munjid ugm

Pertanyaan dan Pendidikan

Posted on

Oleh: Achmad Munjid, Dosen UGM.

Salah satu yang amat mengesankan saya ketika mengikuti sebuah konferensi dalam rangka Dies Natalies University of Vienna pada 2015 adalah tema acara itu, yakni “We have been asking questions for 250 years” (Kami telah mengajukan pertanyaan-pertanyaan selama 250 tahun). Merawat dan mengembangkan pertanyaan, menurut saya, memang adalah tugas dan tunggung jawab utama pendidikan.

KLIK DISINI untuk mengirim WA (tanpa harus menyimpan nomor terlebih dahulu) ke Call Center NU Care LAZISNU DIY, untuk konsultasi/tanya-tanya.

Ilmu pengetahuan berangkat dari rasa ingin tahu (curiosity) dan pertanyaan adalah wujud rasa ingin tahu itu. Semakin banyak dan semakin mendalam pertanyaan-pertanyaan kita, semakin kita bisa mengembangkan pengetahuan.

Sayangnya, pendidikan kita sekarang ini justru tampak bergerak ke arah yang salah. Alih-alih merawat dan mengembangkan pertanyaan, pendidikan kita justru cenderung “membunuh pertanyaan”. Ketika anak-anak belum mengenyam bangku sekolah, mereka kaya sekali dengan macam-macam pertanyaan. Setiap hari kita dengar anak-anak kecil mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang menakjubkan, tak terduga, bakhan kerap memaksa kita belajar sebagai orang tua. Tapi begitu mereka masuk sekolah, pertanyaan-pertanyaan mereka makin berkurang. Semakin tinggi sekolahnya, semakin sedikit pertanyaan yang mereka ajukan.

Tidak jarang, ketika sampai perguruan tinggi, para mahasiswa bahkan tidak tahu bagaimana harus bertanya. Ketika mereka dipaksa bertanya, jenis-jenis pertanyaannya sering bersifat hafalan: “sejauh mana….?”

Di kelas sering saya tantáng para mahasiswa untuk bertanya apa saja. There is no limit to what we can learn, saya kutipkan semboyan menarik dari sebuah SD di Philadelphia. “Kalau kalau tidak mau tanya, saya yang akan tanya. Pilih mana?” Ada seorang mahasiwa yang ketika saya tanya pendangan mengenai gagasan yang dikemukakan penulis, ia justru sibuk membuka-buka lembaran buku yang baru dibacanya. “Lho, pendapatmu itu ada di kepalamu? Sekarang tutup buku itu, katakan apa pendapatamu.” Yang begini bisa terjadi, karena banyak dari mereka tidak terlatih bertanya dan mengolah pertanyaan.

Baca Juga >  Mengenal Asal-usul Madrasah

Pembunuhan atas pertanyaan yang berlangsung dalam dunia pendidikan ini bisa berakibat sangat panjang.
Beberapa waktu terakhir ini saya merasa sangat sedih. Anak saya, Nabila, kini kelas 6 SD dan sedang siap-siap untuk menempuh ujian. Setiap hari saya lihat ia sibuk “menghafal” buku-buku soal yang hampir semua isinya adalah pertanyaan dengan jawaban pilihan ganda. Saya coba yakinkan, bahwa ia tidak perlu menguras energi untuk menghafal soal-soal itu. Asal paham materi pelajaran yang sudah diajarkan, nanti soalnya seperti apa pun kita akan bisa menjawab. Tapi tentu ia tidak hidup di tengah hutan.

Jika teman-teman, bahkan gurunya mendorong dia untuk menghafal, tentulah ia akan dihinggapi kecemasan jika tidak ikut melakukan hal yang sama. Yang saya bisa lakukan adalah mendampinginya sambil sesekali menjelaskan nalar di balik soal-soal itu supaya ia tangkap maksud utamanya.

Menghafal bahan pelajaran sebagai metode ini dimungkinkan ketika apa yang dipelajari tidak didekati sebagai obyek untuk diperiksa dengan bertanya, kenapa begini, bagaimana bisa begitu, mengapa demikian, apa yang terjadi jika… dst. Hafalan ini juga jadi trend ketika bahan yang dipelajari sebetulnya tidak “nyambung” atau tidak dibuat relevan dengan dunia dan kenyataan yang dihadapi anak sehari-hari. Buku-buku teks tingkat SD kita kebanyakan kosa kata abstrak yang jika tidak dijelaskan secara cukup akhirnya memaksa anak-anak tidak bisa lain kecuali menghafal.

Tidak heran, lembaga-lembaga bimbingan, kiat tes ini dan tes itu, yang intinya mengajarkan teknik hafalan begitu laku, dari mulai tes masuk PTN, jadi PNS dan macam-macam urusan lain. Pendidikan kita tidak menciptakan generasi yang berkemampuan menjawab persoalan yang dihadapinya, tapi mencetak pribadi-pribadi yang lebih banyak menghapalkan soal-soal.

Ini sungguh sangat menyedihkan.