Hawa Nafsu untuk Mengubah Takdir Dunia

Hawa Nafsu untuk Mengubah Takdir Dunia

Posted on

Oleh: Edi AH Iyubenu, Wakil Ketua LTN PWNU DIY

Di bagian esai lainnya, saya telah menuliskan hal-hal prinsip berikut:

Pertama, manusia memang telah ditakdirkan oleh Allah Swt untuk tidak sama, berbeda-beda, hingga kemajemukan dan keragaman adalah keniscayaan sunnatuLlah. Tujuan dijadikanNya kita berbeda-beda begini tiada lain “untuk menguji kita siapa yang paling baik amalnya” dan “untuk menguji kita perihal apa-apa yang telah didatangkanNya kepada kita”; maka diperintahkanNya: “Fastabiqul khairat, berlomba-lombalah dalam berbuat kebaikan.” Kelak, setiap kita akan mendapatkan pengadilan yang Maha Adil dariNya Swt.

Kedua, beriman dan kufurnya manusia kepada Allah Swt mesti kita pandang sebagai bagian dari ketentuan dan ketetapanNya, kendati manusia tetaplah diberi “ruang ikhtiar” untuk memilihnya dengan bebas. Satu sisi, kita mesti meyakini bisa berimannya kita merupakan karuniaNya, berkat diijinkanNya, tetapi di sisi lain kita mesti bertanggung jawab kepada pilihan bebas kita: apakah kita beriman atau kufur kepadaNya.

Ketiga, Allah Swt adalah Dzat yang Maha Membolak-balikkan hati manusia. Umpama hari ini kita beramal saleh dengan penuh takwa kepadaNya, janganlah jemawa, sebab tiada jaminan kita akan berujung husnul khatimah. Pun sebaliknya, kepada orang yang kini sedang bermaksiat, jangan pernah menudingnya bakal suul khatimah, sebab boleh jadi dia akan diberiNya husnul khatimah.

Itulah hal-hal prinsip yang semakin waktu mesti semakin menjadikan kita terikat kepada hukum-hukumNya. Keterikatan diri kepadaNya sering dinyatakan sebagai isyarat bagi “berakal atau tidaknya kita” atau “mempergunakan karunia akal dengan baik atau tidak”. Maka istilah “ya’qilun, yatafakkarun, yatafaqqahum, hingga ulul albab” dan sejenisnya begitu berlimpah dalam al-Qur’an sebagai pendorong nyata bagi kita untuk mempergunakan akal, dan mengayakannya dengan ilmu-ilmu dan kebijaksanaan-kebijaksanaan, dengan sebaik-baiknya. Ilmu yang migunani, yang nafi’an, yakni ilmu yang makin dalam dan luas makin menghantarkan kita beriman, bertakwa, tunduk kepadaNya, dan kaya dengan ekspresi akhlak karimah. Selain “berakal”, al-Qur’an juga menggunakan istilah “mendengarkan” (yasma’un).

Mari berwaspada selalu kepada godaan-godaan yang bisa datang dari dalam diri sendiri, bernama hwa nafsu, maupun dari luar, bernama bujuk rayu setan. Keduanya amat rawan menggelincirkan kita kepada pikiran-pikiran dan perbuatan-perbuatan yang melenakan, mengecoh, membajak, dan finalnya bertujuan menyesatkan.

Innan nafsa la-ammaratun bissu’, sesungguhnya hawa nafsu selalu mendorong kepada keburukan.

Innas syaithana ya’murukum bil fahsyai wal munkar, sesungguhnya setan selalu mendorong kalian untuk kepada jalan keburukan dan kemungkaran.

Di antara kerawanan goda hawa nafsu dan bujuk rayu setan ialah mendesaknya dorongan dalam diri (pikiran dan perbuatan) untuk mengubah takdir dunia ini. Godaan ini begitu halus, samar, dan penuh selubung, hingga mungkin saja kita gagal mengenalinya sebagai godaan keburukan dengan malah menyatakannya sebagai amal kebaikan.

Apa yang kita kenali dan pahami sebagai amar ma’ruf nahi munkar merupakan salah satu medan rawan tersebut. Di satu sisi, ayat-ayat perihal perintah amar ma’ruf nahi munkar ini amatlah berlimpah. Juga hadis-hadisnya. Saking banyaknya dalil terkait amanat ini, kita sangat berpeluang besar untuk menyimpulkannya dengan tanpa ragu lagi sebagai kewajiban mutlak bagi setiap muslim dan muslimah.

