Ini Rahasia dan Hakekat Ibadah Sayyidah Rabi'ah Adawiyah

Ini Rahasia dan Hakekat Ibadah Sayyidah Rabi’ah Adawiyah

Posted on

Syaikh Sufyan at-Tsauri. Namanya sangat sering termaktub dalam kitab-kitab kuno; turats. Petuah-petuahnya hebat. Mengena dan taktis. Namun, jarang yang tahu kalau beliau pernah berguru pada kaum hawa.

Iya! Suatu ketika. Beliau sowan menemui Sayyidatina Rabiah al-Adawiyyah sang wali wanita. Dengan duduk bersimpuh dihadapannya. Orang yang kondang alim itu berkata: “Tolonglah ajari aku. Bagaimana Gusti Allah Ta’ala memberikan faidah keluhuran ilmu hikmah pada Anda”.

“Ah, andai saja kau mau meninggalkan rasa cintamu pada dunia, niscaya kau akan menjadi lelaki paling beruntung” jawab Sayyidatina Rabiah.

Syaikh Sufyan mengakui dan taslim; menerima lapang dada wejangan dari wanita mulia itu. Sebab, walaupun beliau alim dan zuhud, hanya saja lebih mementingkan kitab-kitab hadis dan menghadap manusia. Toh padahal menurut pandangan ulama shufi. Keduanya adalah pintu-pintu dunia (Benar, kan?! Kalau ampuh ilmu hadist, fiqh dan lainnya. Lalu menampilkannya dihadapan manusia. Bukankah akan mudah meraih kesenangan duniawi?! Baik materi maupun koneksi)

“Baik,” tanya Syaikh Sufyan sekali lagi, “Aku tahu, setiap hamba punya ciri khas, sebagaimana setiap iman ada hakikatnya. Apa hakikat Iman anda?”

“Aku tidak menyembah Allah karena takut neraka, sebab itu bisa memposisikanku layaknya hamba kurangajar. Lawong hanya beribadah ketika takut. Tidak menyembah Allah karena ingin surga, sebab bisa menjadikanku laiknya pedagang buruk. Hanya menyembah kalau dibayar. Tapi, aku menyembah karena cinta dan rindu pada-Nya!”

Baca Juga >  Qunut Shalat Witir pada Pertengahan Akhir Bulan Ramadan

Itu adalah madzhab; laku para Arifin dan Muhaqqiqin; Yang mampu merasakan kehadiran Allah dan mampu mengutarakan dasar dengan detail. (Sangat jauh. Bahkan bertolak belakang dengan pembuat status 😭😭😭)

Makanya. Di awal ngaji Sarah Hikam. Almukarram Mbah Yai Anwar Manshur Athaalallahu Umrahu Ma’ass-Shihhah wa Barkah dawuh: “Wong sing paling duwur: Ibadah sing penting nglakoni perintah Allah Ta’ala”.

Iya, manusia tertinggi adalah yang tetap beribadah. Namun kualitas ibadahnya hanya murni perintah Allah Ta’ala. Mengakui sebenarnya. Bahwa ia hanyalah seorang hamba, seorang budak. Yang hidup matinya. Kehendak dan lakunya. Tergantung kehendakNya. Duh!

Penulis: Robert Azmi, alumni Pesantren Lirboyo Kediri.