Gus Baha' dalam haul mbah hamid pasuruan

Ini Cara Menjadi Wali Allah Menurut Pandangan Gus Baha’

Posted on

“Sejak kecil, saya sering diajak bapak saya sowan Mbah Hamid Pasuruan. Makanya, saya sejak kecil sudah ingin jadi wali. Akhirnya, saya menghafalkan dziba’, burdah, dan lainnya. Karena untuk jadi wali, saat pemahamaan saya waktu itu, diharuskan hafal kitab itu semua.”

Demikian salah satu yang dikatakan Rais Syuriah PBNU KH Bahauddin Nursalim (Gus Baha’) dalam acara Haul ke-38 KH Abdul Hamid bin Abdullah Umar, di lingkungan Pesantren Salafiyah Kota Pasuruan, Rabu 06 November 2019. Acara haul ini dihadiri lebih dari 30 ribu masyarakat pecinta Mbah Hamid.

“Dulu, waktu kecil saya punya cita-cita jadi wali. Tapi ketika besar kok jadi wali kok susah ya. Mbah Hamid ini termasuk wali jalur sulit. Kalau wali dari jalur aneh itu gampang. Kelihatan aneh, lalu dipanggil wali,” tegas Gus Baha’ disambut tawa para jama’ah.

Menurut Gus Baha’, Mbah Hamid ini wali jalur ilmu. Mbah Hamid ini pernah ngaji kepada Kiai Kholil Kasingan, juga ngaji lama kepada Mbah Dimyati Tremas, adiknya Syekh Mahfudz At-Turmusi.

“Mbah Hamid dulu ngaji di Tremas kitab Jam’ul Jawami’. Ini kitab sulit, ngajinya juga lama. Saya juga pernah ngaji kitab ini dengan Mbah Maimoen, sampai khatam. Kitab ushul fiqh itu memudahkan kita jadi wali. Kenapa? Karena ushul fiqh memberikan penjelasan soal kebenaran dari syariat Allah. Lha, syarat kebenaran itu sendiri biasanya harus disepakati oleh para ahlinya,” tutur Gus Baha’.

Makanya, lanjut Gus Baha’, jadi wali itu biasanya diproklamirkan oleh wali juga, bukan oleh menteri agama. Mbah Hamid jadi wali dimaklumatkan oleh Habib Ja’far bin Syaikhon. Mbah Hamid dulu ngaji muqobalah kitab Ihya dengan Habib Ja’far. Mbah Moen masyhur jadi wali juga karena pernah dimaklumatkan Mbah Hamid sebagai wali muda.

Baca Juga >  Imam Ghazali Membagi Tiga Jenis Manusia dalam Beragama

Terkait ushul fiqh ini, Gus Baha’ mencontohkan tradisi ngopi para santri. Bagi Gus Baha’, kang santri yang sedang ngopi itu bukanlah sebatas ngopi, tapi itu meninggalkan keharaman. Tidur juga sama. Karena tidur kita bisa meninggalkan maksiat. Kita tidak jadi dugem, diskotik, dan lainnya.

“Tidur saja itu suatu ibarat dari kita meninggalkan keharaman,” tegas Gus Baha’ disambut tawa meriah para jamaah.

Gus Baha’ kembali mengaku sejak kecil sudah ngefan sama Mbah Hamid Pasuruan. Beliau mengagumi para wali seperti Mbah Hamid, Mbah Maimoen, yang mereka setia lewat jalur ilmu.

“Saya minta pendaftaran wali itu lewat jalur ilmu saja. Yang memudahkan kita jadi wali adalah pikiran kita mengikuti apa yang tegaskan Rasulullah SAW. Ini ada dalam kitab Musnad Ahmad. Di sini, orang mukmin itu selalu diantara dua kebaikan. Satu kebaikan selesai, kemudian menunggu kebaikan selanjutnya. Dari subuh ingin segera ketemu dhuhur. Dari Dhuhur ingin ketemu ketemu ashar, dan seterusnya. Maka kita niatkan selalu untuk kebaikan berikutnya,” pungkas Gus Baha’.

Tapi Gus Baha’ juga mengingatkan bahwa orang mukmin itu juga berada dalam dua ketakutan. Pertama, ketakutan masa lalu, bagaimana rahasia Allah atas masa lalu kita. Kedua, ajal yang akan datang. Allah juga punya rahasia untuk ajal kita.

“Makanya, manusia jangan sombong. Di sini ilmu sangat penting agar mengajari manusia untuk selalu ada husnuz dzan kepada Allah dan sesama. Manusia itu saat baik saja ada buruknya, bagaimana malah kalau menjalani keburukan,” pungkas Gus Baha’. (Abu Umar/Bangkitmedia.com)