Belajar dari Senyum Nabi Muhammad SAW
Judul : Senyum Indah Kanjeng Nabi
Penulis : Dr.H. Abdul Wahid
Penerbit : Diva Press
Cetakan : Februari 2016
Tebal : 264
ISBN : 978-602-296-197-0
Kebanyakan umat muslim memahami sosok Nabi Muhammad Saw. sebagai sosok yang serius dalam berdakwah dan bersosial. Sosok yang kaku menghadapi tingkah laku aneh dari umatnya. Nabi yang pemarah saat melihat kesalahan yang dilakukan umat Islam. Jika Anda mengenal sosok Nabi Muhammad Saw. seperti itu maka Anda kurang tepat dalam memahami nabi.
Sisi lain yang jarang diketahui oleh kebanyakan umatnya adalah sesosok Nabi yang suka senyum dan bercanda saat berkomunikasi dengan sahabat-sahabatnya. Sisi inilah yang jarang dikutip, diceritakan bahkan sampai diteladani oleh umat saat ini. Kita lihat saja sebagian umat Islam yang kaku dan mudah marah ketika menyikapi fenomena sosial yang kelihatannya berbeda dengannya. Sedikit-sedikit teriak “Allahu Akbar” sambil menindas orang lain, mengecam kafir, sesat dan lain sebagainya.
Dalam pelajaran-pelajaran yang disampaikan di dalam kelas, murid biasa mendengar kisah nabi yang menyimpan kesedihan dalam memperjuangkan hidup dan menegakkan ajaran Islam. Cerita-cerita yang muncul adalah cerita bagaimana rasulullah ketika dilempar kotoran saat hendak ke masjid atau cerita Rasulullah yang suka menjenguk orang-orang sakit walau dia yang sering memusuhinya. Namun cerita sisi kebahagiaan, momen-momen romantis banyak dialami oleh Rasulullah dan jarang diceritakan.
Dr. H. Abdul Wahid menyajikan buku sisi kebahagiaan dan senyum indah Nabi Muhammad Saw. Dengan judul “Senyum Indah Kanjeng Nabi” ia menyajikan cerita-cerita canda tawa dengan penuh kebahagiaan Rasulullah bersama sahabat-sahabatnya. Misalnya saat Nabi Muhammad Saw. menyebut anak unta membuat para sahabatnya tersenyum dan tidak terpikirkan sebelumnya.
Suatu ketika ada salah satu sahabat mendatangi Rasulullah Saw. untuk meminta bantuan kepadanya. Sahabat tersebut meminta unta kepada Rasulullah Saw. agar bisa melanjutkan perjalanan. Mendengar permohonan tersebut dengan nada bergurau Rasulullah Saw. bersabda, “Aku akan memberikanmu seekor anak unta untuk ditunggangi”. Mendengar jawaban Rasulullah Saw., sahabat tersebut kaget dan protes terlebih ia membawa banyak barang. Dengan berpikiran bagaimana mungkin bisa menunggangi anak unta, seraya bertanya “Ya Rasulullah, apa yang bisa saya lakukan dengan seekor anak unta?” (hlm. 33)
Rasulullah menjawab, “Aku tidak berkata anak unta itu masih kecil. Bukankah unta yang sudah besar juga masih dikatakan anak unta?” (HR. Tirmidzi dan Abu Dawud). Mendengar jawaban Rasulullah Saw., ia pun tersenyum. Hal itu juga terjadi saat Ummu Aiman ketika datang kepada Rasulullah Saw. untuk meminta tunggangan. “Baik aku akan menunggangkanmu pada seekor anak unta” jawab Rasulullah seraya bergurau.
Saat bertemu dengan orang pedalaman suku Arab Badui Rasulullah Saw. tertawa melihat tingkah laku mereka. Rasulullah Saw. merespon tingkah lakunya dengan senyuman bukan kejengkelan apalagi dengan kemarahan. Kejadiannya saat orang suku badui memasuki masjid dan bertemu kepada Rasulullah Saw. yang sedang duduk bersama para sahabatnya. Tiba-tiba orang Arab Badui tersebut berkata dalam rangkaian kata berbentuk doa, “Ya Allah, ampunilah aku dan Muhammad saja. Jangan Engkau ampuni yang lain, yang sedang bersama kami”. Mendengar perkataan tersebut, Rasulullah malah tersenyum bukan malah memarahinya.
Beberapa kali orang Arab Badui membuat Rasulullah Saw. membuat tersenyum bahkan hingga tertawa hingga tampak gigi gerahamnya (Hr. Ahmad dan Bukhari). Pada suatu kesempatan, orang Arab Badui mendengarkan nasihat dan ceramah yang disampaikan Rasulullah Saw. Saat itu beliau sedang cerita tentang salah seorang penduduk srga yang meminta izin kepada Allah Swt. untuk bercocok tanam di dalam surge. Setelah mendengarkan permohonan tersebut, Allah Swt. bertanya kepadanya “Bkankah di dalam surge kau sudah bisa mendapatkan segala hal yang kau mau?” “Benar, Tuhan. Akan tetapi saya ingin bercocok tanam di dalam surge ini” jawab orang tersebut.
Cerita Rasulullah Saw. tersebut didengarkan oleh orang Arab Badui. Secara tiba-tiba, salah seorang di antaranya mereka memberikan pernyataan “Demi Allah, orang yang minta izin untuk bercocok tanam itu pasti orang Quraisy atau orang Anshar. Sebab, merekalah orang-orang yang gemar bercocok tanam. Sedangkan kami bukan orang yang gemar bercocok tanam”. Perkataan orang Arab Badui tersebut membuat Rasulullah Saw. tertawa karena terdengar polos dan lucu (hlm. 45).
Masih banyak cerita tentang keceriaan Rasululullah Saw. semasa beliau bersosial dengan para sahabatnya. Cerita-cerita Rasulullah dengan senyum ketika menghadapi fenomena sosial yang ada seharusnya menjadi refleksi bagi umat Islam saat ini khususnya di Indonesia. Bahwa Islam hadir dengan wajah yang ramah, penuh dengan kebahagiaan dan menghadapi fenomena sosial dengan pikiran luas. Bukan sebaliknya, para kaum muslim menampilkan Islam yang keras, marah dan kaku dalam menghadapi realitas sosial yang berbeda dengan apa yang dia yakini.
Peresensi Nur Sholikhin, Alumni Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta
Demikian Belajar dari Senyum Nabi Muhammad SAW. Semoga bermanfaat.








