simbah kiai zainal abidin munawwir

Sholatnya Simbah Kiai Haji Zainal Abidin Munawwir

Posted on

Oleh KH Munawir AF, Mustasyar PWNU DIY

Shalat Kiai Haji Zainal Abidin Munawwir itu biasa-biasa saja. Kelihatannya tidak ada yang istimewa. Lamanya, ya normal-normal saja. Kira-kira antara 5-10 menitan. Wiridannya juga biasa saja, tidak terlalu lama. Yang dibaca surat habis Fatihah juga tidak panjang-panjang, malah kesukaannya disukai santri muda, QUL HUWALLOOZHU AHAD.

KLIK DISINI untuk mengirim WA (tanpa harus menyimpan nomor terlebih dahulu) ke Call Center NU Care LAZISNU DIY, untuk konsultasi/tanya-tanya.

Barangkali yang beda khusyu’nya. Ini yang sulit ditiru, kelihatannya tidak serius, tetapi konsentrasi penuh. Bagaikan sopir yang sudah profesional kan tenang-tenang saja, ramai atau sepi dia selalu waspada. Atau seperti pemain sepak bola yang sudah mahir, ¬†mbok dikerubut 3 atau 4 orang kan masih bisa lolos.

Dulu, waktu gempa tahun 2006 ya, Kiai Zainal pas selelesai khutbah, mendadak ada gempa susulan. Woh, masjid Krapyak pun ikut goyang-goyang. Kaca jendela sampai berbunyi “krecek-krecek…” sepontan jamaah buyar. Tabrak menabrak dalam masjid, panik, berhamburan keluar. Sambil ada yang tidak dapat ngampet suara: Gempa… Gempa… lupa/tidak sadar bahwa ia teriak di masjid.

Baca Juga >  KH Ma'ruf Amin: Kenapa Khilafah Itu Ditolak, Kan Islami?

Kiai Zainal turun dari mimbar dengan tenangnya. Saya lihat beliau setenang sopir atau pemain profesional. Saya amati beliau, sangat, sangat tenang, sambil bibir komat-kamit membaca kalimah Thoyibah.

Saya jadi bingung sendiri, mau ikut jamaah yamg lain atau ikut Kiai Zainal? Bingung, tegak bagai patung tidak berpendirian. Sambil bergumam dalam hati, beliau sudah terlalu siap. Dipanggil kapanpun oke. Lha saya, belum cukup punya bekal, jangan mati dulu ah – pintaku.

Gempa pun reda. Dan shalat Jumat dilaksanakan.

Allahu yarham,

Krapyak, 27-03-2015