Kiai Hamid Chasbullah Tambakberas, Punya Murid Jin dan Bisa Menghentikan Hujan

Kiai Hamid Chasbullah Tambakberas, Punya Murid Jin dan Bisa Menghentikan Hujan

Posted on

Kiai Hamid Chasbullah Tambakberas, Punya Murid Jin dan Bisa Menghentikan Hujan.

KH Abdul Hamid Chasbullah Tambakberas Jombang adalah adik kandung KH Abdul Wahab Chasbullah Tambakberas, pendiri dan penggerak NU. Kiai Hamid wafat pada tahun 1956, mendahului kakaknya, yakni Kiai Wahab yang wafat pada tahun 1971. Kiai Hamid menurunkan putra-putri dan cucu cicit yang kini mengasuh beberapa pesantren di bumi Tambakberas, yakni: Al-Muhajirin l, Al-Muhajirin ll, Al-Muhajirin Ill, Al-Muhajirin IV atau Al-Hamidiyyah, Al-Hadi I, Al-Hadi II, Sabilul Huda, Al-Mubtadiin, Al-Utsmani, As Salaam, Al-Maliki I, Al-Maliki ll.

KLIK DISINI untuk mengirim WA (tanpa harus menyimpan nomor terlebih dahulu) ke Call Center NU Care LAZISNU DIY, untuk konsultasi/tanya-tanya.

Semuanya bernaung di bawah Yayasan Pondok Pesantren Bahrul Ulum dan berlokasi di desa Tambakrejo Jombang. Ada juga keturunan beliau yang mengasuh pesantren di Singosari Malang dan Probolinggo. Keturunan yamg lain juga menyebar ke beberapa daerah. Kiai Hamid adalah sosok kyai yang fokus mengurus pondok dan santri, istiqomah “ngimami dan mulang ngaji”, tawadlu, hidup sangat sederhana, sabar, tegas berfikih, dan wira’i.

Salah satu karomah beliau adalah tidak bisa difoto. Hanya ada satu buah foto beliau, yang diambil oleh Kiai Malik (salah satu putra beliau). Itupun hasil cetak gambarnya tidak jelas alias kabur, buram. Demi mengenalkan sosok Mbah Hamid kepada anak cucu alumni, dan santri, maka keluarga berinisiatif menggali informasi tentang deskripsi fisik Mbah Hamid, selain juga tentang kisah hidup beliau.

Lukisan dalam foto mulai dibuat setahun yang lalu (2016) oleh seniman NU Jatim (Pak Nonot Sukrasmono), atas permintaan dan kesepakatan keluarga besar bani KH. Abdul Hamid Hasbullah. Lukisan Mbah hamid dibuat berdasarkan keterangan para sesepuh keluarga dan para alumni Tambakberas era 1950-an.

Hari rabu, 21 Juni 2017 (26 Ramadlan 1438 H), keluarga bani Hamid mengadakan buka bersama di ndalem kasepuhan dalam rangka kirim doa dan selametan launching lukisan Mbah Hamid yang sudah jadi beberapa hari sebelumnya. Dengan adanya lukisan tersebut, diharapkan bisa memudahkan kita semua semakin mengenal dan mencintai beliau.

Mbah Kiai Hamid juga dikenal sosok kiai yang sangat alim, zuhud, wirai, istiqomah, hafal Quran, langgeng wudhu dan ahli puasa. Salah satu kisah tentang karomahnya diceritakan Gus Ghozi Jogja saat hari raya Idul Fitri 1438 H di ndalem Mbah Wahab Chasbullah.

Baca Juga >  Kiai Sahal Mahfudh Itu Ahli Fiqih yang Tajam Mata Batinnya

“Mbah Hamid iku wali, itu yang menyampaikan Mbah Wahab. Suatu ketika saya bertanya ke Mbah Wahab, “Mbah kenapa jenengan selalu sowan langsung ke Mbah Hamid setiap datang dari Jakarta.”

“Arek iku wali (dia itu wali),” jawab Mbah Wahab.

“Mbah Hamid punya rutinan ngaji jam 8 sampai 9 pagi di ndalem kesepuhan sebelah utara masjid tapi tidak ada yang ikut ngaji. Mbah Hamid bacakan kitab tapi majlisnya kosong. Namun, saat ngaji, apabila ada kendaraan lewat di depan beliau, pasti kendaraan tersebut mogok. Kalau yang lewat dokar atau bendi, pasti kudanya tiba-tiba berdiri, melenguh dan tidak bisa jalan. Usut punya usut ternyata memang pada saat itu Mbah Hamid sedang mengaji khusus santri dari bangsa jin. Setiap jam 8 hingga 9 pagi, tidak ada yang berani lewat depan ndalem beliau sebab Mbah Hamid sedang mulang dan mengajar jin,” cerita Gus Ghozi.

Karomah lainnya adalah kemana-mana, Mbah Hamid selalu jalan kaki. Tapi anehnya, setiap ketemu orang yang mengucapkan salam padanya, beliau langsung hilang seperti jalan tapi super cepat. Dan itu disaksikan banyak orang pada zamannya, baik ketika ngaji rutin ke Sambong, ke Krapak, Kalijaring dan tempat lainnya.

Belum lagi kesaksian Pak Isom Ahmadi riwayat dari ayahnya, Bapak Ahmadi Sambong Jombang. Ia bercerita bahwa Mbah Hamid pernah berjalan di tengah derasnya hujan tapi tidak basah. Mbah Hamid juga bisa menghentikan hujan dan mendatangkan hujan.

Hal yang demikian ini banyak yang menyaksikan, bahkan mendapatkan ijazahnya, diantaranya adalah Kiai Chudori Ngrawan, guru senior Bahrul Ulum Tambakberas Jombang.

Demikian kisah Kiai Hamid Chasbullah Tambakberas, Punya Murid Jin dan Bisa Menghentikan Hujan, semoga bermanfaat.

(Sumber: Buku Tambakberas: Menelisik Sejarah, Memetik Uswah, halaman 389-390).