imam al-bukhari

Tangan Tuhan dan Tangan Para Nabi: Cara Ta’wil Imam Bukhari dalam Kitabnya

Posted on

Oleh: Menachem Ali, dosen Airlangga University.

Imam Bukhari (w. 256 H) dalam kitab Shahih-nya juga menjelaskan redaksional ayat-ayat Quran. Pembahasan mengenai redaksional ayat-ayat Quran ini dalam Ilmu Tafsir disebut kajian مفردات (mufradat). Kajian mufradat itu akhirnya semakin matang di “tangan” Imam ar-Raghib al-Ishfahani (503 H) yang menjelaskan makna redaksional Quran secara terperinci.

Dalam kitab Shahih-nya, Imam Bukhari menjelaskan ayat terkait tindakan Dzat-Nya yang “memegang” ubun-ubun semua binatang yang melata, dan ditafsirkan dengan menggunakan metode ta’wil takala membahas ayat yang termaktub dalam Qs. Hud 11:56. Imam Bukhari menjelaskan demikian:

ما من ذابة الا هو (ءاخذ بناصيتها اي في ملكه وسلطانه)

“Tidak ada suatu binatang melata pun melainkan Dialah yang memegang ubun-ubunnya.”

Imam Bukhari menafsirkan TUHAN “memegang” tidak dengan tangan-Nya secara fisik (“tajsim”), tetapi menafsirkan istilah “memegang” dengan mengalihkan maknanya dengan ملكه (kekuasaan-Nya) dan سلطانه (kerajaan-Nya). Metode pengalihan makna inilah yang kemudian oleh para ulama Tafsir disebut ta’wil. Lihat kitab Jami’ Al-Bukhari (Riyadh, Saudi Arabia: Dar as-Salam, 1999), hlm. 806

Dengan demikian, ayat tersebut ditakwil oleh Imam Bukhari dalam makna “mulk” (kekuasaan) dan “sulthan” (kerajaan). Sebenarnya, makna literal dari kata kerja ءاخذ (memegang) pada ayat tersebut bermakna bahwa ALLAH secara fisik menyentuh setiap ubun-ubun dari segala binatang. Namun, bila Imam Bukhari memaknainya seperti itu sama saja memahaminya secara “tajsim” (penyerupaan ALLAH dengan makhluk-Nya), karena ALLAH sebagai Sang Khalik tidak bisa disifati dengan tindakan memegang atau dipegang, sebab tindakan memegang atau dipegang adalah tindakan penyerupaan dengan makhluk-Nya.

Itulah sebabnya Imam Bukhari memaknai ءاخذ (akhidzu) dengan ملكه (mulkihi) dan سلطانه (sulthanihi). Istilah سلطانه “sulthanihi” (kerajaan-Nya) merupakan takwil yang sejajar dengan term sebelumnya, yakni ملكه “mulkihi” (kekuasaan-Nya). Jadi tidak mungkin ortografi tulisan ملكه tersebut diselewengkan pembacaannya dan dibaca “malikihi” (pemilik-Nya). Pembacaan “malikihi” ini secara ilmu Nahwu amat bermasalah dan “ungrammatical” meskipun pembacaan menyimpang itu didorong oleh kepentingan tertentu dengan tujuan untuk menghindari takwil. Namun demikian, munculnya penggunaan istilah سلطانه (sulthanihi) dalam redaksi hadits tersebut sebenarnya merupakan upaya penakwilan Imam Bukhari yang amat jelas. Jadi, dalam konteks ini, Imam Bukhari tidak mengajarkan adanya “tangan-Nya” secara fisik agar tidak terjebak pada pemahaman “tajsim.”

Pada ayat yang lain, khususnya Qs. Shad 38:45 Allah juga berfirman:

وَاذْكُرْ عِبَادَنَا إِبْرَاهِيمَ وَإِسْحَاقَ وَيَعْقُوبَ أُولِي الْأَيْدِي وَالْأَبْصَارِ

“Dan ingatlah hamba-hamba Kami, yakni Ibrahim, Ishak dan Yakub yang mempunyai tangan-tangan dan penglihatan-penglihatan.”

Istilah الايدي (al-aydiy) dalam ayat tersebut secara literal bermakna “tangan-tangan.” Sementara itu, istilah الابصار (al-abshar) secara literal bermakna “penglihatan-penglihatan.”