Wajar bila lantas kita pun terdorong untuk menggerakkan amanat tersebut, mengerahkan segala sumber daya diri untuk mewujudkannya. Kita mungkin menyebutnya sebagai libtighai mardtahiLlah atau jihad fi sabiliLlah maupun ‘izzatul Islam wal muslimin, dan sebagainya.

Pada derajat tertentu, yang tidak melampaui batas, yakni “tidak memicu perselisihan dan permusuhan”, ia baik, sahih, dan benar. Tentu saja, siapa yang bisa menjaganya dalam gerakan yang beradab demikian, dengan sendirinya ia telah memenuhi sarat-syarat pokoknya, seperti pengetahuan yang luas dan dalam serta khazanah kebijaksanaan dan pengedepanan akhlak karimah.

Namun ia sangat bisa menjadi berbalik arah sedemikian tricky-nya manakala tidak disokong oleh pilar-pilar pokok tersebut. Ia sungguh rawan hanya meletuskan dosa-dosa perselisihan, pertentangan, perseteruan, kemudian perpecahan dan bahkan permusuhan.

Orang yang tahunya hanya ayat asyidda’ ‘alal kuffah, bersikap keras kepada orang kafir, lalu memberdirikannya begitu saja sendirian, tanpa menggabungkannya dengan ayat-ayat lain yang setema (maudhu’i), mungkin saja dengan heroik menyimpulkan bahwa kepada orang-orang non muslim merupakan kewajiban untuk bersikap tegas, keras, bahkan benci dan memusuhi. Sinisme dibenarkan. Merendahkan, menghinakan, mengolok dibenarkan.

Bandingkan dengan orang yang paham lebih jauh tetang ahlul kitab, agama-agama Ibrahimi, niscaya ia memiliki perspektif yang lebih dalam dan membumi. Begitu lagi buat orang yang mengetahui lebih luas perihal cara Rasul Saw dalam menjalin hubungan dengan Bani Najran yang non muslim dan sejarah Fathu Mekkah, niscaya ia akan bisa bersikap lebih luas dan terbuka lagi. Dan seterusnya.

Sampai di sini jelaslah betapa faktor kedalaman dan keluasan ilmu dalam gerakan amar ma’ruf nahi munkar amat menentukan cara, bentuk, dan dampak dari amanat yang muasalnya sahih dan baik tersebut. Belum lagi bila amanat ini dikorelasikan dengan banyak sekali ayat al-Qur’an tentang kehendak dan ketetapan Allah Swt untuk menjadikan dunia ini majemuk begitu rupa. Maka, mari ingat, ia tak pernah cukup dengan cuma berbekal tahu satu ayat, satu hadis, lalu ke mana-mana berteriak syiar Islam, hukum Allah Swt, ittiba’ RasulNya Saw. Islam sama sekali bukan satu ayat, satu hadis, dan kegegabahan begitu rupa.

Coba kita renungkan umpamanya ayat tentang fastabiqul khairat dan inna akramakum ‘indaLlahi atqakum. Ketika Allah Swt telah menakdirkan dunia ini berbeda-beda, beragam, lalu dilanjutkanNya dengan follow up fastabiqul khairat, semestinya kita menjadi berpikir mendalam perihal (misal) bagaimana logikanya kita hendak terus memperjuangkan keseragaman dan ketunggalan hidup di dunia ini, atas nama Allah Swt, Rasul Saw, bela Islam, masyarakat Qur’ani, dan sebagainya, hanya berdasar paham yang kita ketahui dan ikuti?

Jangan-jangan tatkala kita terus bersideru dengan dorongan-dorongan heroik mengislamkan semua orang, mensalehkan semua orang, atau apalagi menyeragamkan semua orang dalam satu cara dan bentuk berislam yang kita yakini dan anut, seyogianya di waktu yang sama kita sedang terjatuh pada gerakan mengingkari takdir yang telah ditetapkan Allah Swt sendiri? Jangan-jangan pekik lantang kita terhadap ‘izzul Islam wal muslimin pada hakikatnya hanya untuk memuaskan hawa nafsu kita yang telah menyelubungi hati dan pikiran kita dengan memandang dunia ini dari satu kacamata tersebut, lalu menyangkanya sebanar Al-Haq? Jangan-jangan apa yang kita sebut sebagai Al-Haq itu sendiri, Kebenaran Islam, bukan lagi kehakikian rahmat-rahmatNya kepada dunia dan seluruh makhlukNya, melainkan gelora ambisi hawa nafsu kita saja sehingga kita pun terjatuh pada celaan al-Qur’an dalam surat al-Mukminun ayat 71 sebagai “akan hancurlah langit dan bumi beserta seluruh apa yang ada di antaranya”? Jangan-jangan yang kita pikirkan, yakini, dan perjuangkan mati-matian tersebut sejatinya bukan lagi kemurnian menyembah Allah Swt, melainkan akibat kita telah buta hati karena menyembah hawa nafsu sendiri dan menjadikannya Tuhan, sebagaimana peringatan surat al-Jatsiyah ayat 23?

