Bolehkah Lewat Depan Orang yang Sedang Sholat?

Posted on

Saat sholat di bandara, stasiun, atau terminal, seringkali kita temui luasan musholla tak memadai. Saat kita terburu-turu mengejar jadwal pesawat, kereta atau bus, kadang kala kita temui seseorang sedang sholat di akses keluar musholla.

Bagaimana menyikapi hal ini?

Info Peluang Usaha Depot Air Minum Isi Ulang by INVIRO

Sebelum masuk ke pembahasan hukum lewat di depan orang yang sedang sholat, saya ingin berbagi sedikit mengenai “sutroh”, atau penanda batas. Karpet musholla bertanda, garis pembatas shaf, ujung sajadah merupakan contoh sutroh, sehingga kita tahu sampai batas mana kita diperbolehkan lewat di depan orang sholat.

Bagaimana jika tak ada sajadah dan semisalnya? Kita bisa menggunakan benda lain sebagai sutroh, meskipun bisa jadi orang lain tak faham apa yang kita maksud.

Saya seringkali meletakkan handphone, bolpoint, atau jam tangan di titik luar dekat posisi sujud, dan saya maksudkan sebagai sutroh. Namun, tetap saja banyak yang segan lewat di depan saya yang sedang sholat.
Sutroh ini salah satu hal yang disunnahkan, di saat tak ada fasilitas penanda batas area sholat kita.

Lalu, bagaimana jika seseorang sholat, dan akses keluar musholla ter-okupasi oleh orang yang sedang sholat?

Dalam situasi normal, jumhur (mayoritas) ulama’ mengatakan HARAM hukumnya melewati depan orang sholat, di dalam batasan sutroh.

Ada satu pendapat yang dinukil dari Imam al-Ghazali, di mana beliau menghukumi MAKRUH. Tetapi Imam an-Nawawi mengatakan, yang shohih (benar) adalah HARAM.

المجموع شرح المهذب

( المسألة الثانية ) إذا صلى إلى سترة حرم على غيره المرور بينه وبين السترة ، ولا يحرم وراء السترة . وقال الغزالي ” يكره ولا يحرم ” والصحيح [ ص: 228 ] بل الصواب أنه حرام ، وبه قطع البغوي والمحققون ، واحتجوا بحديث أبي الجهيم الأنصاري الصحابي رضي الله عنه أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال : { لو يعلم المار بين يدي المصلي ماذا عليه ؟ لكان أن يقف أربعين خيرا له من أن يمر بين يديه } رواه البخاري ومسلم ، وفي رواية رويناها في كتاب الأربعين للحافظ عبد القادر الرهاوي : { لو يعلم المار بين يدي المصلي ماذا عليه من الإثم }

Yang menarik adalah penjelasan dalam Kitab al-Taqrirat al-Sadidah fi al-Masail al-Mufidah (التقريرات السديدة فى المسائل المفيدة), sebuah kitab fiqh kontemporer yang disusun untuk memperjelas beberapa permasalahan fiqh, dalam koridor mazhab al-Syafi’i.

Baca Juga >  Beberapa Pendapat Fiqih Ibnu Hazm yang Mengundang Tawa

Kitab ini disusun oleh Habib Hasan bin Ahmad bin Muhammad bin Salim al-Kaf, salah seorang ulama’ terkemuka masa kita.

Beliau mengatakan ada empat kondisi diBOLEHkannya melintasi orang yang sedang solat, meskipun dalam batas sutrohnya, yaitu:

1. Jika orang solat di masjidil harom (dalam area thowaf), maka boleh bagi orang lain melintasinya.

2. Jika ada seseorang sholat di jalan, atau tempat orang lalu lalang, maka boleh melintas di depannya.
Orang yang sholat di depan pintu keluar masuk, saya pikir masuk kondisi ini.

3. Seandainya ada tempat yang kosong maka boleh bagi seseorang melintasi orang orang yang sedang solat untuk mengisi tempat tersebut.

4. Jika dalam keadaan terpaksa, seperti akan buang hajat ketika solat sedangkan dia berada di shof/barisan, maka boleh baginya untuk melintasi orang orang untuk menunaikan hajatnya.

Semoga bermanfaat.

التقريرات السديدة ج ١ ص ٢٥١

إذا كانت السترة معتبرة فيحرم المرور و نقل الإمام النووي في مجموعه قولا عن الإمام الغزالي : أنه يكره المرور و لا يحرم و في هذا سعة لكثير من الناس

و يندب للمصلي دفع المار

و يجوز المرور مع وجود السترة في أربع حالات :

١. إذا كان في حرم مكة في محل الطواف فقط

٢. إذا قصر المصلي بأن صلى في الطريق

٣. إذا وجد المصلى فرجة فيجوز له المرور لسد الفرجة

٤. إذا كان مضطرا بأن كان يريد قضاء الحاجة أثناء الصلاة

و الله أعلم

Penulis: Dr Khoirul Himmi Setiawan, alumnus Pesantren Raudlatul Ulum Guyangan Pati dan sekarang jadi Peneliti LIPI.