Kecerdasan Gus Dur

Ketika Para Wartawan Itu Menguji Kecerdasan Gus Dur

Posted on

Kisah kecerdasan Gus Dur sudah masyhur sejak masa mudanya. Kecerdasan Gus Dur seringkali dipahami tidak lazim, sehingga membuat banyak orang penasaran. Termasuk para wartawan yang tetap ingin membuktikan dengan “mata kepala” sendiri tentang sosok Gus Dur. Kalau belum menyaksikan langsung, mereka masih belum yakin dengan “berita langit” yang seolah membesar-besarkan seorang Gus Dur.

Terkait penasaran para wartawan ini, almarhum Arswendo Atmowiloto seorang budayawan yang dikenal sangat dekat dengan Gus Dur, mengisahkan cerita yang unik. Saat itu, Gus Dur banyak diperbincangkan di kalangan wartawan majalah ZAMAN. Sebuah majalah mingguan yang diterbitkan oleh grup Tempo di era 1980-an. Ketika itu Tempo sedang berada di masa keemasannya. Dan kebetulan Ibu Sinta Nuriyah menjadi salah satu anggota redaktur majalah itu. Karena pekerjaan istrinya itu, maka Gus Dur mempunyai satu kesibukan baru yaitu mengantar kerja istrinya di pagi hari dan menjemputnya ketika pulang kerja di sore harinya.

KLIK DISINI untuk mengirim WA (tanpa harus menyimpan nomor terlebih dahulu) ke Call Center NU Care LAZISNU DIY, untuk konsultasi/tanya-tanya.

Keunikan Gus Dur yang menjadi ‘gunjingan’ para wartawan itu konon tentang kemampuan Gus Dur yang jika menulis, beliau tanpa membawa sumber tulisannya sebagai referensi. Dan bahkan beliau bisa tetap menulis walaupun disampingnya ada orang yang sedang mengajaknya bicara. Dan anehnya ketika tulisan itu selesai dengan disertakan catatan kaki di bawahnya sebagai referensi, lalu ketika ditelusuri ternyata semua catatan kaki itu sesuai dengan sumber aslinya.

Lalu muncullah ide ‘nyeleneh’ di kalangan wartawan, mereka hendak ‘ngerjain’ Gus Dur dengan cara mereka akan ramai-ramai menanyai Gus Dur pada saat beliau sedang menulis. Tujuannya ingin tahu apa benar Gus Dur itu jika sedang menulis tak akan terganggu meskipun beliau diajak bicara. Mereka hapal dengan kebiasaan Gus Dur yang selalu datang lebih awal ketika menjemput Ibu Nuriyah dan beliau akan menulis sambil menunggu Ibu Nuriyah selesai kerja.

Pada suatu petang, datanglah Gus Dur ingin menjemput Ibu Nuriyah dengan memakai Vespa antiknya. Sesampainya di kantor, sekitar jam 16.00, karena sang istri belum selesai kerja, maka untuk mengisi waktu seperti biasa Gus Dur pun lalu menulis dengan memakai mesin ketik yang ada. Yang mana tulisan itu nantinya akan dijadikan sebuah rubrik di salah satu kolom majalah ZAMAN.

Baca Juga >  Gus Dur dan 20 Menit di Kamar KH Abdullah Faqih Langitan

Menurut Arswendo, Gus Dur itu bisa menulis tentang apa saja. Kadang tentang politik, kebudayaan dunia, olahraga, atau tentang diskusi seputar agama. Dan pengetahuan dalam banyak hal inilah yang mendorong para wartawan ingin belajar banyak dari Gus Dur sekaligus ingin ‘ngerjain’ Gus Dur juga.

Melihat Gus Dur yang tengah asyik menulis, mereka lalu datang dengan mengerumuni beliau. Setelah mengucapkan salam ke Gus Dur, satu persatu mereka mulai bertanya tentang apa saja. Ada yang bertanya tentang politik, olahraga, kebudayaan, atau juga tentang agama. Dan Gus Dur menjawab semua pertanyaan itu sambil tersenyum dan sesekali tertawa.

Saking asyiknya para wartawan itu bertanya, mereka tak sadar bahwa sebenarnya Gus Dur itu sudah merampungkan tulisannya. Dan saat Ibu Nuriyah keluar kantor lalu menghampiri Gus Dur, lalu beliau berkata pada para wartawan yang sedari tadi mengerumuninya.

“Ini mas tolong kasihkan ke redaksi, lumayan buat nambah-nambah halaman…”

Saat itulah para wartawan itu kaget dan menggumam… Lho kok sudah selesai? Kok bisa yah nulis sambil ngobrol?

Gus Dur pun berdiri bersiap untuk pulang. Namun belum sempat Gus Dur menghidupkan vespa antiknya, ada wartawan yang mungkin karena tak bisa menahan rasa penasarannya, dia mendatangi Gus Dur lagi sambil bertanya,

“Gus, tadi njenengan itu kapan berhenti nulisnya?”

Lalu dijawab Gus Dur sambil terkekeh,

“Sampean aja yang ndak melihat….”

Wartawan itu melongo, tertegun tak mengerti. Dan Gus Dur pun segera berlalu untuk menggandeng pulang sang istri tercinta.

Itulah sosok Gus Dur. Kecerdasannya membuat para wartawan itu takjub. Bahkan para wartawan itu sendiri sampai “kelupaan” mengamati gerak-gerik Gus Dur yang sedang mereka kerjai. Tapi ya itu, Gus Dur tetaplah seorang Gus Dur. Seserius apapun itu, akhirnya tetap menjadi humor yang menyegarkan orang-orang di sekitarnya.

Memang Gus Dur itu sosok yang selalu membuat orang lain bahagia.

(Mukhlisin/Bangkitmedia.com)