imam al-ghazali

Imam Ghazali Membagi Tiga Jenis Manusia dalam Beragama

Posted on

Ada irama menarik dalam ragam kaum beragama. Di sini, Imam Ghazali mengutip dua bait puisi indah dalam kitab Ihya’ Ulumiddin. Dua bait Syair tersebut adalah:

عجبت لمبتاع الضلالة بالهدى # ومن يشتري دنياه بالدين أعجب

وأعجب من هذين من باع دينه # بدنيا سواه فهو من ذين أعجب

“Saya heran dengan seseorang yang membeli kesesatan dengan (bayaran berupa) petunjuk (yang ada pada dirinya). (Tetapi) orang orang yang membeli dunia dengan (bayaran berupa) agamanya, (itu) lebih mengherankan (dari orang yang pertama).”

“Lebih mengherankan lagi (dari pada kedua orang di atas) adalah orang yang menjual agamanya demi dunia orang lain. Dan (sungguh) ini lebih mengherankan dari keduanya.”

Dalam dua bait di atas, Imam Ghazali menyebutkan ada 3 jenis manusia beragama. Ketiga jenis manusia beragama tersebut adalah:

1. Orang yang membeli kesesatan, kejelekan dan kesalahan, dengan bayaran berupa kebaikan dan hidayah yang sebelumnya sudah ada pada dirinya.

2. Orang beragama tetapi menginginkan dunia, sehingga dia mau menjual agamanya demi mendapatkan dunia yang diidam-idamkan.

3. Orang beragama yang menjual agamanya hanya demi dunia, tapi bukan dunia yang kembali kepada dirinya, tetapi kembali kepada orang lain.

Jikalau ketiga model orang beragama yang telah disebut oleh Imam Ghazali di atas kita kontekstualisasikan pada kondisi umat Islam Indonesia zaman now yang sedang edan copras capres, maka saya melihat dan menilai bahwa kebanyakan kita ini masuk pada bagian yang ketiga. Yakni orang yang menjual agama kita, demi meraih dunia, dan lebih anehnya lagi, dunia itu bukan kembali pada kita, tapi kembali pada orang lain.

Kok bisa?

Lah iya, kita ini sering menjual agama dengan cara Ghibah, Membully, mencaci, menghujat, mengolok-olok, menyebarkan hoax, fitnah dan berbagai sikap permusuhan pada sesama umat Islam lainnya hanya gara-gara ingin mendudukkan seseorang pada kursi kekuasaan, yang jelas-jelas itu perkara duniawi. Bahkan tak jarang sasaran penjualan agama kita di atas tersebut adalah orang-orang yang mulia, seperti para ulama, kyai, abuya dan para habaib.

Baca Juga >  Ngaji Kitab al-Adab (3): Sholat sebagai Perbuatan Paling Dicintai Allah

Bahkan yang lebih unik lagi, bahwa ada sekelompok orang yang selalu mengingatkan orang lain untuk menghormati keluarga Nabi, mencintai keluarga Nabi, tapi saat sikap dan ijtihad sebagian keluarga Nabi tidak sesuai dengan keinginan mereka, tak jarang sebagian keluarga Nabi tersebut mereka Bully, caci dan Hujat.

Memang adil sejak dalam berfikir itu sulit.

Kekuasaan dan jabatan ini akan di dapatkan oleh orang lain, bukan oleh anda, bukan pula keluarga anda, dan belum tentu pula akan ada manfaat secara materiel yang kembali pada anda. Lalu kenapa kita membela mati-matian kekuasaan orang lain dan bahkan rela menjual agama kita demi kekuasaan orang lain? Bukankah ini kebodohan yang jelas sekali?

Bukankah ini hal yang aneh? Atau hanya saya saja yang merasa aneh ya, karena hal begini sudah menjadi hal yang biasa? Atau memang Imam Ghazali yang kitabnya gak sesuai dengan zaman now, di mana mencaci saudara yang berbeda pilihan politik itu jadi halal?

Ah entahlah, saya jadi teringat sebuah ungkapan yang kurang lebih begini:

لم ولن يغلب الخطاب السياسي على الخطاب العلمي

“Tidak dan jangan sampai nalar politik itu mengalahkan nalar ilmiah.”

Wallâhu A’lam.

Penulis: Dhiya Muhammad