trump

Kasus Muslim Uighur dan Gaya Proganda Amerika Rusak Irak-Libya

Posted on

Proxy war ala Amerika dan negara-negara Barat dengan atas nama agama. Ketika teman-teman aktivis minta saya ikut turun berdemo didepan Kedubes China, sebagai bentuk solidaritas atas persekusi dan tindakan kekerasan terhadap rakyat Muslim Uighur di China, pendapat saya adalah sebagai berikut.

Sebelum penyerangan AS ke Irak, berbulan- bulan dunia disiram informasi oleh media elektronik dan media cetak AS tentang pembantaian warga Shi’a and Kurdish di Irak. Presiden Saddam Husein memiliki senjata pemusnah massal (weapons of mass destruction) dan hubungan dengan Al-Qaeda.

Sama dengan masifnya pembunuhan karakter atas Presiden Muammar Gaddafi dari Lybia. Seluruh dunia tersirep oleh propaganda oleh kekejaman Saddam Husein dan Muammar Gaddafi sehingga “merestui” serangan AS ke Irak dan Lybia.

Serangan invasi AS ke Irak dimulai tahun 2003, sekarang 15 tahun kemudian, dimana gerangan senjata pemusnah massal Saddam? Bagaimana kondisi negara Iraq sekarang? Serangan koalisi Barat ke Libya dimulai tahun 2011, setelah rakyat Libya terbebaskan dari diktator M. Gaddafi, bagaimana nasib mereka sekarang?

Masih banyak lagi contoh propaganda massal dan masif dari Barat yang ujung-ujungnya cuma pemusnahan negara musuh AS dan sekutunya, untuk menguasai ladang dan kilang minyak. Demikian pula dengan perang dingin antara AS dan China, mereka sedang menciptakan proxy Islam untuk melawan China.

Dalam situasi krisis perang dingin China vs Barat (AS), sangatlah tidak taktis pemerintah China mengambil resiko untuk membuka front baru dengan negara-negara Islam. Sehingga framing berita secara sistimatis dan masif lebih banyak tipu provokasi daripada fakta kebenaran.

Baca Juga >  Kagum pada Indonesia, Ulama Suriah: Apakah Saya Sedang di Surga?

Jangan mudah termakan provokasi oleh propaganda Barat berupa video, foto-foto dan berita soal penindasan dan persekusi warga Muslim Uighur di China. Lebih baik mencari informasi langsung atas kondisi disana, apakah betul kondisinya seperti yang diberitakan.

Akankah China bergeming dengan cara aksi-aksi demo? Aksi-aksi demo didepan Kedubes China menuntut pengusiran Dubes China, tidak akan sedikit pun merubah kebijakan China.

Akan jauh lebih baik untuk mendapatkan hasil yang lebih, adalah dengan cara mengirim utusan baik ke Kedubes China maupun ke pusat pemerintahan China untuk menyampaikan aspirasi dengan berdialog.

Mohon jangan dilihat persoalan dalam negeri China dari sisi agama saja. Kita sedang menghadapi hal yang mirip di Papua. Kelompok separatis OPM yang didukung oleh negara-negara Barat yang sama berhadapan dengan China.

Kalau kita melakukan aksi militer untuk membersihkan elemen-elemen separatis OPM, negara Barat akan berkoar-koar kita melakukan pelanggaran HAM berat, genoside dan berita-berita horor lainnya. Bahkan akan menekan melalui PBB pemberlakuan Referendum di Papua.

Terus kita berlindung ke blok mana? Ataukah pemerintah kita sudah sanggup melawan kekuatan asing sendiri?

(NN/Umar Fahrudin)