Memutus Rantai Kematian dengan Silaturrahim

Memutus Rantai Kematian dengan Silaturrahim

Posted on

Memutus Rantai Kematian dengan Silaturrahim

Salah satu hikmah silaturrahim yang sangat populer adalah memanjangkan umur. Hal ini berdasar pada beberapa hadits yang sangat masyhur yang sering dikutip oleh para muballigh dan pendakwa, diantaranya “man ahabba an yubsatha lahu fi rizqihu wa yunsyau lahu fi ajalihi fal yattaqillaha wal yashil rahimahu”

KLIK DISINI untuk mengirim WA (tanpa harus menyimpan nomor terlebih dahulu) ke Call Center NU Care LAZISNU DIY, untuk konsultasi/tanya-tanya.

Selain beberapa hadits terdapat juga beberapa kisah dan pendapat ulama yang bisa menjadi rujukan, sebagaimana dijabarkan oleh Syaikh Abdurrahman As-Shafuri dalam kitabnya nuzhatul majalis wa muntkhabun nafais sebagai berikut.

Suatu ketika dua lelaki bertamu ke pada Nabi Daud as., bersamaan dengan itu malakul maut menginformasikan bahwa salah satu dari mereka akan mati tujuh hari lagi. Namun setelah beberapa minggu Nabi Daud as masih melihat mereka berdua. Nabi Daud pun bersoal kepada malakul maut “bagaimana mereka bisa tetap hidup?”. Malakul maut menjawab “sepulang bertamu darimu mereka melanjutkan perjalanan utk bersilaturrahim, maka Allah memenjangkan umurnya 20 tahun lagi”.

Baca Juga >  Banyak Keturunan Rasulullah SAW yang Disamarkan

Ad-dhahak berpendapat bahwa seorang hamba yang umurnya tersisa tiga hari kemudian dia menyambung tali silaturrahim, maka Allah akan menyambung umurnya menjadi 30 tahun. Begitu juga sebaliknya seseorang yang jatah umurnya masih 30 tahun, kemudian dia memutus tali silaturrahim, maka Allah bisa memutus umurnya menjadi tiga hari.

Nabi Musa Kalimullah as. pernah bertanya “Ya Allah bagaimana bisa bersilaturrahim, sementara jarak tinggal di antara kita sangat jauh sekali? Gusti Allah menjawab “sayangilah mereka, sebagaimana engkau menyayangi dirimu sendiri”. Syaikh Abdurrahman As-Shafuri menjelaskan bahwa dalam Islam silaturrahim jarak jauh bisa dilakukan dengan mengirim hadiyah dan mengirim salam (nuzhatul majalis wa muntkhabun nafais, jilid 1 hal 178).

Penulis: Dr KH Ulil Abshar, Wakil Sekjen PBNU.

Barangkali ada yang berminat dengan teks ashlinya berikut kropingannya.

Memutus Rantai Kematian dengan Silaturrahim