Ngaji Gus Muwafiq: Ketika Nabi Ngajari ‘Ngaji’ Sahabat dari Pelosok Kampung

Posted on

Ketika Rasulullah mengajar ngaji, tiba-tiba dari belakang ada yang berteriak,… Mad…., Mad…. Ini sesuatu yang tidak lazim waktu itu karena dilarang memanggil Rasulullah dengan sebutan Mad atau Muhammad, La taj’alu du’a Arrsuli Bainakum Kadu’ai Ba’dukum Ba’dho, akan tetapi ada sahabat yang memanggil Mad, Mad, Mad.

Sahabat Umar berkata, “ini orang dari mana ya, tidak punya sopan santun sama sekali.”

KLIK DISINI untuk mengirim WA (tanpa harus menyimpan nomor terlebih dahulu) ke Call Center NU Care LAZISNU DIY, untuk konsultasi/tanya-tanya.

Rasulullah berkata, “udah-udah, paling dia dari kampung, suruh masuk.”

Akhirnya ketika di suruh masuk ke dalam masjid.

“Mad.”

“Apa?” jawab Rasulullah.

“Aku mau kencing,” kata orang itu.

“Yaudah kencinglah,” kata Rasulullah.

Orang kampung itu disuruh cari toilet, ternyata ngga mencari toilet. Malah kencing di dalam masjid. Sayyidina Umar sudah ngga’ tahan melihat kelakuan seperti itu. Kemudian Sayyidina Umar menarik pedang, mau memenggal kepala orang itu.

Rasulullah hanya berkata, “Umar jangan, begini-begini juga umatku. Ini datang dari kampung yang sangat jauh. Di kampungnya memang biasa kalau kencing sembarangan. Ada selokan dikencingi. Begini-begini juga umatku. Begini-begini juga santriku tapi santri dari Bogor….” Ibaratnya begitu… (hadirin tertawa…)

Peristiwa itu kemudian diabadikan oleh Allah, waja a min aqsol madinah. Datang seorang dari pelosok. Kalau Allah sudah menggunakan kata aqso itu artinya jauh, yang sangat jauh. Kalau dalam bahasanya bapak presiden (Presiden Jokowi-red) itu namanya jabalkat. Kalau ngga terlalu jauh namanya bait rasulullah yang diopeni (dirawat-red) macam-macam.

Ada yang senengane (kesukaannya-red) tidur di masjid tetapi ibadahnya bolong-bolong. Kalau Rasullullah datang, dia bangun paling awal. Salaman, terus tidur lagi. Ini ada di zaman Rasullullah. Kemudian setelah Rasulullah selesai shalat, Rasulullah digandoli (dipegangi-red).

Orang itu bertanya, “Ya Rasul, kapan kiamat itu?”

Rasul menjawab, “kamu itu jangan nanya kiamat. Kayag (seperti) kiamat itu gak pakek (tidak memakai-red) ibadah, nggak pakek (tidak memakai-red) bekal. Saya melihat kamu itu cuma tidur tok, salaman tok, bekal mu apa?”

Sahabat itu menjawab, “bekalku bukan itu ya Rasul.”

Rasul menjawab lagi, “terus apa?”

“Cinta sama Engkau ya Rasul,” kata sahabat itu kemudian.

“Cinta tok, nggak menjalani?” tanya Rasulullah.

Nggak ya Rasul. Cinta kan tidak harus memiliki Ya Rasul,” jawab sahabat lagi.

Akhirnya Rasul menjawab, “ya sudah kalau engkau cinta aku.”

Rasul lalu pergi. Ketika Rasul pergi, digandoli (dipegangi-red) lagi.

“Ya Rasul?” katanya.

“Ada apa lagi?” tanya Rasul.

“Aku sudah jujur sama engkau ya Rasul,” katanya.

“Ada apa?”

“Aku kan cinta sama engkau. Engkau cinta sama aku nggak ya Rasul?”

“Lah iya, engkau cinta sama aku. Aku juga cinta sama engkau.”

