Kisah Syekh Abdul Qadir Al-Jailani Jawab Keraguan Yahudi tentang Nabi Muhammad

Tauhid Menurut Syekh Abdul Qadir Al-Jailani (3)

Posted on

Oleh Edi AH Iyubenu, wakil ketua LTN PWNU DIY.

Tuturan Abu Bakar ash-Shiqqid, Umar bin Khattab, dan Ali bin Abi Thalib berikut ini barangkali bisa kita jadikan pegangan filosofis tentang tauhid yang hakiki.

Abu Bakar ash-Shiddiq berkata, “Aku melihat dengan Mata Tuhanku.”

Umar bin Khattab berkata, “Aku melihat Tuhanku melalui pantulan cerminNya.”

Ali Bin Abi Thalib ditanya apakah ia melihat Tuhan yang disembahnya? Beliau KarramahulLah wajhah menjawab, “Tentu saja aku hanya menyembah Dzat yang kulihat.”

Mohon maaf, sampai detik menuliskan bagian ini, saya belum menemukan riwayat sejenis dari sosok Ustman bin Affan sebagai sesama sahabat utama Rasulullah Saw. Ini semata sebab lemahnya kajian saya. Tentulah tak mungkin sosok agung macam Ustaman bin Affan dan para sahabat lainnya tidak berada di derajat rohani yang sama dengan ketiga sahabat di atas, sebab Syekh Abdul Qadir al-Jailani pun telah menyatakan bahwa Rasul Saw hanya membagi ilmu Sirr-Nya hanya kepada para sahabat dekatnya.

Dalam kitabnya, Adab al-Suluk wa al-Tawasshul Ila Manazil al-Muluk, Syekh Abdul Qadir al-Jailani menuturkan tentang ‘takut dan harap sebagai sayap-sayap iman’, yang tiada lain merupakan akar bagi rindangnya tauhid di dalam hati.

“Jika kalian memang benar-benar mengasingkan diri dari khalayak manusia menuju Allah ‘Azza wa Jalla, maka jangan sekali-kali kalian meminta sesuatu pun pada manusia dengan lidah kalian. Jika kalian bisa meninggalkan hal tersebut, maka janganlah kalian mengemis kepada mereka dengan hati kalian. Sebab meminta dengan hati sama saja dengan meminta secara lisan.”

Lihatlah tekanan fatwa tersebut. BarakalLah daiman abadan, ya Sulthanul Auliya’….

Menanggalkan segala yang selain Allah Swt dari diri, lisan dan bahkan sekadar bersit pengharapan di hati, merupakan kunci bagi tegaknya Allah ‘Azza wa Jalla. Allah Swt, kita tahu, adalah Dzat Yang Maha Pencemburu, dan Dia Swt tak rela KemahaanNya dalam segala hal disaingi oleh dzat apa pun, termasuk kuasa dan harta manusia –yang boleh jadi kini sedang kita ikuti.

Al-Qur’an bertubi-tubi menuturkan tentang kemutlakan Kemahaan Allah Swt. Seluruh jagat raya dinyatakan bertasbih hanya kepadaNya. Bahkan hewan melata yang paling halus sekalipun pun yang tak kita kenali semata Dia Swt lah yang menjamin rezekinya. Betapa tak terbatasnya liputan KemahaanNya Swt.

Apalagi pada diri manusia macam kita ini….

Syekh Abdul Qadir al-Jailani melanjutkan nasihatnya, “Sesungguhnya Allah Swt setiap hari berada dalam kekuasaan mutlak untuk mengubah atau mengganti, meninggikan atau merendahkan. Ada kalangan yang Dia Swt naikkan derajatnya ke puncak tertinggi (‘illiyyin) dan ada pula kalangan yang Dia Swt campakkan ke kerak terendah dasar terbawah (asfalas safilin).”

Mari kini kita renungkan pemahaman dan pendefinisian kita selama ini tentang ‘Tuhan’. Dialah Dzat Yang Maha Segalanya. Tanpa pengecualiaan secuil pun. Tanpa ada peluang sedikit pun bagi yang selainnya untuk berkuasa. Ini pengertian mendasar kita tentang Tuhan, bukan?

Ketika kita mengikrarkan lafal ‘Tiada Tuhan’ (la ilaha), sesungguhnya segala ada (wujud) kita nyatakan tiada. Fana. Tiada makna. Tiada kuasa.

Jangankan cuma diri kita yang manusia begini, bahkan Tuhan pun kita nyatakan tidak ada. Bukankah itu artinya ikrar la ilaha tersebut semata menisbatkan kekosongan-ketiadaan –dalam hal ini diri kita?

Lalu, kita lanjutkan kalimat tauhid itu dengan “illalLah”, kecuali Allah Swt. Lengkaplah menjadi “la ilaha illalLah” (tiada Tuhan selain Allah Swt semata).

