Puasa Dzulhijjah

Larangan Memotong Kuku dan Rambut Bersifat Makruh, bukan Haram

Posted on

Menurut Jumhur ulama (mayoritas ulama), yaitu Malikiyyah, Syafi’iyyah dan Hanabilah, larangan memotong kuku dan rambut ketika masuk sepuluh awal bulan Dzulhijjah, hanya bersifat makruh, tidak sampai haram. Hal ini berdasarkan hadits yang diriwayatkan dari Ummu Salamah –radhiallahu ‘anha-, beliau berkata, Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam- bersabda :

«إِذَا دَخَلَتِ الْعَشْرُ، وَأَرَادَ أَحَدُكُمْ أَنْ يُضَحِّيَ، فَلَا يَمَسَّ مِنْ شَعَرِهِ وَبَشَرِهِ شَيْئًا»

“Jika telah tiba sepuluh (awal bulan Dzulhijjah) dan salah seorang dari kalian hendak berkurban, maka janganlah mencukur rambut dan memotong kukunya sedikitpun.” [ HR. Muslim : 1997 dan selainnya].

KLIK DISINI untuk mengirim WA (tanpa harus menyimpan nomor terlebih dahulu) ke Call Center NU Care LAZISNU DIY, untuk konsultasi/tanya-tanya.

Hadis ini walaupun datang dengan konteks larangan yang asal maknanya haram, namun telah dipalingkan kepada makna makruh dengan hadis Aisyah –radhiallahu ‘anha- dimana beliau berkata :

كُنْتُ أَفْتِلُ قَلَائِدَ هَدْيِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِيَدَيَّ ثُمَّ يَبْعَثُ بِهَا وَمَا يُمْسِكُ عَنْ شَيْءٍ مِمَّا يُمْسِكُ عَنْهُ الْمُحْرِمُ حَتَّى يُنْحَرَ هَدْيُهُ

“Aku pernah mengalungkan tanda hewan kurban Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dengan kedua tanganku, lalu beliau mengirimnya (ke tanah haram). Sesudah itu, beliau tidak lagi menahan diri dari sesuatu, sebagaimana seorang muhrim (sedang ihram) menjauhkan diri daripadanya. Demikianlah hingga beliau menyembelih hewan kurbannya.” [ HR. Al-Bukhari : 5566 dan Muslim : 132 ].

Sisi pendalilan dari hadits di atas, terdapat pada ucapan Aisyah –radhiallahu ‘anha- yang berbunyi : “Sesudah itu, beliau tidak lagi menahan diri dari sesuatu, sebagaimana seorang muhrim (sedang ihram) menjauhkan diri daripadanya. Demikianlah hingga beliau menyembelih hewan qurbannya.” Dalam kalimat ini, Aisyah menyatakan tidak ada larangan, atau pantangan tertentu sampai hewan itu disembelih.

Baca Juga >  Masih Banyak yang Kekurangan, Bagaimana Hukum Haji Sunnah?

Disebutkan dalam kitab “Asnal Mathalib” (1/541) karya Imam Zakariyya Al-Anshari –rahimahullah (w.926 H) :

(وَمَنْ أَرَادَ التَّضْحِيَةَ فَدَخَلَ) عَلَيْهِ (عَشْرُ ذِي الْحِجَّةِ كُرِهَ لَهُ أَخْذُ شَيْءٍ مِنْ أَجْزَاءِ بَدَنِهِ وَشَعْرِهِ حَتَّى يُضَحِّيَ)

“Barang siapa yang hendak berqurban, lalu sepuluh awal bulan Dzul Hijjah telah masuk kepadanya, dimakruhkan baginya untuk mengambil sesuatu dari bagian badannya dan rambutnya sampai dia menyembelih.”

Hikmahnya, agar seluruh badan orang yang berqurban tanpa terkecuali – termasuk rambut dan kuku – bisa menjadi saksi nanti di hari Kiamat terhadap hewan qurban yang disembelih. Dengan demikian, barang siapa yang memotong kuku atau rambutnya ketika hendak berkurban saat telah masuk sepuluh hari awal bulan Dzulhijjah, maka qurbannya tetap sah. Walaupun afdhalnya ditinggalkan, agar ibadah qurbannya lebih sempurna. Kalau Hanafiyyah sendiri membolehkan secara mutlak.

Wallahu a’lam.

Penulis: Abdullah Al-Jirani