jokowi sungkem ibu

Ini Cara Ibu Sujiatmi Notomiharjo Mendidik Sosok Presiden Joko Widodo

Posted on

Sambutan hangat itu diberikan oleh tuan rumah ketika kami mengunjungi rumahnya di bilangan Sumber, Kecamatan Banjarsari, Solo, pada Ahad siang, awal November 2016. Sang tuan rumah bukan orang sembarangan. Beliau adalah Sujiatmi Notomiharjo, ibunda dari Presiden Joko Widodo.

Kesederhanaan yang selama ini kami tangkap dari sosok Joko Widodo (Jokowi) rupanya memang mewarisi dari figur sang ibunda yang sederhana, bersahaja, bertutur kata sopan, dan berperilaku santun terhadap siapa pun. Ditemani putri bungsunya, Titik Ritawati, Ibu Sujiatmi berkenan memberikan waktunya untuk wawancara khusus.

Bagaimana beliau mendidik anak-anaknya, termasuk Bapak Jokowi, nilai-nilai apa saja yang perlu ditekankan pada anak-anak sejak dini? Berikut petikan selengkapnya.

Menurut Ibu, apa yang paling penting dalam mendidik anak-anak?

Saya rasa, sama dengan ibu-ibu yang lain. Mendidik anak itu demi kebaikan anak semuanya. Saya tidak ada yang istimewa. Dari kecil, anak-anak saya didik, besok kalau besar, jujur harus dipegang, dengan orangtua harus menghormati.  Ketika mereka memilih bekerja apa saja boleh, terserah pilihan mereka. Tapi yang harus dipegang adalah jujur, kerja keras dan ikhlas. Ketika mereka sudah berumah tangga, pasti nasib anak-anak tidak sama. Meski anak-anak sama di kandungan. Kalau ada saudara yang berlebihan ekonomi, maka harus saling membantu. Dari keci anak-anak sudah dibiasakan, kalau ada yang kekurangan, yang kelebihan harus membantu. Semua anak harus rukun dan saling pengertian.

Apa saja hal khusus dari Bapak Jokowi?

Anak saya biasa saja. Jokowi anak cowok sendiri, paling besar sendiri. Ternyata dia bisa menuntun adik-adiknya yang tiga, cewek semua. Dari dulu bisa menjadi contoh, dalam hal sekolah, dan contoh di rumah. Misalnya ketika adik-adiknya punya pacar, Jokowi tahu. Ia mengarahkan, yang begini jangan, yang begini tidak cocok. Adik-adiknya penurut.

Ibu lebih keras dalam mendidik anak-anak daripada almarhum Bapak?

Saya dibilang anak-anak keras. Prinsipnya, kalau sudah tidak boleh ya tidak boleh. Misalnya ada yang ngapel ke rumah. Kalau sudah tidak boleh, ya ditaati. Dulu, waktu mereka masih anak-anak bilang ibu keras banget, Bapak tidak pernah memarahi. Saya bilang, kalau tidak ada yang memarai, malah teledor. Saya keras. Ibu galak, untuk kebaikan kamu, kalian merasakan kalau sudah punya anak.

Saat itu belum tahu faedah dan manfaatnya. Anak nomor dua, pernah mengatakan dulu ketika dimarahi ibu, lalu sewot dan pergi. Dia mengatakan, sekarang saya mendidik anak-anak ya seperti itu, malah lebih keras. Anak-anak cari jodoh, kalau mereka sudah seneng, saya nikahkan. Saya tidak menuntut apa-apa. Kalau sudah cocok, ya sudah. Bapak juga merestui. Namun kalau orangtua tidak cocok, ya bentrok dengan anak-anak.

Dulu Jokowi rampung kuliah, sudah  bawa pacar, ya sudah. Orangtua tidak memilihkan jodoh. Semua pilihan sendiri anak-anak, ditanggung sendiri. Saya sebagai orangtua sudah menjalani sendiri. Saya hanya nuturi (menasehati) anak-anak. Yang muda menghormati yang tua.

