Ada pula riwayat mengenai shalat tarawih 11 raka’at di masa shahabat ‘Umar bin Khathab radhiyallahu ‘anhu. Disebutkan dalam Muwaththo’ Imam Malik riwayat sebagai berikut:
وَحَدَّثَنِى عَنْ مَالِكٍ عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ يُوسُفَ عَنِ السَّائِبِ بْنِ يَزِيدَ أَنَّهُ قَالَ أَمَرَ عُمَرُ بْنُ الْخَطَّابِ أُبَىَّ بْنَ كَعْبٍ وَتَمِيمًا الدَّارِىَّ أَنْ يَقُومَا لِلنَّاسِ بِإِحْدَى عَشْرَةَ رَكْعَةً قَالَ وَقَدْ كَانَ الْقَارِئُ يَقْرَأُ بِالْمِئِينَ حَتَّى كُنَّا نَعْتَمِدُ عَلَى الْعِصِىِّ مِنْ طُولِ الْقِيَامِ وَمَا كُنَّا نَنْصَرِفُ إِلاَّ فِى فُرُوعِ الْفَجْرِ.
Telah menceritakan kepadaku dari Malik dari Muhammad bin Yusuf dari As-Sa`ib bin Yazid dia berkata, “Umar bin Khatthab memerintahkan Ubay bin Ka’ab dan Tamim Ad Dari untuk mengimami orang-orang, dengan sebelas rakaat.” As Sa`ib berkata, “Imam membaca dua ratusan ayat, hingga kami bersandar di atas tongkat karena sangat lamanya berdiri. Dan kami tidak keluar melainkan di ambang fajar.” (HR. Malik dalam Al Muwaththo’ 1/115)
Hanya saja, penduduk kota Madinah sedikit berbeda dengan penduduk Mekah. Asy-Syafi’i telah bersaksi bahwa pada zamannya penduduk Mekah salat tarawih sebanyak 20 rakaat. Ini juga disaksikan penduduk Madinah. Sudah diketahui bahwa salat tarawih di zaman itu selalu disertai jeda istirahat setiap selesai mengerjakan 4 rakaat yang disebut dengan istilah tarwihah. Malahan, dari jeda istirahat ini nama salat tarawih diambil, karena tarawih adalah bentuk jamak dari tarwihah itu.
Oleh karena jeda istirahat dilakukan setiap selesai mengerjakan empat rakaat, sementara jumlah rakaat tarawih yang dikerjakan ada 20 rakaat, berarti mereka melakukan jeda istirahat sebanyak empat kali. Waktu jeda istirahat ini cukup lama, sehingga penduduk Mekah masih sempat melakukan tawaf 7 kali putaran dan salat dua rakaat. Penduduk Madinah melihat ini. Oleh karena mereka di Madinah tidak mungkin mengerjakan tawaf, maka mereka mengganti tawaf dan dua rakaat yang dilakukan penduduk Mekah dengan salat empat rakaat.
Karena ada empat kali tarwihah, maka mereka melakukan salat empat rakaat sebanyak empat kali sehingga mereka menambah rakaat salat tarawih sebanyak 16 rakaat. Jadi totalnya mereka mengerjakan 20 + 16 = 36 rakaat. An-Nawawi berkata;
المجموع شرح المهذب (4/ 33)
وَأَمَّا مَا ذَكَرُوهُ مِنْ فِعْلِ أَهْلِ الْمَدِينَةِ فَقَالَ أَصْحَابُنَا سَبَبُهُ أَنَّ أَهْلَ مَكَّةَ كَانُوا يَطُوفُونَ بَيْنَ كُلِّ تَرْوِيحَتَيْنِ طَوَافًا وَيُصَلُّونَ رَكْعَتَيْنِ وَلَا يَطُوفُونَ بَعْدَ التَّرْوِيحَةِ الْخَامِسَةِ فَأَرَادَ أَهْلُ الْمَدِينَةِ مُسَاوَاتَهُمْ فَجَعَلُوا مَكَانَ كُلِّ طَوَافٍ أَرْبَعَ رَكَعَاتٍ فَزَادُوا سِتَّ عَشْرَةَ رَكْعَةً وَأَوْتَرُوا بِثَلَاثٍ فَصَارَ الْمَجْمُوعُ تِسْعًا وَثَلَاثِينَ
“Adapun riwayat yang mereka ceritakan terkait amalan penduduk Madinah, ulama yang semadzhab dengan kami menjelaskan sebabnya (sebagai berikut). Penduduk Mekah melakukan tawaf di antara dua tarwihah dan melakukan salat dua rakaat. Namun mereka tidak melakukan tawaf pada tarwihah kelima. Maka penduduk Madinah ingin menyamai mereka sehingga mereka melakukan salat empat rakaat sebagai kompensasi tawaf tersebut. Akibatnya, mereka menambah 16 rakaat dan melakukan salat witir 3 rakaat. Totalnya menjadi 39 rakaat”
Akhirnya inilah yang menjadi amalan penduduk Madinah sebagaimana yang diriwayatkan dari imam Malik. Ibnu Abdil Hadi berkata;
شرح كتاب الصيام من المحرر لابن عبدالهادي (ص: 51)
وقال مالك: أدركت الناس يصلون في المدينة ستاً وثلاثين ركعة
“Malik berkata, “aku mengalami masa orang-orang di madinah yang salat sebanyak 36 rakaat”
Ini pula yang difatwakan Imam Malik terkait jumlah rakaat salat tarawih, dan itu pula yang menjadi madzhabnya. Ketika mereka mendapati riwayat bahwa Nabi SAW kadang-kadang berwitir dengan 3 rakaat, sementara di lain waktu beliau berwitir 5 rakaat maka mereka mereka pun menutup salat witir karang-kadang 3 rakaat sehingga totalnya 39 rakaat, dan kadang-kadang menutupnya dengan 5 rakaat sehingga totalnya 41 rakaat. Demikianlah asal-usul pendapat salat tarawih 36 rakaat.
Sampai di sini bisa disimpulkan, bahwa ikhtilaf fikih di masa generasi tabi’ut tabi’in dan sesudahnya adalah perbedaan jumlah rakaat antara 20 ataukah 36 rakaat. Waktu itu belum dikenal pendapat 8 rakaat untuk salat tarawih.
(Penulis: Asimun Ibnu Mas’ud)








