LBM PWNU DIY: Ini Tata Cara Shalat Idul Fitri di Rumah

LBM PWNU DIY: Ini Tata Cara Shalat Idul Fitri di Rumah

Posted on

Lembaga Bahtsul Masail Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Daerah Istimewa Yogyakarta mengeluarkan surat edaran No: 03.027/LBM-DIY/V/2020 tentang tata cara pelaksanaan shalat idul fitri di rumah. Surat edaran ini ditandatangani di Yogyakarta, 10 Mei 2020, oleh Ketua LBM PWNU DIY KH Fajar Abdul Bashir dan sekretarisnya KH Anis Masduqi.

Dalam surat edaran ini, kata Kiai Fajar, LBM PWNU DIY juga menjelaskan tentang hukum shalat idul fitri, waktu shalat idul fitri, kesunnahan shalat idul fitri, dan jumlah rakaat shalat idul fitri.

KLIK DISINI untuk mengirim WA (tanpa harus menyimpan nomor terlebih dahulu) ke Call Center NU Care LAZISNU DIY, untuk konsultasi/tanya-tanya.

Berikut ini isi surat edaran selengkapnya.

1. HUKUM SHALAT IDUL FITRI

Shalat idul fitri menurut Imam Syafi’i dan Imam Malik sunah mu’akad, sedangkan menurut Imam Ahmad bin Hanbal hukumnya fardlu kifayah. Shalat Idul Fitri disunahkan bagi setiap muslim baik  laki-laki maupun perempuan.

2. WAKTU SHALAT IDUL FITRI

Waktu shalat Idul Fitri adalah tanggal 1 Syawal dimulai dari setelah terbitnya matahari sampai tergelicirnya matahari (zawal) atau masuk waktu Dzuhur. Shalat idul fitri dianjurkan diqadla’ (diulang)di hari berikutnya jika seseorang tidak bisa melaksanakan pada hari pertama bulan Syawal.

(ووقت صلاة العيدين ما بين طلوع الشمس وزوالها) أي الزمن الذي بين ذلك

Artinya: “Waktunya shalat idul fitri adalah di antara terbit dan tergelincirnya matahari, maksudnya waktu antara keduanya”. (Hasyiyah Al-Bajuri: 1/430)

ويسن قضاءها ان فاتت لانه يسن قضاء النفل المؤقت ان خرج وقته

Artinya: “Disunahkan men-qadla’ shalat idul fitri jika tertinggal pelaksanannya keluar dari waktnya. Karena dalam hukum Islam disunahkan meng-qadla’ shalat sunah yang mempunyai waktu jika tertinggal keluar dari waktunya”. (Hasyiyah Al-Bajuri: 1/431)

3. KESUNAHAN SEBELUM SHALAT IDUL FITRI

  1. Disunahkan makan terlebih dahulu sebelum melaksanakan shalat Idul Fitri.
  2. Disunahkan mandi sebelum melaksanakan shalat idul fitri, meskipun ia shalat di rumah. Sebab pada hari idul fitri adalah hari berhias dan hari bahagia.
  3. Disunahkan berhias dengan memakai pakaian yang paling baik.

(Lihat Nihayatuzzein: 108)

4. JUMLAH REKAAT SHALAT IDUL FITRI

Para ulama sepakat (ijma’) bahwa jumlah rekaat shalat idul fitri adalah 2 rekaat dan dilaksanakan sebelum khutbah. Hal ini beda dengan shalat jum’at yang dilaksanakan setelah khutbah.

عن ابن عباس رضي الله عنهما: “أن النبي صلى الله عليه وسلم خرج يوم الفطر فصلى ركعتين لم يصلِّ قبلهما ولا بعدهما. متفق عليه في الصحيحين

Artinya: Dari Ibnu Abbas r.a: “Sesungguhnya Nabi Muhammad SAW keluar pada hari fitri, kemudian shalat dua rekaat, tidak ada shalat lain baik sebelum dan sesudah dua rekaat tersebut”. (HR. Bukhari-Muslim)

Syech Ibrahim bin Ahmad Al-Bajuri berkata:

(وهي) أي صلاة العيد (ركعتان) أي بالاجماع

Artinya: “Shalat Idul Fitri itu dua rekaat dengan kesepakatan ulama’ (ijma’)”. (Hasyiyah al-Bajuri: 1/431)

5. ADZAN DAN IQOMAH

Pada shalat sunah idul fitri tidak dianjurkan adzan dan iqomah. Diceritakan dari Jabir r.a.: “Aku shalat Id bersama Nabi Muhammad SAW berkali-kali. Nabi melaksanakan shalat id dahulu sebelum khutbah tanpa ada adzan dan iqomah”. (HR. Muslim)

6. SYARAT IDUL FITRI

Syarat shalat idul fitri seperti syarat shalat pada umumnya, yaitu Islam, suci dari hadats kecil dan hadats besar, dan menutup aurat.

