Kisah Pemakaman dan Rahasia Air Bekas Memandikan Jenazah Rasulullah SAW

Kisah Pemakaman dan Rahasia Air Bekas Memandikan Jenazah Rasulullah SAW

Posted on

Pada tanggal 12 Rabiul Awal, Allah Subhanahu Wa Ta’ala memanggil kekasihNya, Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam untuk meninggalkan dunia untuk selama-lamanya. Ketika Rasulullah Saw wafat, seluruh umat Islam di penjuru dunia diliputi kesedihan yang mendalam.

Bahkan ketika mendengar kabar tersebut, Umar bin Khattab seperti tidak ikhlas. “Siapa yang bilang Rasulullah sudah wafat, akan aku tebas batang lehernya!” ancam Umar. Namun akhirnya dengan lapang hati Umar pun bisa menerima keputusan Allah tersebut.

KLIK DISINI untuk mengirim WA (tanpa harus menyimpan nomor terlebih dahulu) ke Call Center NU Care LAZISNU DIY, untuk konsultasi/tanya-tanya.

Prosesi pengurusan dan penguburan jenazah Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam berlangsung pada siang hari Selasa. Orang-orang memandikan jenazah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam tanpa melepas pakaian dari jasad manusia paling mulia itu.

Adapun merujuk Sirah Ibnu Hisyam, yang melakukan prosesi memandikan jenazah Rasulullah Saw adalah Ali Bin Abi Talib, Abbas Bin Abdul Muttalib, Al-Fadhl Bin Abbas, Qutham Bin Abbas, Usamah Bin Zaid, Syuqran Maula kepada Rasulullah dan Aus Bin Khauli . Air yang dipakai berasal dari sumur Ghars yang terletak di Quba.

Prosesi pengkafanan, mereka melapisi jasad mulia Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam dengan tiga helai kain putih berbahan katun. Tidak dipakai baju kurung dan penutup kepala. Setelah itu, jenazah beliau Saw diletakkan di atas ranjang di rumah Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam dan ‘Aisyah. Rumah itulah yang menjadi lokasi Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam menjemput ajalnya.

Di antara para sahabat sempat terjadi diskusi tentang dimanakah jasad Rasulullah Saw akan dimakamkan. Ada yang menyarankan supaya jenazah beliau dikuburkan di Makkah, bahkan ada yang mengusulkan di Baitul Makdis di Palestina.

Ditengah diskusi tersebut, Abu Bakar berkata, “Aku pernah mendengar Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda, ‘Tidak ada seorang nabi pun meninggal, kecuali dikubur di mana dia dicabut nyawanya.” Ali bin Abi Thalib lantas membenarkan pernyataan Abu Bakar itu.

Setelah mendengar pernyataan Abu Bakar dan Ali, semuanya pun sepakat, jasad Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam akan dikubur d tempat beliau menghembuskan nafas terakhirnya yaitu di dalam rumah Aisyah ra yang kini menjadi bagian dari Masjid Nabawi.

Abu Thalhah Zaid bin Sahal al-Anshari kemudian menggali tanah di bawah tempat Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam wafat. Ada empat orang yang memasukkan jasad mulia itu ke dalam liang lahat. Mereka adalah Ali bin Abi Thalib, al-‘Abbas, al-Fadhl, dan Qutsam bin ‘Abbas.

Muawiyah bin Abu Sofyan yang menyaksikan prosesi itu teramat berduka hatinya. Diam-diam Abu Sofyan menjatuhkan cincinya ke atas jasad Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam. Maka ketika keempat orang itu hendak menimbun kuburan beliau dengan tanah, Muawiyah lalu berkata, “Cincinku terjatuh ke dalam sana, izinkan aku mengambilnya.” Ali bin Abi Thalib pun mengizinkannya. Setelah turun ke liang lahat, Muawiyah tidak hanya mengambil cincinnya, namun juga mencium kening Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam. Sesudah itu, dia naik lagi ke atas.

Baca Juga >  1924: Tongkat Kepemimpinan Diserahkan Kepada Kiai Hasyim Asy’ari (4)

Mughirah bin Syu’bah melihat apa yang dilakukan Muawiyah, ia pun terbersit keinginan untuk mendapatkan kesempatan yang sama. Mughirah lalu sengaja menjatuhkan cincinnya ke dalam liang lahat. Maka dia pun meminta kepada Ali agar diizinkan mengambil cincin tersebut. Setelah Ali membolehkan, turunlah Mughirah ke dalam liang lahat untuk menjumpai jasad Nabi Saw sekali lagi. “Sungguh, aku ingin menjadi manusia terakhir yang menyentuh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam,” kata Mughirah.

Setelah Mughirah naik, liang lahat pun ditimbun tanah. Kemudian Bilal bin Rabah yang membawa bejana geriba memercikkan air ke atas kuburan tersebut dan menaburi kuburan Rasulullah Saw dengan batu-batu kerikil yang diperolehnya dari halaman rumah beliau. Terakhir, kuburan beliau Saw ditinggikan sekira satu jengkal dari permukaan tanah.

Lalu kemanakah perginya air bekas memandikan jenazah Rasulullah yang mulia?

Dalam sebuah forum di Majlis Ta’lim Al-Munawwarah. Ada hal menarik yang berkaitan dengan kisah wafatnya Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam tersebut diatas. Suatu ketika di dalam sebuah Majelis Muktamar yang dihadiri banyak ulama dari penjuru dunia, As-Syaikh As-Sayyid Muhammad bin Mutawalli Asy-Sya’rawi Al-Husaini Mesir mengajukan sebuah pertanyaan yang tidak pernah ditanyakan sebelumnya.

“Kemanakah perginya air bekas memandikan jenazah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam?”

Tak ada satupun yang mampu menjawab pertanyaan itu kecuali pimpinan majelis itu sendiri yang berkata, “Berilah aku waktu hingga esok hari.”

Keesokan harinya ulama itu berdiri dan menjawab, “Air bekas memandikan jasad Rasulullah naik ke langit, lalu turun kembali ke bumi bersama tetesan hujan. Dimana air itu turun, maka di situ berdiri sebuah masjid.”

Syaikh Sya’rawi berkata, “Engkau benar. Darimana engkau mengetahuinya?”

Ulama itu berkata, “Semalam aku bermimpi bertemu Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam. Ma Syaa Allah. allahumma sholli ‘alaa sayyidina muhammad wa aalihi wa shohbihi wa sallim.”

“Rasulullah sedang bersama seorang laki-laki agung yang membawa sebuah Qindil (lentera).” lanjutnya.

Belum usai ulama itu berbicara, Syaikh Sya’rawi bertanya, “Apakah pemegang Qindil itu yang memberitahumu?”

Ulama itu berkata, “Benar! Rasulullah mengisyaratkan kepada pemegang Qindil itu untuk menjawab pertanyaanku, dan dia menjawabnya. Bagaimana engkau tahu bahwa yang menjawab pertanyaanku adalah pemegang Qindil itu?”

Syaikh Sya’rawi berkata, “Karena akulah pemegang Qindil dalam mimpimu itu.”

Wallahu a’lam bishowab.

Allahumma sholli ‘ala ruuhi sayyidina muhammad fil arwaah wa’ala jasadihi fil ajsaad wa’ala qobrihi fil qubuur wa’ala ‘alihi wa shohbihi wa sallim.

Penulis: Al-Musthofa.