“Nah kalau gitu ceritanya, Rasul kalau cinta sama aku, ini penting. Orang cinta kan tidak mungkin tega meninggalkan kekasihnya di neraka, makanya rasul nggak tega kalau meninggalkan aku di neraka, iya.”

“Nanti kamu tak ajak ke surga, man ahabbani kana ma’ifil jannah,” pungkas Rasulullah.

Asbabul wurudnya hadist ini adalah itu. Kemudian saking senengnya, dia langsung lari begitu.

Orang itu berlari, Sayyidina Abu Bakar datang tergopoh-gopoh. “Ya Rasul bener ngga yang tadi itu cinta kepada engkau langsung masuk surga?” tanya Abu Bakar.

“Iya, ya Abu Bakar,” jawab Rasul.

“Cinta tok ya rasul?” tanya Abu Bakar lagi.

“Iya,” jawab Rasul tegas.

“Dia cinta tok akan dibawa Rasul ke surga. Sepertinya aku lebih penting ini. Anakku sudah aku kasihkan. Unta aku kasihkan.  Kayaknya aku lebih mungkin masuk surga.”

Sayyidina Abu Bakar langsung joged muter sampai jubahnya terangkat. Inilah yang akhirnya menjadi manhaj thariqahnya Jalaluddin Rumi yang dikenal dengan thoriqoh maulawiyah. Tarian itu sekarang dikenal dengan nama tari sufi.

Bahkan suatu ketika, Makkah geger gara-gara ada orang thawaf dari kampung. Saking bodohnya, dia thawaf hanya dengan satu kalimat ya karim ya karim. Sahabat bingung. “Kayaknya ada aliran sesat ya Rasul,” kata sabahat. “Sesat bagaimana,” tanya Rasul. “Ini ada orang dari pagi thawaf cuma membaca ya karim ya karim,” kata sahabat lagi.

Rasulullah lalu melihat langsung. Benar apa nggak. Ternyata benar. Lalu Rasulullah mengikuti orang itu dari belakang. Rasul nggak tahan, lalu mengikuti bacaan orang itu. Orang itu marah. Ia bertanya dalam hati, siapa di belakangku. Siapa di belakangku. Awas aku banting orang ini nanti. Terus orang ini balik ke belakang. Ia memegang Rasul dan dipiting (dipelintir-red).

“Kamu ya yang menirukan aku, ya karim ya karim. Ya awas kamu. Aku adukan sama nabiku. Tak adukan sama kekasihku,” katanya.

Baca Juga >  Berumah Tangga Harus Siap Kecewa

Nabi bertanya, “Nabi mu siapa?”

“Nabi ku Muhammad ibni Abdillah.”

“Kamu pernah ketemu?” tanya Rasul lagi.

“Belum, nanti kamu aku banting di sana.”

Ketika dia menyatakan umat Rasulullah, Rasul kaget. Rasul berkata dalam hati, aku kira umat siapa, ternyata ini umatku juga. Rasul sedih dan terharu. Ada juga umatku yang begitu cinta tetapi tidak pernah ketemu sama aku. Maka ketika melihat Rasul menangis, orang ini semakin bersemangat, “gitu aja nangis. Tadi aja menirukan ya karim ya karim,” kata orang itu.

Akhirnya apa? Rasul menangis. Arsy berguncang. Malaikat jibril turun, “Ya Muhammad kenapa Engkau menangis? dibanting orang ini kamu menangis,” kata Jibril.

Nggak ya Jibril. Jangan salah paham ya Jibril. Orang ini tadi thawaf ya karim ya karim. Menggemparkan masyarakatku. Aku ikuti dia, ternyata bener. Dia lalu marah sama aku. Dia akan melaporkan ke nabinya dan ternyata nabinya adalah aku,” cerita Rasul.

“Yaudah, kamu mengaku saja bahwa kamu nabinya.”

“Mas, Muhammad itu aku. Rasul itu aku,” kata Rasul.

“Hah, engkau Muhammad, Rasulku,” orang itu kaget. Langsung menangis. Nabi dipeluk sambil menangis.

