Viral Kisah Wahabi di Mesir yang Mengakui Telah Ajarkan Kerancuan Agama

Viral Kisah Wahabi di Mesir yang Mengakui Telah Ajarkan Kerancuan Agama

Posted on

Pengakuan telah salah.

Akhir-akhir ini, lagi viral di Mesir tentang tokoh-tokoh wahabi/salafi yang mengaku mereka telah melakukan kesalahan. Di antaranya Pak al-Huwaini ini. Ia mengakui telah banyak mengajarkan kerancuan yang disebabkannya selama ini.

NU Care LazisNU Jogja KLIK DISINI untuk mengirim WA (tanpa harus menyimpan nomor terlebih dahulu) ke Call Center NU Care LAZISNU DIY, untuk konsultasi/tanya-tanya.

Di antara pengakuannya:

Pertama, ia tidak memahami antara berbagai hukum. Yang ia tau hanya haram & wajib. Tidak mengerti kalau ada yang namanya mustahab dll.

Si bapak berkata: “Semua sunnah; kami ketahui & yakini sebagai perkara wajib. Kami tidak mengetahui perbedaan antara wajib & mustahab yang di mana di dalamnya ada beberapa tingkatan hukum. Aku pun sudah mengetahui bahwa ketika kami tidak mengetahui tingkatan hukum; sehingga kami telah membuat kejahatan pada umat. Kami dulu tidak mengetahui tingkatan-tingkatan hukum sehingga kami membuat banyak kerusakan dikarenakan semangat jiwa muda”.

Kedua, kerusakan yang dilakukannya diakui sebagai keinginan untuk cepat tenar agar namanya jadi perbincangan & tertulis di buku-buku.

Pak al-Huwaini juga menasehati agar jangan ikutan tergesa-gesa.

Ketiga, keberanian menganggap para ulama besar seperti layaknya kawan sendiri. Ia juga mengatakan: “Aku kan mesti menampakan bahwa diriku adalah seorang imam, alim, muhaqqiq, faham, kuat dll”.

Baca Juga >  Prof. Nadirsyah Hosen: FDS Jangan Bikin Muhammadiyah-NU Bertengkar!

***

Lalu, apakah Pak al-Huwaini bertaubat & tidak lagi mengulangi kesalahannya?

Untuk itu, banyak masyayikh yang mempertanyakan. Seiring kesedihan mereka karena banyaknya sudah orang-orang yang jadi korban..

Contoh fatwanya yang membuat heboh umat: ia menyerupakan wajah perempuan bagaikan kelamin yang wajib ditutupi, mengharamkan perempuan untuk bekerja & mewajibkan mereka untuk mengurus anak-anak di rumahnya. Dan tidak perlu menyediakan kesempatan perempuan untuk bekerja & mengambil profesi kaum laki-laki.

Alhamdulillah, kita bersyukur diberi para guru yang mengajarkan kita.. Tingkatan hukum misalnya kita ketahui dari awal kita diajarkan wudhu & shalat saat kita masih sangat kecil.

Mari kita pegang erat-erat guru-guru kita. Jangan kita lepaskan supaya tidak ikut menyimpang.

al-Fatihah untuk semua guru kita.

15 Februari 2020.

Penulis: Hilma Rosyida Ahmad, Cairo Mesir.