafi’i rahimahullah berkata:
قال الشافعي: ويقنتون في الوتر في النصف الآخر من رمضان، وكذلك كان يفعل ابن عمر، ومعاذ القاري
“Mereka berqunut di dalam shalat witir pada pertengahan akhir bulan Ramadan, seperti itulah yang dilakukan oleh Ibnu ‘Umar dan Mu’adz Al-Qari”
Kedua dalil di atas cukup menjadi hujjah tentang kesunnahan doa qunut pada shalat witir di paruh kedua bulan ramadan. Adapun lafadz bacaan qunut, sama dengan doa qunut subuh yang telah mashyur diamalkan umat Islam. Berikut selengkapnya :
اَللّٰهُمَّ اهْدِنِىْ فِيْمَنْ هَدَيْتَ، وَعَافِنِى فِيْمَنْ عَافَيْتَ، وَتَوَلَّنِىْ فِيْمَنْ تَوَلَّيْتَ، وَبَارِكْ لِىْ فِيْمَا اَعْطَيْتَ، وَقِنِيْ شَرَّمَا قَضَيْتَ، فَاِ نَّكَ تَقْضِىْ وَلاَ يُقْضَى عَلَيْكَ، وَاِ نَّهُ لاَ يَذِلُّ مَنْ وَالَيْتَ، وَلاَ يَعِزُّ مَنْ عَادَيْتَ، تَبَارَكْتَ رَبَّنَا وَتَعَالَيْتَ، فَلَكَ الْحَمْدُ عَلَى مَا قَضَيْتَ، وَاسْتَغْفِرُكَ وَاَتُوْبُ اِلَيْكَ، وَصَلَّى اللهُ عَلَى سَيِّدَنَا مُحَمَّدٍ النَّبِيِّ اْلاُمِّيِّ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ
“Ya Allah semoga Engkau memberikan petunjuk kepadaku sebagaimana orang yang telah Engkau berikan petunjuk, semoga Engkau memberikan keselamatan kepadaku sebagaimana orang yang telah Engkau berikan keselamatan, semoga Engkau memberikan pertolongan kepadaku sebagaimana orang yang telah Engkau berikan pertolongan, semoga Engkau memberikan berkah kepadaku dari hal yang telah Engkau tetapkan, dan hindarkan aku dari kejahatan apa yang Engkau putuskan, sungguh Engkaulah yang memutuskan dan bukan diputuskan, dan sungguh tidak akan hina orang yang Engkau tolong serta tidak akan mulia orang yang memusuhi-Mu, Maha Suci Engkau wahai Tuhan kami dan Maha tinggi Engkau, Maha bagi Engkau segala pujian di atas yang Engkau hukumkan, aku memohon ampun dari Engkau dan aku bertaubat kepada Engkau. Dan semoga Allah mencurahkan rahmat dan sejahtera ke atas junjungan kami Nabi Muhammad, keluarga dan sahabatnya.” (An)








