Beberapa Pendapat Fiqih Ibnu Hazm yang Mengundang Tawa

Posted on

Beberapa Pendapat Fiqih Ibnu Hazm yang Mengundang Tawa

1. Lupa Niat Puasa Di Malam Hari

Info Peluang Usaha Depot Air Minum Isi Ulang by INVIRO

Menurut Ibnu Hazm, jika seseorang lupa melakukan niat puasa Ramadhan di malam hari, dan baru ingat di siangnya atau bahkan baru ingat ketika hampir waktu buka dan tidak tersisa waktunya kecuali hanya sekedar untuk niat saja, maka ia harus berniat puasa pada saat itu juga, puasanya sah dan tudak perlu diqadha, walaupun ia sudah makan dan minum atau bahkan sudah berhubungan suami istri. (Ibnu Hazm w. 456 H, Al Muhalla, jilid 4 hal. 290)

2. Berbohong Itu Membatalkan Puasa

Menurut Imam Madzhab Al Hazmiyah, sesorang yang sedang berpuasa jika melakukan maksiat seperti berbohong, menggunjing atau menggibah orang, mengadu domba, berbuat dzolim ataupun maksiat-maksiat lain jika ia lakukan dengan sengaja dan dalam keadaan tidak lupa bahwa ia sedang puasa maka puasanya batal dan tidak sah, bukan hanya pahala puasanya yang batal seperti pendapat jumhur. (Ibnu Hazm w. 456 H, Al Muhalla, jilid 4 hal. 304)

3. Pokoknya Harus Diam

Wanita bikr (perawan) jika ingin dinikahi atau dinikahkan maka terlebihdahulu dimintai izinnya. Izinnya menurut mayoritas ulama fiqih minimal adalah diamnya ia, dan jika ia berkata “iya” atau memberikan isyarat setuju maka hal itu lebih boleh. Pendapat ini berdasarkan hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam saat ditanya oleh para sahabatnya bagaimana izinnya wahai Rasulallah? Beliau menjawab: “izinnya adalah diamnya” . Adapun selebihnya, maka mereka berdalil dengan mafhum muwafaqah hadits tersebut, kalau diamnya saja merupakan izin, maka apalagi jika si dia mengatakan “iya” atau memberi isyarat setuju, maka itu merupakan izin + +. Begitu menurut jumhur fuqaha.

Namun berbeda dengan Ibnu Hazm Al Qurthubi, beliau tidak sepenuhnya setuju dengan mayoritas ulama mengenai izin wanita bikr ini, menurut beliau wanita perawan ketika dimintai izin untuk dinikahkan maka pokoknya ia harus diam jika memang setuju untuk dinikahkan, jika ia berkata “iya” atau “mau” atau “setuju” maka itu tidak dianggap izin dan ia tidak boleh dinikahkan; karena ia tidak diam. Dalam bukunya Al Muhalla beliau berkata:

وكل بكر فلا يكون إذنها في نكاحها إلا بسكوتها، فإن سكتت فقد أذنت ولزمها النكاح، فإن تكلمت بالرضا أو بالمنع أو غير ذلك، فلا ينعقد بهذا نكاح عليها.

“Setiap perawan maka izinnya ketika ingin dinikahkan hanyalah diamnya, jika ia diam maka berarti ia mengizinkan dan nikahnya menjadi lazim, namun jika ia berkata “setuju” atau “tidak setuju” atau perkataan lain, maka tidak boleh dinikahkan” (Al Muhalla jilid 9/hal 57)

Dalil yang digunakan Ibnu Hazm untuk pendapatnya ini sama dengan dalil jumhur ulama, yaitu hadits:

“ولا تنكح البكر حتى تستأذن” قالوا: يا رسول الله وكيف إذنها؟ قال: “أن تسكت”

“Wanita perawan tidak boleh dinikahkan hingga dimintai izin” para sahabat bertanya: bagaimana izinnya wahai Rasulallah? Beliau menjawab: “diamnya ia”

Menurut Ibnu Hazm, dalam hadits ini dan juga hadits-hadits lain yang serupa Nabi hanya menyebutkan bahwa izinnya si perwan hanyalah diam saja, bukan berkata “iya” atau “setuju” dan lainnya, jadi jika setuju nikah pokoknya harus diam.