7. BERJAMAAH SHALAT ID DAN SHALAT SENDIRI

Shalat idul fitri adalah shalat sunah yang pelaksanaannya disunahkan dengan cara berjamaah. Akan tetapi boleh juga dilaksanakan sendiri tanpa berjamaah seperti shalat sunah lainnya.

وتشرع جماعة ولمنفرد ومسافر وحر وعبد وحننثي وامرأة. (ولمنفرد) فلا تشترط عليها الجماعة كما هو ظاهر ولا تسن الخطبة للمنفرد.

Artinya: “Shalat idul fitri disyariatkan dengan cara berjamaah. Juga disyariatkan bagi perseorangan, musafir, orang merdeka, hamba sahaya, khuntsa, dan wanita. Dan bagi perseorangan tidak disyaratkan berjamaah dan juga tidak disunahkan khutbah”. (Hasyiyah al-Bajuri: 1/430)

8. TATA CARA SHALAT IDUL FITRI

  1. Niat shalat Idul fitri di dalam hati bersamaan saat takbiratul ihram. Adapaun niat shalat idul fitri sebagai berikut:

أُصَلِّى سُنَّةَ عِيْدِ اْلفِطْرِ رَكْعَتَيْنِ مَأْمُوْمًا \ إِمَامًا لله تَعَالى

  1. Takbiratul Ihram  الله أكبر
  2. Takbir lagi 7 kali.

Takbir 7 kali pada rekaat pertama setelah takbiratul ihram adalah sunah. Jika terlupakan atau sengaja tidak takbir 7 kali,shalat idul fitri tetap sah). Disela-sela takbir disunahkan berdzikir:

سُبْحَانَ الله وَالْحَمْدُ ِلله وَلاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَالله أَكْبَرُ

  1. Membaca surat al-Fatihah
  2. Membaca surat Al-Qur’an. Membaca surat Al-Qur’an setelah membaca surat Al-Fatihah hukumnya sunah. Surat yang dibaca bisa surat panjang bias surat pendek.
  3. Ruku’ dengan tuma’ninah
  4. I’tidal berdiri dengan tuma’ninah
  5. Sujud pertama dengan tuma’ninah
  6. Duduk di antara sujud dengan tuma’ninah
  7. Sujud ke dua dengan tuma’ninah.
  8. Berdiri dari dari sujud.
  9. Membaca takbir 5 kali. Hukum membaca takbir 5 kali adalah sunah, jika lupa atau sengaja tidak membaca, shalat idul fitri tetap sah dan mendapat pahala.
  10. Membaca surat fatihah
  11. Membaca surat-surat Al-Qur’an. Membaca surat Al-Qur’an setelah membaca surat Al-Fatihah hukumnya sunah.
  12. Rukuk dengan tuma’ninah.
  13. I’tidal berdiri dengan tuma’ninah.
  14. Sujud pertama dengan tuma’ninah.
  15. Duduk di antara dua sujud dengan tuma’ninah.
  16. Sujud kedua dengan tuma’ninah.
  17. Duduk dan membaca at-tahiyaat.
  18. Membaca shalawat kepada Nabi dan keluarga Nabi
  19. Mengucap salam.

9. HUKUM KHUTBAH SHALAT IDUL FITRI

Setelah pelaksanaan shalat idul fitri selesai, maka Imam disunahkan membaca khutbah. Khutbah shalat idul fitri dilaksanakan setelah shalat, karena khutbah bukan merupakan syarat sha shalat idul fitri. Artinya, shalat idul fitri yang dilaksanakan tanpa khutbah adalah sah dan mendapat pahala. Hanya saja dia tidak mendapat pahala sempurna seperti ketika ada khutbahnya.

