Pasca Covid-19, Aktivisme dan Strategi Komunikasi Berubah

Pasca Covid-19, Aktivisme dan Strategi Komunikasi Berubah

Posted on

SEMARANG, BANGKITMEDIA.

Pandemi Covid-19 memaksa terjadinya perubahan dalam lintas bidang kehidupan kita. Pola komunikasi, perilaku ekonomi dan sekaligus strategi berorganisasi akan berubah, namun subtansi pengabdian akan tetap sama.

KLIK DISINI untuk mengirim WA (tanpa harus menyimpan nomor terlebih dahulu) ke Call Center NU Care LAZISNU DIY, untuk konsultasi/tanya-tanya.

Hal ini disampaikan M. Hasan Chabibie, Plt. Kepala Pusdatin, Kemendikbud, kepada bangkitmedia pada Ahad (21 Juni 2020). Hasan Chabibie, juga merupakan Plt. Ketua Umum Mahasiswa Ahlut-Thariqah an-Nahdliyyah (MATAN) dan Ketua PW IPNU Jawa Tengah, periode 2004-2006.

Sebelumnya, beberapa aktifis nahdlatul ulama berdiskusi mengenai masa depan organisasi, dalam Halal bi Halal dan Silaturahmi Virtual Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama, beberapa waktu lalu.

Dalam silaturahmi virtual ini, hadir beberapa Ketua Pengurus Wilayah Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (PW IPNU) Jawa Tengah lintas periode. Di antaranya: Maman Fathurrahman, Ahmad Syafii, Agus Yahya, M. Hasan Chabibie, Muhaimin, Amir Mustova Zuhdi, Ferial Farkhan, Mohammad Talkhis dan Syaeful Kamaluddin, serta ratusan kader nahdliyyin dan pelajar santri.

Habib Umar Muthohar, yang menyampaikan tausiyah dalam forum itu, menyampaikan bahwa Covid-19 juga membawa hikmah.

“Kalau kemarin-kemarin, masing-masing mantan Ketua IPNU ada kesibukan sendiri-sendiri. Sekarang ini, karena pandemi Covid-19, semua bisa kumpul. Kita bisa menyebutnya barokah. Jadi, tidak semuanya dari Corona ini jelek. Barokahnya, kita bisa kumpul bersama,” demikian pesan Habib Umar Muthohar, dai asal Semarang yang dikenal luas menyampaikan gagasan Islam rahmatan lil-alamin. Beliau juga sabar mengayomi aktifis muda nahdliyyin di Jawa Tengah.

Terkait dengan perkembangan organisasi dan masa depan aktifisme, Hasan Chabibie mengungkapkan bahwa kita harus bersiap menghadapi perubahan.

“Ke depan, perilaku ekonomi kita berubah, gaya komunikasi kita berubah, juga gaya belajar kita mengalami perubahan. Pastinya, cara berorganisasi kita juga akan berubah. Yang berubah hanya metodenya, tapi substansi kita mengabdi, belajar dan mengaji, itu akan tetap bermakna sama,” terang Hasan, yang sedang berproses program doktor di Universitas Negeri Jakarta.

Baca Juga >  LAZISNU DIY Gandeng Alesa Hijab Distribusikan 180 Paket Sembako

Menurut Hasan, setiap aktifis organisasi memiliki tiga pengalaman berharga.

“Pertama, ada cerita terkait kaderisasi dan organisasi. Kedua, cerita-cerita menarik terkait persoalan transportasi. Pasti ada kisah-kisah unik ketika masing-masing dari kita butuh transportasi, ketika proses kaderisasi. Ketiga, cerita-cerita urusan hati. Ini biasanya menarik dibahas, karena banyak sekali kisah yang bisa dibagikan,” ungkapnya.

Lebih lanjut, Hasan Chabibie mengajak setiap aktifis dan kader nahdliyyin untuk mewariskan jejak kebaikan. “Penting untuk ke depan, bersama pelajar se-Jawa Tengah kita mau ngapain ke depannya. Dan, legacy itu harus ditinggalkan.”

Hasan Chabibie menegaskan bahwa ketua organisasi itu datang pilih berganti, tapi legacy itu abadi. “Tinggalkan legacy yang abadi, pada saat anda memegang ketua organisasi. Itu mungkin 10, 20, 30 tahun, akan terus dikenang oleh orang,” jelasnya.

Dalam diskusi, Hasan Chabibie mengajak IPNU dan gerakan pelajar lainnya untuk bersiap mengabdi serta mengeksekusi gagasan yang lebih besar untuk Indonesia, khususnya di bidang pendidikan. “Ada 60 juta siswa kita, di seluruh Indonesia, libur selama pandemi. Mereka belajar dari rumah karena merebaknya Covid19. Ini juga harus dipikirkan bersama,” demikian ajak Hasan (red/Bangkitmedia.com).

*Terkait Pasca Covid-19, Aktivisme dan Strategi Komunikasi Berubah, silahkan lihat video Bangkit TV.