Jika ayat ini dipahami secara literal apa adanya, maka ayat ini tidak memberikan informasi apapun terkait “maqam” kenabian mereka. Apa keistimewaan yang mereka miliki sehingga TUHAN menyebut ketiga Nabi tersebut dengan ungkapan memiliki “tangan” dan “penglihatan”?

Apakah keistimewaan ketiga Nabi itu sekedar memiliki “tangan” dan “penglihatan” secara fisik?

Apakah sekedar bertujuan untuk membedakan mereka bertiga dari antara orang-orang yang “buntung” tangannya dan “buta” penglihatannya?

Bukankah semua orang juga memiliki tangan dan penglihatan?

Pemaknaan ayat ini secara literal apa adanya, justru tidak akan menyiratkan makna apapun. Silakan Anda merenungkannya.

Bila Anda mengatakan bahwa tangan dan penglihatan ketiga Nabi tersebut memang berbeda dengan tangan-tangan dan penglihatan orang lain secara fisik, tentu perbedaannya secara fisik tersebut juga tidak bermakna apa-apa, dan tidak memberikan jawaban apapun. Apakah kita tidak perlu mempertanyaan “kaifiyah” tangan dan penglihatan ketiga Nabi tersebut?

Bagaimana pun “kaifiyah” tangan dan penglihatan seorang Nabi sekalipun pasti juga sama dengan tangan dan penglihatan fisik manusia pada umumnya. Dalam konteks ini, penafsiran dengan menggunakan metode ta’wil itu penting. Menurut para ulama Salaf, “tangan” Nabi dimaknai dengan kekuatan, sedangkan “penglihatan” Nabi dimaknai dengan keluasan ilmu atau pun wawasan. Dengan menggunakan metode takwil, maka ayat tersebut menjelaskan bahwa ketiga Nabi itu mempunyai kelebihan dalam hal kekuatan dan keluasan ilmu dibandingkan manusia lainnya.

Jadi, “tangan” dialihkan maknanya menjadi “kekuatan”, dan “penglihatan” dialihkan maknanya menjadi “keluasan ilmu.” Bila kita memahami “penglihatan” dan “tangan” tersebut secara literal (harfiah), maka apa spesialnya tangan dan penglihatan para Nabi itu secara fisik? Itulah sebabnya, dalam konteks ayat ini, “tangan” dan “penglihatan” ketiga Nabi tersebut tidak dipahami secara fisik, tetapi dipahami sesuai konteks.

Bila kita memahami metode takwil secara benar dengan cara merujuk pendapat para ulama Salaf, maka kita juga bisa memahami ayat-ayat suci yang melintas batas teks agama-agama.

Baca Juga >  Merajut Keaswajaan, Jamaah, dan Keistimewaan

Imam Ahmad bin Hanbal (w. 241 H) adalah guru Imam Bukhari (w. 256 H). Imam Ahmad bin Hanbal (w. 241 H) salah seorang generasi Salaf yang hidup sezaman dengan Imam Bukhari (w. 256 H) ternyata juga mentakwil ayat Qs. al-Fajr 89:22 yang berbunyi demikian:

وجاء ربك

“Maka datanglah Tuhanmu” (Qs. Al-Fajr 89:22). Istilah جاء (ja’a) dalam ayat ini tidak dipahami dalam pengertian “datang” secara fisik sebab TUHAN itu “tan kena kinaya ngapa.” Demi menghindari pemahaman “tajsim” tersebut maka Imam Ahmad bin Hanbal mengalihkan maknanya dengan frase انه جاء ثوابه (annahu ja’a tsawabuhu), yang artinya: “Sesungguhnya Dia datang dengan pahala-Nya.” Imam Ahmad bin Hanbal “menambahkan” kata ثوابه (pahala-Nya) sebagai “kata penjelas” bahwa Allah “datang” dengan pahala-Nya, bukan fisik-Nya. Pernyataan Imam Ahmad ini dikutip oleh Imam Ibn Katsir, dan beliau mengutip pernyataan Imam Ahmad bin Hanbal dgn kata-kata yang sangat jelas, ان احمد ابن حنبل تاول (“Sesungguhnya Ahmad bin Hanbal mentakwil”). Hal ini menurut Imam Al-Baihaqi (w. 458 H) sanad-nya valid, tidak ada cacatnya.