4. Boleh Berqurban Dengan Hewan Apapun yang Halal

Mayoritas ulama dari empat madzhab fiqih, yaitu Al Hanafiyah, Al Malikiyah, Asy Syafi’iyah dan Al Hanabilah sepakat bahwa hewan yang boleh dikurbankan hanyalah hewan ternak berkaki empat, atau yang dikenal dengan istilah Al An’am dalam buku-buku fiqih, yaitu unta, sapid dan kambing. Maka menurut mereka selain hewan-hewan tersebut tidak boleh dijadikan hewan kurban.

Baca Juga >  Bagaimana Hukum Menggunakan Medsos di Masjid?

Namun berbeda dengan Ibnu Hazm, dalam masalah ini beliau menyelisihi mayoritas ulama, beliau berpendapat bahwa berkurban boleh dengan semua hewan yang dagingnya halal dimakan, baik itu hewan berkaki empat seperti unta, sapi, kambing, kuda dan hewan-hewan lain yang boleh dimakan atau unggas seperti ayam, bebek dan burung-burung yang dagingnya dihalalkan dalam Islam. (Al Muhalla, jilid 6, hal. 29)

5. Telur yang Berdosa Tidak Akan Memikul Dosa Telur Lain

Di kitab Al Ath’imah dalam bukunya Al Muhalla bi Al Atsar Ibnu Hazm Al Qurthubi membahas masalah telur. Jika seseorang memasak sejumlah telur dalam satu wadah, lalu ternyata di antara sejumlah telur itu ada telur yang busuk, maka telur busuk itu tidak berpengaruh pada telur lain yang tidak busuk, artinya telur yang tidak busuk masih tetap halal dan boleh dimakan, hanya telur yang busuk itu saja yang harus ia buang.

Untuk menguatkan pendapatnya ini Ibnu Hazm mengutip sebuah ayat dalam Al Qur’an, yaitu firman Allah:

وَلَا تَزِرُ وَازِرَةٌ وِزْرَ أُخْرَىٰ

“Dan orang yang berdosa tidak akan memikul dosa orang lain”

Menurut beliau telur tidak akan memikul dosa telur lain, dan yang halal akan tetap halal walu berdekatan dengan yang haram, dan sebaliknya yang haram tetap haram biarpun berdekatan dengan yang halal. (Al Muhalla jilid 6/hal 95)

6. Malu-Malu Memakai Qiyas

Sebagaimana kita tahu bahwa Ahlu Dzahir dan Ibnu Hazm menolak qiyas sebagai salah satu dalil untuk menetapkan hukum dalam Islam, namun anehnya jika kita menelaah buku Ibnu Hazm, Al Muhalla kita akan menemukan cukup sering beliau menggunakan qiyas untuk berdalil atas sebuah hukum atau untuk membantah dalil dan argumentasi lawan pendapatnya, hanya saja beliau malu-malu menggunakan qiyas tersebut dengan mengatakan: “Inilah Qiyas, Jika Seandainya Qiyas Itu Benar”.

Salah satu contoh kasus Ibnu Hazm menggunakan qiyas ialah saat beliau membantah pendapat Zufar (w 158 H) mengenai puasa Ramadhan tidak perlu niat.

Menurut salah satu ulama dari madzhab Al Hanafiyah itu puasa di bulan Ramadhan tidak memerlukan niat, selama seseorang itu tidak makan, minum, bersetubuh dan melakukan pembatal-pembatal puasa yang lain di siang hari Ramadhan maka ia sudah dianggap berpuasa walupun ia tidak berniat untuk puasa; karena menurutnya bulan Ramadhan itu ya waktu untuk puasa, jadi tak perlu lagi niat puasa.

Ibnu Hazm (w 456 H), dalam salah satu bantahannya terhadap pendapat Imam Zufar (w 158 H) ini menganalogikan begini: seandainya seseorang ingin melakukan shalat Shubuh, dan waktunya telah masuk, kemudian ia shalat 2 raka’at tanpa niat shalat Shubuh, seharusnya -kata Ibnu Hazm, jika kita menuruti pendapat Zufar (w 158 H) tersebut- shalat Shubuhnya sah karena memang waktu itu waktu shalat Shubuh dan bukan waktu shalat lain. Kemudian beliau menutup bantahannya ini dengan statement “inilah qiyas, jika seandainya qiyas itu benar”

Allahu a’lam

Penulis: Muhamad Amrozi, Lc