Adakah Ilmu yang Mengajarkan Ikhlas?

Posted on

Ikhlas adalah kata yang memiliki arti ”murni” atau ”bersih”. Ikhlas adalah kata yang bersighat mashdar dari tsulatsi mazid warna awal bab awal yang bersighat af’ala-yuf’ilu, atau akhlasha-yukhlishu-ikhlaashan (Ikhlas, murni).

Ikhlas itu mudah dicapai manakala sudah terbiasa. Bagaimana mungkin bila belum terbiasa dan amaliyahnya karena terpaksa bisa dikatakan ikhlas? Namun, bagaimana mungkin bisa terbiasa bila belum yakin dan masih ragu. Sebab keraguan dan ketidak yakinan akan membuat beramal alakadarnya, kadang minat, dan kadang malas. Sehingga supaya terbiasa, harus yakin dulu.

Info Peluang Usaha Depot Air Minum Isi Ulang by INVIRO

Namun, keyakinan itu tidak akan diraih manakala belum paham. Karena keyakinan bermula dari kepahaman, maka usahakanlah mencari kepahaman akan amaliyah yang dilakukan menganai siapa yang disembah, dan untuk apa beribadah. Kepahaman juga, tidak akan diraih manakala masih belum tahu atau belum hafal. Bahan dari kepahaman adalah pengetahuan dan hapal. Bagaimana mungkin bisa faham, bila tidak tahu? Tetapi, juga tidak akan tahu bila tidak belajar dan mengaji. Sebab, belajar dan mengaji adalah kunci dan pondasi untuk membangun pengetahuan, tiang kepahaman, dinding keyakinan, atap keikhlasan, dan ruang keridhaan Allah.

Secara sistemasis langkah menuju keikhlasan adalah belajar dulu, kemudian tahu dan hafal, setalah itu baru paham, terus menjadi keyakinan, dan setelah keyakinan akan terbiasa, kemudian setelah menjadi kebiasaan apalagi menjadi kebutuhan, akan membuahkan keihklasan.

Sebagian guru mengartikan ikhlas secara terminologi sebagai ”murni”. Ikhlas terbagi menjadi dua, iklhas karena Allah, dan Ikhlas karena dunia. Manakala mengajar karena uang, itulah ikhlas (murni) karena dunia. Balasannya, tidak akan mendapat apa-apa selain uang. Tetapi, bila mengajar karena Allah sekaligus ada harapan mendapat uang, hati-hati menyekutukan Allah dengan uang. Sehingga wajib ditegaskan baik dengan keyakinan, lisan, tulisan, maupun perbuatan, apa yang menjadi tujuan perbuatan itu. Sungguh tepat Nabi SAW menyatakan :

Baca Juga >  Arafah, Cermin Padang Mahsyar di Hari Kiamat

”Sesungguhnya segala amal tergantung niatnya. Dan sesungguhnya setiap orang (akan mendapatkan sesuai) apa yang diniatkannya. Maka barangsiapa yang (niatnya) menuju (keridhaan) Allah dan RasulnNya, maka tujuan (yang pasti dicapainya) adalah (keridhaan) Allah dan RasulNya. Dan barangsiapa yang (niatnya) menuju (keuntungan) dunia atau (karena) wanita yang akan dinikahinya, maka tujuan (yang akan dicapainya) adalah apa yang menjadi tujuannya (itu).” (HR. Bukhari Muslim).

Degan hadits ini, berarti mengajar karena uang saja diperbolehkan selagi tidak ada indikasi menyekutukan dengan niat karena Allah. Murnikan tujuan. Niat semata-mata karena Allah atau karena dunia. Pilih salah satu. Bila sudah mampu meniadakan ketergantungan terhadap dunia, silahkan mengharapkan keridhaan Allah, jangan dicampur. Bila belum mampu, lebih baik bertahap niat karena dunia dulu.

Sehingga, supaya bisa ikhlas, langkah pertama adalah belajar dan mengaji semua yang berhubungan dengan agama terkhusus mengenai ikhlas, bab hati, dan tasawuf. Semoga bermanfaat dan kita bisa ikhlas dalam segala amal kita. Amin…

اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ…

Allahuma sholi ‘ala sayidina Muhammad nabiyil umiyi wa ‘ala ‘alihi wa shohbihi wa salim…

Penulis: Ahmad Zuhud Rijal.