Meningkatkan Imun Tubuh ala Kedokteran Timur

Meningkatkan Imun Tubuh ala Kedokteran Timur

Posted on

Mengingat kondisi kesehatan akhir-akhir ini, ada hal yang perlu kita perhatikan sekarang yaitu emosi. Emosi cemas, khawatir, gelisah, dan ketakutan lah yang sekarang mendominansi masyarakat Indonesia bahkan dunia.

Takut tertular, takut sakit, takut mati, muncul rasa cemas, gelisah, khawatir, hampir setiap hari melanda sampai menyebabkan sulit tidur. Juga pikiran yang terus berkutat tentang wabah yang terjadi sekarang cukup melelahkan.

KLIK DISINI untuk mengirim WA (tanpa harus menyimpan nomor terlebih dahulu) ke Call Center NU Care LAZISNU DIY, untuk konsultasi/tanya-tanya.

Hal inilah justru yang menyebabkan imunitas tubuh kita drop. Kecemasan membuat stagnasi/sumbatan energi. Sedangkan ketakutan membuat energi kita turun.

Maka, kita harus cek emosi kita masing-masing. Kemudian, tanyakan ke diri sendiri. Kenapa terjadi perasaan atau emosi itu di hati kita?

Mari kita kupas dulu tentang perasaan atau emosi.

Pikiran dan perasaan (termasuk emosi) secara fitrah ada di setiap diri manusia. Ada rumusan begini :

  1. Olah data pikiran memanggil olah data perasaan.
  2. Input data pikiran adalah lewat penglihatan, pendengaran, perabaan, penciuman, rasa di lidah, dan pergerakan.

Contoh sederhana, ketika kita melihat pocong di tv, sering kali kita merasa takut. Apalagi ketika kita melihat tv sendirian.

Jadi, melihat pocong (input data pikiran) kemudian di-compare/bandingkan dengan memori sebelumnya (olah data pikiran), muncul rasa takut (olah data perasaan).

Sedangkan orang Amerika, mungkin tidak muncul rasa takut ketika melihat pocong di tv. Kenapa? Karena mereka tidak pernah diajarkan atau tidak ada input data bahwa pocong itu menakutkan (data perasaan takut).

Relasi pikiran (data pocong) dengan perasaan (data takut) terjadi paling sering ketika kita masih kecil, berulang-ulang. Dari penglihatan di tayangan tv atau input data lewat pendengaran karena cerita dari orang lain. Ini menyebabkan semakin kuatnya relasi pikiran dan perasaan ini. Terjadilah fiksasi di bawah sadar kita karena repetisi.

Sekarang, kita tinjau kasus akhir-akhir ini.

Setiap hari, kita kebanyakan membaca dan melihat berita tentang wabah corona dengan segala efek, gejala, dan penyebabnya. Input data pikiran pada penglihatan dan pendengaran. Data ini diperbandingkan dengan memori lain di otak kita. Dan otak kita mulai memanggil data perasaan cemas dan takut di dada. Hal ini terjadi berulang-ulang.

Akhirnya terjadi kecemasan dan ketakutan di diri kita tiap hari dan terjadi secara massal. Yang terjadi kemudian, tubuh juga ikut merespon. Ketika kita membayangkan makan jeruk nipis, ternyata tubuh kita merespon secara nyata sampai level fisik.

Nah, inilah seringnya yang terjadi. Tubuh kita merespon sama semua input data yang tiap hari kita masukkan.

Baca Juga >  Anjuran Segera Menikah, Resep Dokter Ibnu Sina Sembuhkan Pasien

Ada pepatah,

“Ketika kita tiap hari berkumpul dengan orang jahat, jadilah kita menjadi jahat. Ketika kita tiap hari berkumpul dengan orang baik, jadilah kita menjadi baik pula.”

Jadi gejala yang terjadi bagi penderita wabah yang kita baca atau lihat setiap hari lewat media akan memunculkan hal yang sama pada tubuh kita. Kita secara tidak sadar melakukan copy paste gejalanya.

Ketika muncul gejala tersebut di tubuh kita, muncul lagi tambahan emosi cemas dan takut. Jadilah bertumpuk-tumpuk emosi negatif kita. Dan saat itulah imunitas kita menurun dan kita menjadi sakit. Mungkin saat kita periksa, belum tentu hasil dokter menyimpulkan kita positif. Tapi gejala yang muncul tetap mirip.

Fenomena Orang Gila

Secara riil, apakah ada orang gila (maaf) yang di jalan-jalan, yang terkena wabah ini? Tidak ada, bukan? Kenapa? Mereka tampak selalu sehat fisiknya. Padahal mereka hidup di jalan, dan rentan terkena penyakit dan wabah.

Ini terjadi karena mereka berpikir tidak seperti kita. Mereka mempunyai persepsi sendiri tentang kehidupan dan melakukan atensi terus-menerus terhadap sesuatu yang menjadi penyebab sakit gilanya. Bawah sadarnya terfiksasi dengan polanya sendiri. Data pikiran dan data perasaan yang lain terabaikan. Akal mereka sudah tidak normal. Jadilah tubuhnya merespon sesuai pikirannya

Sedangkan kita adalah manusia normal yang mempunyai akal. Yang secara empiris melakukan pola berpikir tentang sebab akibat. Ini yang menjadi masalah manusia pada umumnya. Tapi apakah kita harus menjadi orang gila untuk sehat terus? Tentu tidak.

Terus, apa yang bisa kita lakukan?

  1. Berdoalah dengan cara masing-masing.
  2. Akses informasi sesuai petunjuk para ahli baik dari medis atau pengobatan timur untuk mengenali wabah dan cara menjaga diri. Ini akan membuat bawah sadar kita merasa tenang dan nyaman. Karena sudah ada data pikiran tentang definisi wabah sekarang yang akurat.
  3. Lakukan tindakan sesuai informasi tersebut secara benar dan proporsional.
  4. Kurangi melihat dan membaca berita di media tentang fenomena wabah ini. Cukup kita tahu dan paham saja.
  5. Sering-seringlah mengakses data-data yang menyenangkan perasaan Anda.
  6. Lakukan tindakan-tindakan yang bisa menenangkan pikiran dan perasaan. Melakukan meditasi sangat dianjurkan.
  7. Mintalah bantuan kepada para ahli bila muncul gejala.
  8. Taati saran dan petunjuk pemerintah atau yang berwenang

Penulis: Tomy Aditama, Praktisi Kedokteran Timur dan Owner Rumah Sehat Toms Hepi. Pernah aktif di PW Matan DIY