Dari situasi kosong-tiada tadi, kini yang hadir hanya Satu Dzat, yakni Allah Swt. Hanyalah Allah Swt yang Maujud. Ada. Tentulah jumenengnya Dzat Tunggal ini adalah sebenar dan sepenuhnya Yang Maha Kuasa. Ia Hadir dan Bertahta serta Berkuasa dalam KemanunggalanNya semata.

Lalu kita pun semua turut mewujud, mengada –termasuk jagat raya beserta semua makhlukNya.

Adanya kita, mewujudnya kita, dalam segala bentuk, posisi, dan perannya di dunia ini, bukankah mestinya tetap sebagai wujud yang fana semata?Bukankah mestilah kita tetap berada dalam khittah awal “la ilaha” tadi, yang tiada?Bukankah mestilah adanya kita, hidupnya kita, perbuatannya kita, derajatnya kita bahkan, adalah tetap berhakikat ketiadaan dan kefanaan?

Jika diri ini beserta seluruh asesoris yang sedang melekat senantiasa ditempatkan dalam pemahaman dan posisi demikian, tentulah diri ini takkan goyah lagi dalam situasi apa pun. Sebab kita senantiasa adalah kefanaan yang bisa menjadi ada dan hidup begini semata karena AdaNya Swt, Welas AsihNya , dan KaruniaNya. Maka segala kenyataan yang terjadi ke dalam hidup kita, mau ujian manis atau pahit, tentulah sama saja. Mau berlimpah rezeki maupun sedang sempit, tentulah sama belaka.

Begitu esensi rohani yang mestinya dibuahkan oleh ikrar tauhid la ilaha illalLahitu.

Maka, umpama kini kita sedang berada di posisi tinggi secara spiritual dengan ketaatan syariat yang istiqamah, hendaklah kita tetap elinguntuk tetap berada dalam esensi kefanaan tersebut, dengan meyakini bahwa kemampuan kita berlelaku saleh tersebut semata adalah sebab KaruniaNya Swt, PertolonganNya, bukan diri kita.

Dari sinilah lalu terbit harapan dan sekaligus ketakutan.

Berharap supaya Allah Swt senantiasa meneruskan KaruniaNya kepada kita untuk menetapi derajat rohani tinggi tersebut dan sekaligus takut kepadaNya yang bisa benar untuk menjatuhkan kapan saja sesuai KehendakNya.

Begitupun buat mereka yang sedang berada di derajat rendah secara rohani. Mestinya mereka berharap kepada Allah Swt agar Dia Swt berkenan mengubah posisinya dengan menaikkannya ke derajat tinggi dan sekaligus takut bahwa Allah Swt akan menetapkannya terus-menerus berada dalam jibaku dosa, lalai, dan maksiat tersebut.

Wala taiasu min rauhilLah innahu la yaiasu min rauhilLah illal qaumul kafirun, dan janganlah berputus asa dari pertolongan Allah Swt, sesungguhnya takkan pernah berputus asa dari pertolongan Allah Swt kecuali orang-orang yang kafir (kufur). Begitu tutur al-Qur’an.

Jadi, dikarenakan kita kita telah menuai pemahaman dari ajaran Syekh Abdul Qadir al-Jailani qaddasahulLah tersebut, sewajibnya cara kita beriman kini, bertauhid kepadaNya, terus-menerus semata berdenyut dalam dua pijakan: harap (raja’) dan takut (khauf). Dalam uraian bagian lain, Syekh Abdul Qadir al-Jailani menyebutnya sebagai ketakwaan.

Sebagai tambahan, mari kita belajar memahami dan mengenali sifat Allah Swt yang terbagi ke dalam dua karakter, yakni Sifat Jalaliyah (Keperkasaan) dan Sifat Jamaliyah (Keindahan, Kelembutan). 99 Asma’ dalam Asmaul Husna menisbatkan dengan terang dua sisi karakter yang berseberangantersebut.

Allah Swt bersifat Pengasih, Penyayang, Pemberi Rezeki, Pemberi Pertunjuk, Pembimbing, Penolong, Pemaaf, Pengampun, misalnya, berseberangam dengan sifatNya yang Pengazab, Pemaksa, Perkasa, Penghukum, Sombong, Gagah, dan sejenisnya. Bagian pertama merupakan contoh bagi sifatNya yang Jamaliyah, bagian kedua contoh bagi sifatNya yang Jalaliyah.

