prof Mahmud Yunus

Prof Mahmud Yunus Minangkabau dan Tarawih 8 Rakaat

Posted on

Al-‘Allamah Prof. Mahmud Yunus, ‘alim besar di Minangkabau, mengupas masalah Tarawih dalam kitabnya yang berjudul “al-Masa’il al-Fiqhiyyah ala al-Madzahib al-Arba’ah” (1956). Kitab ini adalah muqarrar pada Universitas Darul Hikmah di Bukittinggi dekade 1950-an.

Setelah menyebutkan bahwa Empat Madzhab fiqh muktabar, yaitu Hanafi, Maliki, Syafi’i, dan Hambali, telah ittifaq (sepakat) bahwa Shalat Tarawih yaitu 20 rakaat (dengan salam setiap dua rakaat), kecuali satu qaul Maliki yaitu 36 rakaat.

Prof. Mahmud Yunus kemudian mengemukakan adanya pendapat gharib (aneh) yang menyalahi amal tersebut dan, hematnya, menyebabkan perpecahan. Itu semua bermula dari penetrasi pemahaman yang terdapat dalam Kitab Subulus Salam.

KLIK DISINI untuk mengirim WA (tanpa harus menyimpan nomor terlebih dahulu) ke Call Center NU Care LAZISNU DIY, untuk konsultasi/tanya-tanya.

Dalam kitab itu dinyatakan bahwa Shalat Tarawih yang dikerjakan selama ini (tentunya 20 rakaat) adalah bid’ah. Pengarang kitab Subulus Salam menegaskan shalat Nabi tersebut ialah 8 rakaat saja. Pendapat gharib ini kemudian dikritisi dengan sangat apik oleh ‘allamah Mahmud Yunus dengan tiga intiqat tajam. Wallahu a’lam

Baca Juga >  Indahnya Pagimu Dimulai Shalat Subuh dan Berdzikir Tasbih

(Penulis: Apria Putra, Pascasarjana UIN Jakarta)