Apa saja sifat Pak Jokowi yang berbeda dari adik-adiknya?

Dari dulu dia sudah kelihatan bisa menjadi contoh bagi adik-adiknya. Dia sering mengalah. Contohnya, soal pakaian, Jokowi mengatakan adik-adik saya dulu. Saya gampang, saya kan cowok. Kalau diberi sangu (uang saku), ditabung. Kalau ditari (ditanya) mau beli apa, dia bilang tidak usah, untuk adik-adik saja. Kakak saya, anak-anaknya kebetulan cewek-cewek, sampai titip kepada Jokowi, titip mbak-mbakmu. Semua diawasi Jokowi. Dari dulu Jokowi memang mengayomi, ngemong (menjaga) adik-adiknya.

Adakah perbedaan perlakuan terhadap Pak Jokowi dan adik-adiknya?

Sama saja, tidak ada perbedaaan, Jokowi malah sering ngalah untuk adik-adiknya. Anak cowok satu juga tidak saya manja. Anak-anak perempuan sering menggoda itu Bu, anak lanang sing paling disayang. Saya tidak membedakan. Kalau beda malah ada yang meri (iri).

Apa doa khusus yang selalu Ibu panjatkan untuk Bapak Jokowi?

Sama saja doanya dengan yang lain-lain. Saya hanya berpuasa senin-kamis, salat tahajud, dhuha, salat rawatib, dan sunah-sunah lain semampu saya. Berdoa untuk anak-anak, cucu sembilan orang, dan cicit satu orang.

Apa saja pesan-pesan khusus yang sering Ibu sampaikan ke Bapak Jokowi?

Saya cuma mengingatkan saja. Kamu bukan hanya milik keluarga, sekarang sudah punya bangsa Indonesia. Ketika, sekali sekali pulang ngumpul di sini. Waktunya sudah tidak ada. Kalau ke sini sudah ditunggu tamu-tamu. Sepuluh tahun kok naik pangkat tiga kali. Kamu harus bersyukur jangan menggak-mengok (belak-belok), lurus saja. Jangan aneh-aneh diberi amanah sama rakyat, sama Allah. Dijalankan dengan baik.

Apa saja kesukaan Bapak Jokowi kalau pulang ke Solo?

Kesukaananya pecel sambel tumpang. Kalau pulang, saya siapkan pecel sambel tumpang. Selain itu juga suka makanan yang ada kulit-kulitnya. Seperti, pisang rebus, kacang rebus. Kalau makanan yang tidak ada kulit, tidak terlalu suka. Jokowi kalau makan ikrik (memilih-milih), dan sedikit sekali. Kemarin waktu saya belikan sate Pak Bejo kesukannya yang diambil cuma dua tusuk. Katanya capek, Bu, terus tidur.

Bagaimana Ibu mendidik Jokowi dalam hal pendidikan?

Anak-anak punya kesadaran sendiri. Saya hanya menengok kamar anak, kalau sudah belajar ya sudah. Tidak pernah ngoyak-oyak (mengejar-ngejar) anak belajar. Dia memang banyak belajar. Adik-adiknya juga begitu. Ketika dia tidak diterima di SMA Negeri 1 Solo, kecewa. Akhirnya masuk SMA Negeri 6, sekolah yang baru berdiri. Dia tidak suka. Makanya sampai ngambek selama setahun. Dia minta pindah. Namun, ketika diminta ke luar kota, dia tidak mau. Selama tiga, empat bulan ngambek sering di kamar, tapi ternyata sinau (belajar).

Saya sering menengok ke kamarnya, ternyata belajar. Waktu kelas satu di SMA belum kelihatan bagus. Ketika kelas dua, dia mulai semangat, belajar digenjot dan menjadi juara kelas. Waktu kelas tiga, jadi juara umum. Waktu mau masuk perguruan tinggi, saya leskan privat di bimbingan belajar di Yogyakarta. Dia sinau terus, sementara teman kostnya yang lulusan SMA 1 Solo, pergi dolan ke mana-mana. Temannya bilang ke saya, Joko kok sinau terus. Dia diajak keluar tidak ikut. Saya jawab, Joko kan di SMA 6 biar dia sinau. Alhamdulillah dia diterima di UGM (Universitas Gadjah Mada). Kalau soal main pasti ada waktunya.

