kejujuran

Kerasnya Jakarta dan Kisah Kejujuran Kang Deni

Senin malam, 6 Agustus jam 23 WIB, selesai acara di Ristek Dikti, saya dengan kawan lama menikmati ayam goreng di warung Tiga Dara Hayam Wuruk Jakarta. Hati ampela, ceker goreng dan tempe gorengnya luar biasa enak. Habis makan, kita langsung balik ke hotel tak jauh dari warung.

Di kamar hotel, sekitar jam 12-an, saya baru sadar kalau hp saya tidak ada. Tapi, tidak kepikiran mau telpon hp itu dari hotel. Karena lelah, meskipun dihantui oleh kehilangan hp, saya tidur lelap. Dalam saya lelap tidur, di warung Tiga Dara, Kang Deni pemilik warung, justeru resah gelisah. Ia menemukan hp saya.

Ia lalu bolak balik datang ke hotel menanyakan kalau ada yang kehilangan hp.

Ia menanyakan juga ke resepsionis tapi tdk ada hasil. Kang Deni lalu buat berita status di WA saya, kalau hp saya ditemukannya. Tapi, tidak ada yang menelpon. Selagi saya tidur lelap di kamar hotel yang nyaman, malam itu Kang Deni di warungnya tidak dapat tidur hingga pagi, menunggu kalau kalau ada yang telepon. Tapi tidak ada yang telepon.

Baca Juga >  Berkah Maulid dan Kisah Pemuda Bebas Hukuman Qishos

Selasa pagi jam 6, Kang Deni sudah di lobby hotel, menanyakan lagi tentang saya, dan akhirnya berhasil mengetahui kamar saya jam 7-an. Saya lalu diminta turun ke lobby oleh resepsionis. Hp saya diserahkan Kang Deni.

Dan, ketika saya hendak menitipkan semacam uang saku, Kang Deni menolak keras.

“Ini sudah kewajiban saya,” timpalnya.

“Uangnya untuk keperluan bapak saja,” ia menambahkan.

Di kamar hotel yang luas, saya merenung, di tengah keras dan buasnya kehidupan di metropolitan Jakarta, termasuk kehidupan politik menjelang Pilpres 2019, masih ada orang yang berjiwa sangat tulus, berhati mulia dan memiliki kesalehan yang sangat tinggi seperti Kang Deni.

Semoga Allah SWT membalas kebaikan Kang Deni dengan pahala dan kebaikan berlipat ganda. Amiin ya rabbal ‘alamiin.

Selasa, 7 Agustus 2018

(Penulis: Prof Yasraf Amir Piliang, Guru Besar ITB)