Kisah Ramadan Pertamaku di Yangzhou China

ramadan china

Ramadhan kali ini adalah Ramadan pertamaku di negeri orang, dan akan menjadi hari raya idul fitri pertamaku tanpa kehadiran keluarga di Krapyak. 16 Mei 2018 tepatnya, merupakan 1 Ramadan 1439 Hijriah, yang mana seluruh muslim dunia diwajibkan untuk menunaikan ibadah puasa, tidak terkecuali kami, muslim di China yang termasuk penduduk minoritas.

Berbeda dengan di Indonesia yang mana  penyambutan bulan spesial ini penuh suka cita dan kemeriahan, khususnya para santri dan masyarakat sekitar pondok pesantren, dimana saya dibesarkan di sana, jadi terasa banget bedanya. Ramadan di sini terasa biasa saja, karena tak banyak yang tahu apa sih Ramadhan itu.  Ditambah waktu berpuasa kami yang relatif lebih lama sekitar 16 hingga 17 jam perhari. Mulai pukul  02.00 atau 03.00 dini hari hingga pukul 19.00 malam. Rasanya ingin puasa di kampung halaman saja.

Walau begitu, puasa tak menghalangi semangat kami mengeruk keberkahan pada bulan suci ini. Di kampus saya sendiri ada beberapa mahasiswa yang berasal dari negara lain tetapi satu saudara dan satu  keyakinan, diantaranya Maldive dan Kyrgystan. Walau dalam style kehidupan sehari-hari mereka terlihat sangat western di bulan ini, mereka terlihat lebih kalem, entah karena loyo atau memang sedang ingin menjadi pribadi yang tenang pada bulan ini, hehe.

Biasanya nih, momen Ramadan saya di Indonesia banyak diisi dengan berburu takjil, sebut saja saya si Takjil Hunter. Keliling ke masjid-masjid yang cukup populer di Jogja cuma buat makan gratis dan ngumpul bareng temen-temen yang rata-rata anak perantauan, kadang kadang ikut tarawih di sana juga kok, hehe. Lain di sana lain di sini, kami baru menemukan masjid setelah dua bulan tinggal di daerah ini, dan masjidnya itu tidak semegah masjid-masjid yang ada di Indonesia. Sebenarnya kami juga ingin ikut merasakan buka puasa di masjid, ketemu dengan saudara seiman lain, tapi apa boleh buat, padatnya jadwal kampus tak bisa diganggu gugat.

Kegiatan kami tak jauh jauh dari kegiatan kami di hari-hari biasanya, tetap harus masuk kelas dan tetap harus berpuasa. Hanya saja kami biasanya menyisihkan waktu untuk sholat tarawih bersama selepas kelas malam berakhir, kami pun biasa bangun atau tak tidur hingga dini hari untuk kemudian sahur. Momen sahur bersama ternyata bisa menjadi momen yang mengasyikkan bagi saya, asik saja, kumpul, makan bareng sama anak-anak yang dulunya belum kenal dan saling bercengkrama dengan menggunakan bahasa yang bukan bahasa induk kita. Lewat hal hal kecil seperti ini mereka kenal bahwa anak-anak Indonesia itu ramah-ramah dan asik-asik banget.

Sejauh ini puasa di sini bukan sesuatu yang berat bagi kami, walaupun China sendiri bernotabene sebagai negara komunis yang salah satu pilarnya adalah anti-keagamaan, tetapi tetap mereka menghormati kami para pemeluk agama, tak peduli berasal dari agama apapun kami. Hanya saja, mereka  tidak memberi ruang untuk mengadakan acara-acara keagamaan, jadi nggak pernah ada tuh majelis tadarus,  dan ngaji kitab kuning yang terang-terangan di kampus ini, hehe. Bagi saya it’s okay ajalah, toh kami tetep bisa kumpul, ngaji bareng di kamar anak-anak Indonesia lain kok. Selama mereka menghormati kami (menyediakan tempat untuk kami belajar dan gratis)  kami juga seharusnya mengerti dan menghormati negara mereka yang menganut paham komunis.

Begitulah Ramadan yang saya rasakan di sini, masih tersisa dua belas hari lagi untuk terus memperbanyak amalan di bulan Ramadhan. Bagi semua masyarakat Indonesia yang menunaikan ibadah puasa di Tanah Air. Alhamdulillah, perlu disyukuri bahwa Ramadan di negeri sendiri jauh lebih nyaman. Dan bagi para Warga Negara Indonesia yang berpuasa di negeri orang, tetap semangat mengharap keberkahan di bulan suci ini, semoga amal ibadah kita semua pada bulan ini dan bulan-bulan selanjutnya senantiasa diterima dan diridhoi oleh-Nya. Amin

4 Juni 2018

Yangzhou, Jiangsu, China

(Penulis: Az-Zuhaira, asli Krapyak Yogya yang saat ini menjadi mahasiswa di Yangzhou Polytechnic College, Jiangsu, China)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *