bangkit november 2017

Majalah Bangkit Edisi November 2017

Majalah Bangkit – Tantangan kebangsaan hari ini diantaranya adalah radikalisme dan lemahnya ekonomi umat. Dalam hal inilah NU dituntut peranannya. Bahkan tidak hanya NU, lembaga-lembaga pemerintah pun harus menjemput bola untuk mencari solusi. Terkait radikalisme, Drs. H. Buchori Muslim, M.Pd.I, Kepala Kemenang Bantul, Yogyakarta, turut merasa prihatin sebab hal tersebut bisa menggeser nilai-nilai kebangsaan. Karena itu, beliau berharap NU yang sejak dulu setia dengan NKRI, bisa memberikan solusi atas persoalan ini.

“Kami di Kementerian Agama juga berusaha melangkah dan menggandeng berbagai pihak, seperti Wakil Bupati dan guru-guru pendidikan agama Islam untuk diberikan pandangan-pandangan agar ketika memberikan pelajaran tidak menyampaikan ajaran-ajaran yang keras kepada peserta didik. Misalnya menyampaikan jihad yang hanya bermakna perang. Hal itu kan penting untuk anak-anak sebagai generasi penerus,” tuturnya.

Senada dengan Buchori, Kepala Kemenag Kota Yogyakarta H. Sigit Warsita, MA., menjelaskan bahwa menampilkan wajah agama di kota jangan sampai menggunakan cara kekerasan, tetapi harus bisa ngemong, tidak saling melukai dan mencaci. Termasuk menampilkan wajah Islam di Kota Yogya, yang penduduknya sangat beragam. Yogya itu miniatur Indonesia. Tidak bisa memaksakan kehendak, semua saling menghargai dan menjaga kerukunan.

“Di kota, kita mengelola beragam warna manusia. Kita harus cerdas dalam ngemong warga kita. Jangan sampai mereka takut dengan Islam, karena Islam itu damai dan penuh kasih sayang.  Dengan ngemong ini juga, kita bisa merawat Bhineka Tunggal Ika, saling seimbang dalam menjaga kerukunan dan persatuan,” tegas Sigit saat diwawancarai Bangkit di kantornya (31/10).

Baca Juga >  Majalah Bangkit Edisi Mei 2017

Sementara itu, Kepala Kemenang Gunung Kidul, Yogyakarta, H. Aidi Johansyah,S.Ag.,M.M, menyatakan bahwa radikalisme banyak menyasar kaum muda yang tengah mengalami proses pencarian jati diri atau visi kehidupan. ISIS juga merekrut anak-anak muda dengan diiming-imingi gaji yang tinggi. Mereka tidak mempunyai pekerjaan dan berjihad untuk mendapatkan uang.

“Potensi ekonomi inilah yang juga menjadi salah satu penyebab radikalisme. Tetapi tidak hanya itu saja. Sekarang juga banyak aliran-aliran yang mudah menghakimi orang lain, mengkafirkan yang tidak sepaham. Ini sudah muncul di sekolah-sekolah, kampus-kampus. Idola-idola kaum muda kita juga mereka para tokoh yang cenderung berpaham radikal-intoleran itu. Ini tantangan kita untuk menggerakkan Islam Ahlussunnah wal Jama’ah yang memberikan rahmat bagi semua,” tandas Aidi.

Baca ulasan lengkapnya di Majalah Bangkit edisi November 2017

_

Hotline pemesanan & berlangganan majalah :
085740902266 ( Ichin )
089668307556 ( Udin )