عن عبدِ اللهِ بنِ السَّائِبِ قال: شَهِدْتُ معَ رسولِ اللَّهِ صلَّى اللَّهُ علَيهِ وسلَّمَ العيدَ، فلمَّا قضَى الصَّلاةَ قالَ : إنَّا نخطُبُ، فمَن أحبَّ أن يجلِسَ للخُطبةِ فلْيجلِسْ، ومَن أحبَّ أن يُذهِبَ فليَذهَبْ

Artinya: Dari Abdullah bin Saaib, ia berkata: Saya menghadiri shalat id Bersama rasulullah SAW. Setelah selesai shalat, Nabi bersabda: “Aku akan berkhutbah. Bagi siapa ingin duduk mendengarkan khutbah, maka duduklah. Dan bagi siapa tidak ingin mendengarkan khutbah, maka pergilah”. (HR. Abu Dawud)

Berdasarkan hadits ini, para ulama menyimpulkan hukum bahwa khutbah shalat id tidak menjadi syarat sahnya, melainkan suatu kesunahan tersendiri. Hal ini tertera pada keterangan dalam kitab ‘inul ma’bud Syarh Sunan Abu Dawud:

Baca Juga >  Shalat Idul Fitri, Antara Murni Ibadah dan Momen Budaya Kumpul

(فلما قضى الخ…) وفيه أن الجلوس لسماع خطبة العيد غير واجب. قال في المنتقي: وفيه بيان أن الخطبة سنة. اذ لو وجبت وجب الجلوس لها…. وقال النووي: اتفق أصحابنا على أنه لو قدمها على الصلاة  صحت ولكنه تاركا للسنة وفوتا للفضيلة. بخلاف خطبة الجمعة فإنه يشترط تقدم خطبتها عليها لأن خطبة الجمعة واجب وخطبة العيد منذوبة.

Artinya: “(Di dalam hadits di atas menjelaskan bahwa sesungguhnya duduk untuk mendengar khutbah tidak wajib. Syech Almuntaqi berkata: Haidts di atas menjelaskan akan kesunahan khutbah. Sebb jika khutbah wajib niscaya duduk mendengarkan khutbah juga wajib. Syech An-Nawawi berkata: Ulama Syafi’iyyah sepakat bahwa jika khutbah idul fitri didahulukan atas shalat Id, maka sah-sah saja, akan tetapi meninggalkan kesunahan dan keutamaan. Hal ini beda dengan khutbah Jum’at, maka disyaratkan khutbah Jum’at didahulukan, sebab khutbah Jum’at itu wajib sedangkan khutbah shalat Id itu sunah”. (‘Ainul Ma’bud Syarh Sunan Abu Dawud: 17)

الفقه الإسلامي وأدلته – (2 / 529)

ودليل سنية الخطبة: التأسي بالنبي صلّى الله عليه وسلم وبخلفائه الراشدين فلا يجب حضورها ولا استماعها، لما روى عطاء عن عبد الله بن السائب قال: «شهدت مع النبي صلّى الله عليه وسلم العيد، فلما انقضت الصلاة، قال: إنا نخطب، فمن أحب أن يجلس للخطبة، فليجلس، ومن أحب أن يذهب فليذهب»  ولو ترك الخطبة جازت صلاة العيد.

 Artinya: “Dalil sunahnya khutbah shalat Id adalah berpegangan pada hadits Nabi Muhammad SAW dan para khulafa’urrasyidin, yang tidak mewajibkan menghadiri dan mendengarkan khutbah shalat id. Hal ini berdasarkan hadits yang dririwayatkan oleh Atho’ dari Abdullah bin Saaib r.a: “Aku akan berkhutbah. Bagi siapa ingin duduk mendengarkan khutbah, maka duduklah. Dan bagi siapa tidak ingin mendengarkan khutbah, maka pergilah”. Dan jika seseorang meninggalkan khutbah, maka boleh (sah) shalat Id-nya. (Fikh al-Islami wa adilatuhu: 2/529)

9. CONTOH TEKS KHUTBAH SINGKAT BAHASA ARAB

  • Khutbah Pertama

اللهُ اَكْبَرْ (3×) اللهُ اَكْبَرْ (3×) اللهُ اَكبَرْ (3×)