Mari kita kaji contoh dari surat al-Mulk ayat 1-2 dengan pendekatan ilmu Munasabah:

Maha Suci Dzat yang di dalam genggamanNya lah Kerajaan (Kekuasaan) dan Dzat itu adalah Dzat Yang Maha Kuasa terhadap segala sesuatu. Yakni Dzat yang menciptakan kematian dan kehidupan untuk menguji kalian siapakah di antara kalian yang paling baik amal perbuatannya dan Dzat itu Maha Perkasa dan Maha Pengampun.

Kita fokus pada penggunaan kata “al-Aziz” (Maha Perkasa) dan “al-Ghafur” (Maha Pengampun) di ujung ayat 2 tersebut sebagai dua Asma Allah Swt.

Keduanya memiliki makna sifat yang berseberangan. Yang pertama, al-Aziz menunjuk kepada Jalaliyah, yang kedua, al-Ghafur menunjuk kepada Jamaliyah.

Saya menalar (walLahu a’lam bishshawab) takwilnya dengan cara begini. Bahwa Allah Swt adalah Dzat Yang Maha Kuasa dan segala sesuatu mutlak berada dalam genggaman KekuasaanNya, ini adalah iman kita. Tauhid kita, dalam konteks kajian ini.

Allah Swt menggambarkan dengan contoh konkret yang paling paripurna pada penalaran kita perihal KemahaanNya melalui dua diksi utama, yakni kematian dan kehidupan. Mati dan hidupadalah dua realitas kita yang paling nyata, paling agung, dan paling misterius. Tak ada satu pun sains manusia yang mampu menerkanya, mengubahnya, atau menyangkalnya –apalagi  bila lalu diteruskan kepada pertanyaan paling besar sepanjang sejarah pemikiran dan filsafat manusia: “Ke mana kita setelah mati?”

Tamsil KemahaanNya melalui puncak misteri hidup manusia ini (mati dan hidup), Dia Swt sebutkan sebagai CaraNya untuk “menguji manusia siapa yang tetap paling baik amal perbuatannya”.

Lalu, umpama kita kufur kepada kemahakuasaaNya tersebut, tidak mau beriman dan menjalankan syariatNya, Allah Swt menyodorkan Sifat Jalaliyahnya melalui asma al-Aziz, Sang Maha Perkasa.

Bila diungkapkan dalam bahasa kita, saya mengimajinasikan hal tersebut menjadi sejenis ini: “Hei manusia, silakan saja jika kalian mau kufur kepadaKu, KekuasaanKu takkan koyak sedikit pun sebab Aku adalah Tuhan Yang Maha Perkasa, tapi rasakanlah azabKu sebagai balasan atas kekufuranmu, tidak lulusnya kalian dari ujianKu….”

Ini adalah proklamasi kejalaliyahanNya yang tak tertandingi!

Namun umpama kita lulus dari ujianNya, artinya kita beriman kepadaNya dan berbuat amal-amal kebaikan sesuai perintahNya, Allah Swt mewartakan Sifat JamaliyahNya kepada kita melalui Asma al-Ghafur.

Allah Swt, dalam bahasa kita, seolah berkata, “Hei manusia, karena kalian kembali ke jalanKu, ke ajaranKu, ke syariatKu, ke tuntunan yang Kuamanahkan kepada Nabi Muhammad Saw, seberdosa apa pun kalian, Akulah ini Sang Maha Pengampun, Pemaaf, dan Pemberi Rahmat kepada kalian. Kembalilah ke dalam pelukanKu, ke dalam hangat Kasih SayangKu, ya ayyutuhan nafsul muthmainnah irji’i ila rabbiki radhiyatan mardhiyah fadhkhuli fi ‘ibadi wadkhuli jannati….”

Kurang sayang apa lagi gerangan Allah Swt Yang Maha Pengampun itu?

Takwil tersebut bukankah telah cukup bagi rohani yang peka untuk menuai KemahaanNya yang meliputi Welas Asih khas Jamaliyah dan Perkasa dan Penghukum khas JalaliyahNya?

Untuk alasan tersebutlah kiranya sangat masuk akal untuk kita amini wejangan Syekh Abdul Qadir al-Jailani di atas, hendaknya kita hidup dalam pengharapan yang tinggi kepadaNya dan sekaligus ketakutan yang mendalam kepadaNya.

Kini, mari renungkan, di mana gerangan letak pantasnya rohani kita untuk tidak selalu berfana di hadapanNya, yang itu artinya adalah ikrar tauhid yang haq?

Insya Allah sudah cukup, sangat cukup –tergantung hati kita masing-masing….

Untuk mendapatkan jabaran yang lebih teknis dalam aspek kehidupan riil duniawi kita, seperti bagaimana memahami urusan rezeki dan bekerja di hadapan KemahakuasaanNya Yang Maha Memberi dan Maha Menahan sekaligus, mari simaklah uraian berikutnya. Insya Allah.

Wallahu a’lam bishshawab.

Jogja, 3 Agustus 2019