Baca Juga >  Membumikan Aswaja di Negeri Paman Sam (2)

Kamarnya Jokowi ada gitar, musik dombrang-dombreng, tidak apa. Yang penting belajar. Kalau magrib anak perempuan juga harus di rumah, tidak boleh pergi-pergi. Kalau sudah punya pacar, jam sepuluh harus pulang. Kalau lebihnya 10-15 menit, ya masih ditunggu.

Bagamana Ibu menginspirasi Pak Jokowi yang akhirnya menjadi wirausahawan seperti Bapak Ibu?

Itu sudah turunan dari Bapak saya yang wiraswasta, dagang  kayu. Saya dan suami dulu terjun di usaha kayu. Saya perempuan lama-lama belajar. Saya belajar sendiri menemukan jiwa wiraswasta. Saya membantu suami. Suami mencari glondong (kayu), saya di perusahaan. Kakak saya, usahanya jauh lebih besar. Kalau bagi saya yang penting cukup untuk sekolah anak-anak, tidak harus kaya raya. Saya didik anak-anak untuk sederhana. Kalau sudah cukup ya sudah. Jangan mewah. Semua yang berlebih pasti tidak baik. Makan berlebih, juga tidak baik. Harta dan uang berlebihan, juga tidak baik. Sederhana saja. Jadi apa saja terserah, yang penting jangan sombong, jangan mewah.

Dari dulu saya arahkan anak-anak untuk sederhana saja. Joko tertarik kuliah ke Fakultas Kehutanan karena eyangnya  yang punya usaha kayu. Saya senang saja, katanya dia mau jadi pengusaha besar, seperti eyang. Jokowi paling disayang eyang kakungnya. Joko adalah cucu kedua, setelah anak dari kakak saya. Eyang kakung dekat sama Jokowi.

Bagaimana sikap Ibu ketika Pak Jokowi akhirnya masuk dunia politik, diawali menjadi Walikota Solo, menjadi Gubernur DKI Jakarta, hingga menjadi Presiden RI?

Saya awalnya tidak setuju. Tiba-tiba, dia bilang, Bu, saya mau dilamar. Tidak ada rasan-rasan (cerita-cerita)  katanya dilamar jadi walikota. Saya bilang, perusahaan sudah jalan bagus, berkembang, kok malah mau jadi walikota. Perusahaan kan harus ditekuni sugguh-sungguh kok ditinggal, bagaimana perusahaan nanti. Gampang Bu, katanya, nanti diteruskan adik-adik. Saya mau umroh dulu. Sehabis umroh, Joko bilang, saya positif nyalon (mencalonkan diri). Ternyata setelah menjadi walikota, dia baru cerita, bahwa di sana tidak bisa tidur.

Dia bermimpi, atau gimana, ketika duduk, melihat dia naik kereta kencana dari Loji Gandrung ke Balaikota. Saya akhirnya bilang, kamu yang menjalani, kalau niatnya sudah begitu orangtua tinggal merestui.  Saya kan juga tidak tahu kalau ada anaknya menjadi presiden. Manusia itu rahasia Allah. Nanti sore mau jadi apa, ya saya tidak tahu. Besok-besok anak-anak saya jadi apa, saya juga tidak tahu. Saya tidak mengira, ada anak yang menjadi pejabat tinggi. Kami bukan orang kaya, pejabat tinggi, kok diberi amanah Allah. Yang penting jalankan betul-betul amanah.

Apa saja pesan Ibu ketika Pak Jokowi terjun di dunia politik?

