Pernikahan Kiai Zainal Abidin Munawwir

Kisah Pernikahan KH Zainal Abidin Munawwir

Posted on

Oleh: KH Munawir AF, Mustasyar PWNU DIY

Gak terasa waktu berjalan terus. Jarum jam pun gak mau berhenti. Tahu-tahu sudah malam – malam Sabtu. Wow… saya ada janji. Terpaksa hp tinggal lagi, pulang-pulang sudah larut malam. Saya pikir saya masih belum menulis kyai kita, KH. Zainal Abidin Munawwir. Bahkan ada juga yang mengingatkan. Makasih kawan.

KLIK DISINI untuk mengirim WA (tanpa harus menyimpan nomor terlebih dahulu) ke Call Center NU Care LAZISNU DIY, untuk konsultasi/tanya-tanya.

KH Zainal Abidin Munawwir kawinnya sangat terlambat. Kan pathokannya Rasulullah saw – beliau berusia 25 tahun. Kiai Zainal usia sekian masih asyik-asyiknya mengajar. Siang malam selalu bergumul dengan kitab dan murid/santri. Barangkali itu yang menyebabkan kawin terlambat.

Tetapi tidak juga, sebab Mbah Ali pernah bilang, “Piye Zainal kuwi kok ora ono sing cocok?”

Kelihatannya memilihkan calon untuk ustadz kita tidak gampang. Sekian lama, sekian tahun belum ada tanda-tanda yang disetujui. Malah akhirnya Gus Warson duluan, baru beberapa tahun kemudian Gus Zainal Abidin Munawwir menyusul. Kira-kira kalau tidak salah usia 46 tahun. Itupun konon Mbah Ali sedikit menekan.

Baca Juga >  Tafsir al-Bayyinah Ayat 2: Benarkah Nabi Tidak Bisa Membaca?

“Cape’ Zainal,” keluh Mbah Ali sambil bercanda.

Rupanya jerih payah Mbah Ali dibayar juga. Gadis Jatim, anak kenalan akrab Mbah Ali bersedia menjadi pendamping setianya. Semua ustadz, santri yang dengar itu merasa plong. Sambil mengucap Alhamdulillaaaah. Saya teringat Mbah Ali memuji calon istri Gus Zainal, ”cantik, aktifis, pinter, dan yang dicari memang seorang kyai, pas!”

Dan kini sudah dikaruniai 2 anak laki-laki dan 1 anak perempuan. Semoga dapat menjadi generasi penerus, meneruskan cita-cita abahnya. Amin…

Allahu yarham,

Krapyak, 20-03-2015