Qunut Shubuh dan Stigma Muhammadiyah Ahli Bid’ah

Posted on

Oleh: Menachem Ali, Dosen Airlangga University.

Ormas Muhammadiyah menghargai 4 mazhab ortodoks, yakni mazhab Hanafi, mazhab Maliki, mazhab Syafi’i dan mazhab Hanbali. Namun, ormas Muhammadiyah tidak ipse dixit terhadap mazhab tertentu dari salah satu mazhab ortodoks tersebut.

Keputusan Tarjih Muhammadiyah adalah keputusan yang mengikat semua warga Muhammadiyah apapun keputusan Tarjih yang telah ditetapkan; dan keputusan itu sifatnya ijtihadi dan kontekstual, bukan bersifat mengikat selama-lamanya di luar konteks. Oleh sebab itulah, keputusan Tarjih Muhammadiyah itu berlaku pada zamannya, dan keputusan Tarjih tersebut tidak otomatis berlaku di luar zamannya. Artinya, keputusan Tarjih Muhammadiyah berlaku temporal, dan bukan berlaku permanen.

Metode ijtihadi ormas Muhammadiyah yang khas inilah yang sering tidak dipahami oleh warga non-Muhammadiyah. Ormas Muhammadiyah memahami bahwa fiqh itu bersifat ijtihadi dan sesuai dengan semangat zamannya yang selalu berpijak pada aspek sosio-kultural, dan disesuaikan dengan nas yang telah ditarjih.

Pada masa kepemimpinan Imam Syafi’i (Ma’arif), warga Muhammadiyah yang tidak merokok berarti sama dengan Imam Syafi’i (Ma’arif). Sebaliknya, pada masa kepemimpinan Imam Malik (Fajar), warga Muhammadiyah yang merokok berarti sama dengan Imam Malik (Fajar). Dan fatwa haram-nya rokok baru saja dikeluarkan oleh Majelis Tarjih Muhammadiyah pada masa kepemimpinan Prof. Din Syamsuddin. Warga Muhammadiyah telah memahami hal ini.

Inilah dinamika ijtihadi dalam Tarjih ormas Muhammadiyah, sehingga ormas terbesar ke-2 di Indonesia ini tidak pernah menyalahkan atau pun terlalu mudah memberikan label bid’ah atau pun stigmatisasi Ahl Bid’ah terhadap para pengamal aplikasi fiqh di luar warga non-Muhammadiyah.

Kini, rokok dikategorikan haram menurut Tarjih Muhammadiyah dan hanya bagi warga Muhammadiyah. Itu pun kalau mereka mau taat isi fatwa keputusan Tarjih Muhammadiyah. Hal ini sebagaimana fatwa yang berlaku di kalangan warga NU, yang menyatakan bahwa rokok itu makruh bagi warga NU. Kedua fatwa dari ormas Muhammadiyah dan NU tersebut tidak perlu saling dipertentangkan, dan juga tidak perlu saling dibentur-benturkan, karena kedua fatwa tersebut merupakan ijtihadi; sebagaimana anjing itu “najis” menurut mazhab Syafi’i dan “tidak najis” menurut mazhab Maliki.

Apakah Anda mau membuat kegaduhan untuk membentur-benturkan antara penganut mazhab Syafi’i dan penganut mazhab Maliki soal anjing? Apakah Anda mau membentur-benturkan dan membuat kegaduhan antara warga Muhammadiyah dan warga NU soal rokok atau pun doa Qunut Shubuh?

Ini merupakan buku cetak tua beraksara Jawa yang berisi keputusan Tarjih Muhammadiyah era 70-an. Pada cover tersebut tertulis: “Pasalatan manut Panitinipun Majlis Tarjih Muhammadiyah. Kawedalaken dening Ngaisiyah Dhaerah Surakarta (“Tata Cara Sholat menurut Keputusan Majlis Tarjih Muhammadiyah. Dikeluarkan oleh Organisasi Aisiyah Daerah Surakarta/Solo”).

Baca Juga >  Apa Rahasia Syariat Menyembelih Hewan dalam Islam?

Di dalamnya, justru tertulis doa Qunut Shubuh. Jadi kalau buku Tarjih Muhammadiyah tersebut menyebutkan adanya doa Qunut Shubuh, kira-kira Ormas Muhammadiyah saat itu lebih dekat pada mazhab apa? Apakah ormas Muhammadiyah menyatakan bahwa doa Qunut Shubuh itu bid’ah atau keputusan ijtihadi pada zamannya?

Dalam Tarikh Tasyri’ Muhammadiyah, keputusan Tarjih Muhammadiyah baru menghapus atau merevisi Qunut Subuh pada Muktamar Wiradesa Pekalongan tahun 1972. Itu artinya, ormas Muhammadiyah sejak era KH. Ahmad Dahlan dan era awal2 seperti periode KH. Mas Mansur masih mentradisikan Qunut Shubuh. Bukti adanya doa Qunut Shubuh tersebut dapat ditelusuri pada buku cetakan Himpunan Putusan Tarjih (HPT) tahun 1967 dan juga Himpunan Putusan Tarjih (HPT) tahun 1971. Sementara itu, Himpunan Putusan Tarjih (HPT) cetakan ketiga tahun 1974 yg beredar hingga sekarang sudah tdk mencantumkan atau menghilangkan fatwa Tarjih Muhammadiyah tentang doa Qunut Shubuh yang pernah dicantumkan di edisi-edisi sebelumnya.

Bila pada mazhab Syafi’i dikenal adanya “qaul qadim” dan “qaul jadid” dari fatwa Imam Syafi’i; maka bagi ormas Muhammadiyah juga dikenal adanya “qaul qadim” dan “qaul jadid” menurut Tarjih Muhammadiyah berkaitan dengan persoalan doa Qunut Shubuh.

Oleh karena itu, agar tidak terjadi fitnah terhadap pribadi saya, maka saya akan menjelaskan sanad keguruan saya tersebut: saya berguru kepada KH. Abdullah Wasi’an, dan KH. Abdullah Wasi’an berguru kepada KH. Mas Mansur, tokoh Muhammadiyah era pra-70-an.

Tulisan penting ini terpaksa saya tulis karena ada orang-orang yang sengaja membuat gegaduhan di Youtube atau medsos soal Qunut Shubuh itu dinyatakan sebagai bid’ah dan bid’ah itu otomatis dzalalah (sesat), dan sesat itu fin nar (di neraka). Dalam konteks ini, tidak ada bid’ah hasanah; serta ormas Muhammadiyah dan ormas NU sengaja dibentur-benturkan oleh kelompok Takfiri, dan mereka gemar mentahzir kelompok lain dengan sebutan Ahl Bid’ah.

Bila qunut Shubuh dianggap bid’ah oleh kelompok Takfiri tersebut, maka secara terang-terangan mereka telah menstigmatisasi ormas Muhammadiyah sebagai ormas Ahl Bid’ah.

15 Juli 2019