“Ya Rasul, aku belum ketemu sama engkau tapi aku beriman sama engkau dan di kampung yang pinter cuma aku ya Rasul. Kita makai doanya ya karim. Tolong ya Rasul, karena kami bodoh dari kampung, Tolong ajaklah aku ke surgamu kalau engkau masuk surga ya Rasul,” kata orang itu.

“Iya iya nanti kita bareng,” kata Rasul. Mereka lalu sama-sama nangis. Saking senengnya orang ini lantas berjoget yes. Itu saking senengnya mau diajak Rasul ke surga.

Malaikat Jibril lalu diberitahu oleh Allah, “walaupun orang itu nanti diajak Muhammad masuk surga, katakan padanya, dosanya tetap ku itung.” Malaikat Jibril lalu menyampaikan ke Rasulullah.

“Ya mas, Allah barusan berfirman lewat Jibril. Walaupun nanti engkau aku ajak masuk surga, tapi dosamu masih diitung oleh Allah. Orang ini kaget juga dan tidak ada perubahan apa-apa. Cuma melotot saja, “apa Ya Rasul? dosaku mau diitung sama Allah. Suruh ngitung. Ngga takut aku. Itung aja kalau dosaku mau di itung sama Allah. Ngga takut aku. Tapi hati-hati kalau dosaku sampai dihitung sama Allah, Allah aku ajak itung-itungan sama aku,” kata orang itu.

“Loh kok Allah kamu ajak itung-itungan bagaimana?” tanya Rasul.

“Akan kuhitung seberapa besar dosaku. Akan kuhitung dengan seberapa besar pengampunan Allah. Kalau Allah Maha Pengampun, dosa seperti ini kok dihitung. Nggak usah pakek (memakai-red) gelar Maha Pengampun. Begini saja kok dihitung.”

Ini loh potret Rasulullah. Maka Rasulullah mampu menjadi rahmat bagi semuanya. Sehingga pengajaran Rasulullah yang tidak masuk akal waktu itu bisa diterima oleh semua kalangan yang sangat jauh dari peradaban. Kemudian Islam yang dikenal susah dimengerti orang Arab bisa diterima. Sulit bagi orang Arab menerima Islam. Orang Arab mengajarkan Tuhan ada patungnya, Islam mengajarkan tidak ada patungnya. Di sana mengajarkan banyak Tuhan, ini diajarkan Tuhan satu. Di sana tidak ada air, Islam mengajarkan toharoh.

Padahal air diminum saja susah, malah disuruh mandi. Padahal di sana, orang mandi berbeda dengan kita. Kita janabatnya sebulan sekali, di sana 8 kali. Susah air disuruh pakek air, sudah panas disuruh puasa. Makanan susah disuruh zakat. Sudah gitu thawaf lah hal yang paling susah bagi orang Arab. Karena kalau melihat sesuatu itu yang sangat luar biasa. Lihat kaki sudah syahwat, maka ketika itu tawaf muka dibuka. Betapa syahwatnya sangat tinggi, ketika mukanya dibuka dan pada saat yang sama seorang laki-laki tidak diperbolehkan menggunakan kain berjahit, sehingga kalau mau berbuat jahil langsung dibuka begitu.

Itulah ujian terberat saat itu dan itu susah dipahami oleh orang Arab. Makanya memahami Rasulullah tidak mudah. Bagaimana seorang panglima perang seperti Sayyidina Umar bisa patuh sama orang yang tidak pernah berkelahi. Bagaimana Sayyidina Abu Bakar seorang konglomerat mau menuntun unta Rasulullah. Bagaimana seorang gadis sepuluh tahun bisa bergembira menikah dengan orang umur 50 tahun.

Ceritanya bisa kita tahu, tapi suasana psikologisnya nggak pernah kita tangkap.

*Disarikan dari ngaji Gus Muwafiq dalam acara Maulid Nabi Muhammad SAW di Istana Negara, Bogor, pada Rabu 21 November 2018.