اللهُ اَكْبَرْ كُلَّمَا هَلَّ هِلاَلٌ وَاَبْدَرَ اللهُ اَكْبَرْ كُلَّماَ صَامَ صَائِمٌ وَاَفْطَرْ اللهُ اَكْبَرْكُلَّماَ تَرَاكَمَ سَحَابٌ وَاَمْطَرْ وَكُلَّماَ نَبَتَ نَبَاتٌ وَاَزْهَرْوَكُلَّمَا اَطْعَمَ قَانِعُ اْلمُعْتَرْ. اللهُ اَكْبَرْ اللهُ اَكْبَرْ اللهُ اَكْبَرْ لاَ اِلَهَ اِلاَّ اللهُ وَاللهُ اَكْبَرْ اللهُ اَكْبَرْ وَ للهِ اْلحَمْدُ. اَلْحَمْدُ للهِ الَّذِى جَعَلَ لِلْمُسْلِمِيْنَ عِيْدَ اْلفِطْرِ بَعْدَ صِياَمِ رَمَضَانَ وَعْيدَ اْلاَضْحَى بَعْدَ يَوْمِ عَرَفَةَ. اللهُ اَكْبَرْ (3×) اَشْهَدُ اَنْ لاَ اِلَهَ اِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ لَهُ اْلمَلِكُ اْلعَظِيْمُ اْلاَكْبَرْ وَاَشْهَدٌ اَنَّ سَيِّدَناَ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الشَّافِعُ فِى اْلمَحْشَرْ نَبِيَّ قَدْ غَفَرَ اللهُ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ وَمَا تَأَخَّرَ. اللهُمَّ صَلِّ عَلىَ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى اَلِهِ وَاَصْحَابِهِ الَّذِيْنَ اَذْهَبَ عَنْهُمُ الرِّجْسَ وَطَهَّرْ.

اللهُ اَكْبَرْ. اَمَّا بَعْدُ. فَيَا عِبَادَاللهِ اِتَّقُوااللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ اِلاَّ وَاَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ. أيها المؤمنون: اِتَّقُوا اللهَ فِي السِّرِ وَاْلعَلَنِ وَاجْتَنِبُوْا الفَوِاحِشَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، وَاعْلَمُوْا أَنَّ اْليَوْمِ عَمَلٌ وَلاَ حِسَابَ وَغَدًا حِسَابٌ وَلاَ عَمَلَ، قَالَ اللهُ تَعَالى: ﴿ فَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ خَيْرًا يَرَهُ * وَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ شَرًّا يَرَهُ ﴾ (الزلزلة: 7، 8). وقال تعالى ايضا: مَنْ عَمِلَ صَالِحًا مِنْ ذَكَرٍ أَوْ أُنْثَى وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلَنُحْيِيَنَّهُ حَيَاةً طَيِّبَةً وَلَنَجْزِيَنَّهُمْ أَجْرَهُمْ بِأَحْسَنِ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ.

بَارَكَ الله ُلِيْ وَلَكُمْ فِيْ القُرْآنِ العَظِيْمِ وَنَفَعَنيِ وَاِيّاَكُمْ بِمَافِيْهِ مِنَ الذِّكْرِ الحَكِيْمِ. وَتَقَبَّلَ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ اِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ العَلِيْمُ. وَقُلْ رَبِّ اغْفِرْ وَارْحَمْ وَاَنْتَ خَيْرُ الرَّاحِمِيْنَ

Setelah selesai khutbah pertama, duduk sebentar untuk memisah dengan khutbah kedua.

  • Khutbah Kedua

 الله أكبر – الله أكبر – الله أكبر – الله أكبر – الله أكبر – الله أكبر – الله أكبر كَبِيْرًا وَالحَمْدُ لِلّهِ كَثِيْرًا وَسُبْحَانَ اللهِ بُكْرَةً وَأَصِيْلاً لاَ إِلَهَ إِلاّاَلله ُوَحْدَهُ صَدَقَ وَعْدَهُ وَنَصَرَ عَبْدَهُ وَأَعَزَّ جُنْدَهُ وَهَزَمَ الأَحْزَابَ وَحْدَهُ لاَ إِلَهَ إِلاّاَلله ُوَلاَ نَعْبُدُ إِلاَّ إِيَّاهُ مُخْلِصِيْنَ لَهُ الدِّيْنَ وَلَوْكَرِهَ المُشْرِكُوْنَ وَلَوْكَرِهَ الكاَفِرُوْنَ وَلَوْكَرِهَ المُناَفِقُوْنَ. الحَمْدُ لِلّهِ حَمْداً كَثِيْرًا كَماَ أَمَرَ. وَأَشْهَدُ أَنْ لاَإِلَهَ إِلاَّ الله ُوَحْدَهُ لاَشَرِيْكَ لَهُ إِرْغاَماً لِمَنْ جَحَدَ بِهِ وَكَفَرَ. وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَناَ مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ سَيِّدُ الخَلَآئِقِ وَالبَشَرِ. صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ مَصَابِيْحَ الغُرَرِ.