Kamu mau jadi walikota harus siap segala-galanya. Harus siap uang, siap mental. Istri harus digembleng. Istrinya kan anak pegawai negeri yang kehidupannya stabil. Istri dan anak-anaknya dulu tidak membolehkan. Akhirnya mereka merestui. Saya dari dulu juga mendidik anak-anak peduli lingkungan. Saya dari rakyat kecil. Kalau sudah di atas, harus tahu yang di bawah. Ojo ndangak, nanti cengeng, harus ndingkluk juga. (Jangan mendongak terus, harus menunduk juga).

Saya biasa keliling di bantaran sungai. Anak-anak, cucu, saya ajak ke bantaran, biar mereka tahu penghidupan orang di bawah. Jangan lihat yang kaya di kota. Lihat juga yang miskin. Umpama jadi pejabat, jangan sombong. Saya tidak ada bayangan dia jadi pejabat, tahunya wiraswasta.

Yang membuat Pak Jokowi punya kemampuan memimpin masyarakat?

Kakeknya yang bilang, kamu di keluargamu adalah anak pertama, cowok sendiri. Jadi harus bisa ngayomi (mengayomi) adik-adikmu yang cewek.

Ketika Pak Jokowi diterpa masalah, apakah juga sering curhat ke Ibu?

Dari dulu curhatnya sama saya dalam hal apa saja. Dia sangat terbuka sekali ke saya. Kalau ada masalah, Jokowi selalu minta doa restu. Saya tahunya ada masalah dari televisi. Saya menonton TV yang ngantemi (memukuli) dari sana-sini. Bukan TV yang pro Jokowi. Saya tidak masukkan ke hati. Masalah dijalani apa adanya. Semua orang pasti ada masalah. Hati ditangisi masalah juga tidak selesai. Jokowi dibentur sana-sini, teman-teman saya yang sampai memegang dada, hatinya bagaimana. Saya bilang tidak apa. Kalau sudah dapat anugerah dari Allah pasti kuat.

Apa pesan khusus bagi para Ibu di Tanah Air, khususnya dalam memperingati Hari Ibu pada 22 Desember?

Saya tidak hebat. Cerita ringan-ringan saja. Saya cuma bisa menasihati anak-anak saya. Kalau untuk ibu-ibu saya tidak tahu. Semoga ibu-ibu bisa memimpin anak-anak  mereka menjadi anak-anak yang baik, menurut kedua orangtua. Semua ibu akan berbuat yang terbaik bagi anak-anak. Yang penting, mendidik anak itu harus jujur di segala bidang. Ojo milik punya orang lain, yang bukan hakmu. Dari kecil, anak-anak saya didik: yang bukan hakmu jangan kamu ambil. Jangan seneng punya orang lain.

Setelah Jokowi jadi walikota, nasihatnya ke Gibran, anak pertamanya, ternyata juga sama. Setiap ada even di Pemkot Solo dilarang menggunakan catering Gibran. Jokowi juga menasehati Gibran untuk mencari sendiri pelanggan di luar Pemkot. Di pemkot, sudah ada rezekinya orang lain. Orang pemkot ada yang mengatakan memilih ke Gibran karena makanannya, tapi tetap tidak boleh sama Jokowi. Kalau tidak diberi tahu sejak kecil, mungkin Jokowi tidak tahu. Sekarang dia bisa menanamkan ke anak-anaknya.

Apa nasehat buat anak-anak Indonesia?

Jaman sekarang, anak-anak banyak godaan. Semoga anak-anak bisa menurut dengan orangtua, menghindari hal-hal yang tidak diinginkan. Cucu saya kalau pulang, saya nasihati, hidup di kota besar, di kampus, tantangannya berat. Untuk anak cucu, hidup itu yang utama jujur, tidak serakah, tidak iri dengki. Di mana saja, hatinya nyaman, tidak ada pikiran. Kenyamanan memengaruhi pikiran yang baik. Kalau orang seneng milik punya orang lain, hatinya gelisah. Mensyukuri saja yang diberikan Allah. Nanti akan ditambah Gusti Allah.

(wawancara dilakukan oleh Sahabat Keluarga Kemendikbud, 2016).