santri jelaskan persoalan uighur di china

Ini Penjelasan Santri Asli Uighur tentang Kondisi Krisis Mereka

Posted on

Bersama dua peserta dari Cina, yang menghadiri Multaqo Sufi di Pekalongan, bulan April yang lalu. Sebelah kanan bernama akhi Badruddin, yang kiri bernama akhi Abdulloh. Akh Badruddin pernah menimba ilmu di Al-Azhar Mesir, di Fakultas Bahasa Arab, kemudian melanjutkan program magisternya di IIUM (Malaysia). Akh Badrud dari suku Han, sementara akh Abdulloh memiliki darah suku Turkistan/Uyghur. Mereka datang menghadiri Multaqo Sufi bersama 5 peserta lainnya yg ditunjuk secara resmi mewakili pemerintah Cina.

Mereka bermadzhab Hanafi dalam fiqih, Maturidy dalam aqidah dan Naqsyabandiyah Jahriyyah dalam thoriqoh. Kata Jahriyyah dinisbahkan pada suara yg keras, thoriqoh ini memang identik dengan ‘suara keras’ para pengikutnya saat berkumpul dalam hadrah sufiyah.

Di sela-sela break seminar, saya menyempatkan berbincang dengan keduanya, seputar kehidupan muslim di Cina. Saat saya singgung masalah krisis kemanusiaan yg menimpa muslim Uyghur, perbincangan yg semula datar-datar saja, basa basi seketika itu berubah sedikit emosional. Saya ajukan beberapa pertanyaan yg viral di medsos, dengan tema besar ‘ intimidasi pemerintah Cina atas muslim khususnya Uyghur’, namun beberapa pertanyaan saya disanggah oleh keduanya.

Dalam tema ini, Akh Abdulloh yg semula diam, banyak tampil menyanggah dan mengklarifikasi beberapa isu muslim Uyghur. Menurut keterangannya, krisis kemanusiaan yg terjadi atas muslim Uyghur tidak seperti yang diberitakan oleh media asing, seperti “Genosida” dan sejenisnya. Pemerintah Cina hanya melakukan tindakan tegas terhadap individu dan kelompok yg masuk dalam jaringan ISIS. Akh Abdulloh, malah balik bertanya pada saya bagaimana ISIS dan jaringannya bisa bebas di Indonesia.

Baca Juga >  40 Hari Mbah Maimoen: Banser Mesir Kawal Para Masyayikh Al-Azhar Cairo

Loh .. loh dapat info dari mana? Saat perdebatan kami tidak menemukan titik terang, Akh Badrudin tampil mengakhirinya dengan statemen yang sekilas masuk akal ” Kalau pemerintah Cina mengintimidasi Umat Islam di Cina, maka tentu saja kami dilarang hadir di Multaqo ini, kami datang di Multaqo ini atas izin dan biaya pemerintah”.

Akhirnya perbincangan kami kembalikan ke tema awal, tanpa menyinggung masalah sensitif ini lagi. Walaupun belum puas dan terkesan misteri, minimal saya sudah tabayyun langsung tanpa perantara media pers. Informasi dari mereka saya jadikan pegangan sampai saat ini walau tidak mutlak.

Sembari mendoakan semoga krisis yang menimpa muslim Uyghur segera berakhir dan umat muslim Uyghur bisa menikmati kebebasan dalam menjalankan agamanya dengan tenang sebagaimana saudara-saudara seiman mereka yang tersebar di wilayah Cina, terutama suku Hui dan Han, dll.

Penulis: Khorul Fata.