mbah dullah salam dan mbah mufid pandanaran

Ketika Kiai Mufid Pandanaran Ziarah ke Makam Syekh Mutamakkin Kajen

Posted on

KH Mufid Mas’ud adalah Pendiri Pesantren Sunan Pandanaran, Sleman Yogyakarta. Beliau adalah sosok hafidz Al-Qur’an yang melahirkan banyak ulama’. Kegigihan dan kedisiplinan beliau dalam mendidik santrinya menjadi inspirasi bagi siapapun dalam mengembangkan pendidikan berbasis nilai Al-Qur’an. Kiai Mufid tidak lain adalah menantu KH Munawwir Krapyak, mahaguru Al-Quran Nusantara. Kini, pesantren Sunan Pandanaran berkembang pesat di bawah kepemimpinan putranya, yakni KH Mu’tashim Billah.

Kiai Mufid Mas’ud dikenal sebagai kiai yang suka ziarah dan silaturrahim. Salah satunya beliau rutin ziarah ke makam Syekh Ahmad Mutamakkin Kajen Pati. Selesai ziarah, beliau langsung mengutus Pak Ridwan (sopir) untuk menengok daleme (rumah) KH Abdullah Salam Kajen di PolGarut (Ujung barat desa Kajen) yang berjarak sekitar 400 meter dari makam Syekh Mutamakkin.

KLIK DISINI untuk mengirim WA (tanpa harus menyimpan nomor terlebih dahulu) ke Call Center NU Care LAZISNU DIY, untuk konsultasi/tanya-tanya.

Mbah Dullah, panggilan akrabnya, adalah sosok ulama’ kharismatik Kajen yang karomahnya dikenal luas di berbagai penjuru Nusantara. Mbah Dullah tak lain juga masih keturunan Syekh Mutamakkin Kajen. Mbah Dullah juga dikenal sebagai sosok hafidz Al-Quran yang berguru kepada KH Arwani Amin, Kudus.

Baca Juga >  Apa Ilmu Sejati yang Dicari Santri? Ingat Nasehat KH As’ad Syamsul Arifin

Saat itu, jika kebetulan Ndalem Mbah Dullah sudah ada tamu, maka Mbah Mufid menghendaki sowan. Namun jika nDalem Mbah Dullah sedang tidak ada tamu, maka Mbah Mufid memutuskan untuk tidak sowan. Hal ini bentuk keta’dziman, dikarenakan Mbah Mufid berhati-hati jikalau ternyata Mbah Dullah sedang istirahat dan tidak ingin istirahat Mbah Dullah terganggu.

Padahal kemungkinan, kendati belum ada tamu pun, jika Mbah Mufid menghendaki sowan, kemungkinan besar Mbah Dullah tentu sangat tidak keberatan dan senang ditamuni Mbah Mufid.

Itulah adab dan akhlaq ulama’ Nusantara. Sangat santun dan saling menjaga satu dengan yang lain. Semoga berkah para ulama’ mengalir kepada kita semua. (Yayan/Bangkitmedia.com)