Qs. Shad 38:45 menyebutkan nama يعقوب (Ya’kub) sebagai salah satu Nabi yang memiliki “tangan” dan “penglihatan”, yang tentu saja hal itu tidak bisa dipahami secara literal. Fakta ini juga senada sebagaimana penggambaran Torah atas keistimewaan Yakub. Dalam kitab Torah, khususnya Sefer Bereshit 31:3 juga disebutkan sebuah pesan bahwa TUHAN akan menyertai Yakub. Teks Ibraninya menyatakan demikian :

ויאמר יהוה אל יעקב שוב אל אל-ארץ אבותיך ולמולדתך ואהיה עמך

“Way-yomer ADONAI el Ya’akov shuv el eretz avoteycha u-lemoladettecha we Ehyeh ‘immecha.”

Terjemahan literal ayat tersebut adalah: “Dan TUHAN berfirman kepada Yakub: “kembalilah ke tanah leluhurmu dan tanah kelahiranmu dan Aku akan menyertaimu.”

Para nabi tidak pernah memahami ayat ini secara “tajsim”, sebab TUHAN tidak mungkin datang secara fisik untuk menyertai Yakub. Rabbi Onqelos, penulis Targum Onqelos yang menyusun kitab Targum-nya dalam bahasa Aram pada abad ke-1 M., ternyata di dalamnya dijelaskan bahwa TUHAN tidak menyertai Yakub secara “tajsim”, tetapi firman-Nya yang akan menyertai Yakub. Itulah sebabnya, pada teks Targum ditambakhan kata מימרי (baca: Meimri), artinya: “firman-Ku.” Jadi yang akan menyertai Yakub hanyalah “firman TUHAN” dan bukan wujud fisik TUHAN. Sefer Bereshit 31:3 tertulis demikian.

ואמר יי ליעקב תוב לארעא דאבהתך ולילדותך ויהי מימרי בסעדך

“Wa amar ADONAI le Ya’kov tuv le ar’a d’avahatach u-le yalladuttach wi yhey Meimriy besa’eddach.”

(“TUHAN berfirman kepada Yakub: “Kembalilah ke tanah leluhurmu dan ke tanah kelahiranmu, dan firman-Ku akan senantiasa menyertaimu”).

Penyebutan adanya diksi “tangan Allah” dan penggambaran “tangan Allah” secara antropomorfisme pada semua kitab suci itu merupakan sebuah fakta redaksional. Narasi teks tersebut sudah pasti diaggap sakral, dan tidak bisa dipungkiri bahwa pada kitab suci semua agama, kita akan temukan redaksional yang bercorak antropomorfisme teologis, misalnya “TUHAN berjalan”, “TUHAN tertawa”, “TUHAN berlari”, “TUHAN datang”, “tangan-Nya”, “telapak tangan-Nya”, “punggung-Nya”, wajah-Nya dan sebagainya. Hal ini tentu saja karena semua kitab suci tersebut tertulis dalam media “human language” yang memang ditujukan kepada manusia itu sendiri.

Ciri khas budaya serta sastranya otomatis terbawa serta, dan sekaligus mengikuti pola bahasa dimana kitab itu ditulis, atau dalam bahasa dogma hal ini dikenal dengan sebutan “tanzil” (“diturunkan”).

Antropomorfisme teologis digolongkan dalam jenis bahasa sastrawi yang bersifat metafora (kiasan), karena ia mencangkup area manifestasi transenden . Dalam tradisi Yahudi maupun Islam, bahasa bercorak sastrawi ini dikenal dengan sebutan bahasa takwil agar ungkapan antropomorfisme teologis yang dalam keparadoksiannya bersifat “bahasa tasjim” dapat dimengerti sesuai tuntunan pemahaman monoteisme yang sempurna. Namun, dalam konteks ini TUHAN sebenarnya tidak ber-jisim.

Penjelasan dan pengajaran ungkapan antropomorfisme teologis sebagaimana yang termaktub dalam Quran tersebut dapat dipahami melalui tradisi takwil para ulama generasi awal, yang memang mereka memahami gramatika maupun sastra Arab karena ungkapan antropologis teologis berciri metaforis (kiasan). Dengan demikian, teksnya seharusnya ditakwilkan, dan ini bukanlah suatu usaha allegorisasi.