puasa syawwal

Di Saat Silaturahim, Bagaimana Menjalani Puasa Syawwal?

Posted on

Tentang Puasa 6 Hari di Bulan Syawwal

1. Imam Malik dan Abu Hanifah: Makruh.
Alasan dalam kitab Muwatha’ beliau berkata:

ما رأيت أحدا من أهل العلم يصومها

(aku tidak melihat seorang pun dari ahli ilmu melakukannya).

Alasan lain: لئلا يظن وجوبه

KLIK DISINI untuk mengirim WA (tanpa harus menyimpan nomor terlebih dahulu) ke Call Center NU Care LAZISNU DIY, untuk konsultasi/tanya-tanya.

Supaya orang (bodoh) tidak menganggapnya wajib.

2. Imam Syafi’i : Sunnah.
Alasan:

a. Karena hadisnya jelas shahih sharih.
b. Ketetapan sunnah itu tidak terkait dengan apakah banyak orang mengamalkannya atau tidak.
c. Puasa 6 hari di bulan Syawwal itu dianggap wajib agar berbeda dengan puasa sunnah ‘Arafah, ‘Asyura’ dan yang lainnya, bukan wajib secara lidzatihinya. Karena hadisnya jelas sunnah.

Mazhab Syafi’i berpendapat pelaksanaannya yang afdhal diikuti setelah idul fitri berturut-turut (kecuali 1 syawwal). Tetapi umpama dilaksanakan tidak setelah idul fitri langsung (baik di awal maupun di akhir), tetap bisa masuk golongan yang disebut ثم أتبعه ستا (kemudian dilanjutkan 6 hari).

Bagaimana menyikapi perbedaan pendapat antar imam mazhab ini?

Melaksanakan hadis Nabi hendaklah dikaitkan dengan etika, tradisi, kesetaraan, budaya dan sebagainya.

Pelaksanaan puasa sunnah 6 syawwal untuk konteks Indonesia menurut saya lebih baik tidak dilaksanakan setelah Idul Fitri (2-7 Syawwal). Karena jika dilaksanakan 2-7 syawwal itu bertabrakan dengan momen sujarah/sejarah yang masih keliling bertamu maupun menerima tamu. Dalam momen ini, disediakan makan dan minum. Menghormati makanan yang disediakan orang lain dengan mencicipinya lebih utama karena bagian dari etika kemanusiaan dalam bertamu dan bertetangga yang jumlah hadisnya juga banyak.

Baca Juga >  Penjelasan Syekh Alawi al-Maliki tentang Amalan di Malam Nisfu Sya'ban

Selain itu, teks hadisnya pun tidak secara eksplisit mensunnahkan berpuasa 2-7 syawwal, tetapi hanya PENDAPAT di kalangan mazhab Syafi’i saja.

Kedua, jika mengikuti pendapat mazhab Syafi’i (yang afdhal setelah idul fitri [2-7 syawwal]), hadis ini bias jender. Karena secara alamiyah belum tentu perempuan mendapatkannya karena masa haidh perempuan tidak pasti. Bisa jadi masa 2-7 Syawwal itu perempuan sedang haidh. Berarti perempuan tidak dapat dong. Jika mengikuti pendapat ini, ada sebagian perempuan tidak mendapatkannya. Padahal prinsip pahala itu adalah setara (musawah) dalam Islam.

Penulis: Dr Alma’arif, UIN Sunan Kalijaga.