أَمَّا بَعْدُ: فَيآأَيُّهاَالحاَضِرُوْنَ. أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ المُتَّقُوْنَ. وَافْعَلُوْاالخَيْرَ وَاجْتَنِبُوْآ عَنِ السَّيِّآتِ. وَاعْلَمُوْآ أَنَّ الله َأَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ فِيْهِ بِنَفْسِهِ وَثَنَّابِمَلَآئِكَةِ المُسَبِّحَةِ بِقُدْسِهِ. فَقاَلَ تعالى فِيْ كِتاَبِهِ الكَرِيْمِ أَعُوْذُ باِلله ِمِنَ الشَّيْطاَنِ الرَّجِيْمِ. بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَحِيْمِ. إِنَّ اللهَ وَمَلَآئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيْ يَآأَيُّهاَالَّذِيْنَ آمَنُوْآ صَلُّوْآ عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا. فَأَجِيْبُوْآالله َاِلَى مَادَعَاكُمْ وَصَلُّوْآ وَسَلِّمُوْأ عَلَى مَنْ بِهِ هَدَاكُمْ. اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِناَ مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصِحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ. وَعَلَى التَّابِعِيْنَ وَتَابِعِيْ التَّابِعِيْنَ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ. وَارْضَ الله ُعَنَّا وَعَنْهُمْ بِرَحْمَتِكَ يَاأَرْحَمَ الراَحِمِيْنَ.

اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالمُؤْمِناَتِ وَالمُسْلِمِيْنَ وَالمُسْلِمَاتِ الأَحْيآءِ مِنْهُمْ وَالأَمْوَاتِ إِنَّكَ سَمِيْعُ قَرِيْبٌ مُجِيْبٌ الدَّعَوَاتِ. اللَّهُمَّ انْصُرْأُمَّةَ سَيِّّدِناَ مُحَمَّدٍ. اللَّهُمَّ اصْلِحْ أُمَّةَ سَيِّدِناَ مُحَمَّدٍ. اللّهُمَّ انْصُرْ أُمَّةَ سَيِّدِناَ مُحَمَّدٍ. اللّهمَّ انْصُرْ مَنْ نَصَرَ الدِّيْنَ. وَاخْذُلْ مَنْ خَذَلَ الدِّيْنَ. وَاجْعَلْ بَلْدَتَناَ إِنْدُوْنِيْسِيَّا هَذِهِ بَلْدَةً تَجْرِيْ فِيْهَا أَحْكاَمُكَ وَسُنَّةُ رَسُوْلِكَ ياَ حَيُّ ياَ قَيُّوْمُ. يآاِلهَناَ وَإِلهَ كُلِّ شَيْئٍ. هَذَا حَالُناَ ياَالله ُلاَيَخْفَى عَلَيْكَ. اللَّهُمَّ ادْفَعْ عَنّاَ الغَلآءَ وَالبَلآءَ وَالوَبآءَ وَالفَحْشآءَ وَالمُنْكَرَ وَالبَغْيَ وَالسُّيُوفَ المُخْتَلِفَةَ وَالشَّدَآئِدَ وَالِمحَنَ ماَ ظَهَرَ مِنْهَا وَماَ بَطَنَ مِنْ بَلَدِناَ هَذاَ خاَصَّةً وَمِنْ بُلْدَانِ المُسْلِمِيْنَ عاَمَّةً ياَ رَبَّ العَالمَيِْنَ. اللَّهُمَّ أَعِزَّ الإِسْلاَمَ وَالمُسْلِمِيْنَ وَأَهْلِكِ الكَفَرَةَ وَالمُبْتَدِعَةِ وَالرَّافِضَةَ وَالمُشْرِكِيْنَ وَدَمِّرْ أَعْدَاءَ الدِّيْنِ. وَاجْعَلِ اللَّهُمَّ وِلاَيَتَنَا فِيْمَنْ خَافَكَ وَاتَّقَاكَ. رَبَّناَ اغْفِرْ لَناَ وَلِإِخْوَانِناَ الَّذِيْنَ سَبَقُوْناَ بِالإِيمْاَنِ وَلاَ تَجْعَلْ فِيْ قُلُوْبِناَ غِلاًّ لِلَّذِيْنَ آمَنُوْا رَبَّناَ اِنَّكَ رَؤُوفٌ رَحِيْمٌ. رَبَّناَ آتِناَ فِيْ الدُّنْياَ حَسَنَةً وَفِيْ الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِناَ عَذَابَ النَّارِ وَالحَمْدُ لِلّهِ رَبِّ العاَلمَيِنَ

Demikian surat edaran LBM PWNU DIY, semoga bermanfaat. Amiin.