Baca Juga >  "Di Kadilangu Itu Kantornya, Akan Tetapi di Sini Makamnya..."

Jika kita terus dikunyah golakan ambisi mengubah takdir dunia menjadi manunggal dalam satu bentuk keislaman dan kesalehan, sebagaimana yang kita pikirkan, pandang, dan yakini, hingga kita terjartuh pada pertikaian dan ketegangan sosial, lantas hendak di kemanakan segala ajaran welas asih, kasih sayang, persaudaraan, keadilan, dan kemanusiaan?  Hendak kita tutup mata dengan cara apa lagi terhadap begitu berjubelnya suri tauladan Rasul Saw terkait akhlak karimah kepada semua manusia tanpa sekat satu iman, apalagi satu paham dan aliran?

Saya kerap merenung seiring dengan makin seringnya saya saksikan ayat-ayat al-Qur’an dan sirah Rasul Saw yang terkait dengan khittah perbedaan dan kemajemukan dunia ini. Betapa nampaknya (maaf kata) segala bentuk keinginan kita untuk mengislamkan semua orang, mensalehkan semua orang, menyepahamkan semua orang, sesuai dengan paham-paham dan amal-amal keislaman ala kita, hanya mungkin terbit dari hati yang kurang kokoh imannya (sebab ini adalah sunnatuLlah) dan kurang cinta kepada Rasul Saw (sebab ini begitu luas teladannya darinya Saw), serta kurang welas asih nuraninya kepada asas-asas kemanusiaan, dan kurang tinggi standar etika cum akhlaknya. Bisa ditambahkan: kurang berakalnya ia akibat dibutakan hawa nafsu.

Secara imani, sungguh mustahil saya berani menentang ketetapan takdir Allah Swt terhadap perbedaan dan kemajemukan dunia ini. Secara ittiba’ Rasul Saw, tiada alasan bagi saya untuk menyelisihinya. Rasul Saw tetap berwelas asih pada salah satu musuhnya yang dibunuh oleh cucu angkatnya, Usamah bin Zaid, padahal ia telah mengucap kalimat tauhid.  Rasul Saw marah kepada Usamah saking menyesalkannya beliau Saw terhadap sikap keras tersebut. Jikalau kita memang memiliki hati yang penuh welas asih, berkarakter ‘Ibadur Rahman sebagaimana dituturkan surat al-Furqan ayat 63, ittiba’ Rasul Saw, muskillah kita berani memandang hina, buruk, dan picik kepada orang lain siapa pun itu. Pun jika standar etika kita telah terpacak tinggi, dengan misal kita meyakini betapa semua orang ingin mendapatkan perlakuan baik sebagaimana kita ingin demikian dan tak ingin didera perlakuan buruk sebagaimana kita pun tak ingin, serupa nasihat “timbangan” Ali bin Abi Thalib yang mulia itu, mustahillah kita akan bersikap tebang pilih kepada manusia hanya karena dia sealiran Islam dengan saya, dan yang itu beda paham, pun karena dia seiman dengan saya, sementara dia beda keyakinan.

Niscaya tidak begitu, bukan?

Prof. Quraish Shihab memberikan nasihat yang amat berharga buat kita di titik ini, yakni mengedepankan hakikat cinta kepada semua makhluk Allah Swt. Nampaknya, nasihat beliau ini memiliki jejak ittiba’ kepada “sang kunci ilmu pengetahuan” Imam Ja’far ash-Shadiq yang pernah manasihatkan: “Agama adalah cinta dan cinta adalah agama.”

Beliau membaginya dalam tiga hierarki:

Pertama, cinta yang berada di derajat rela berkorban untuk kemaslahatan orang lain. Inilah derajat cinta tertnggi.

Kedua, cinta yang bersendikan kepada asas persaudaraan. Jikapun tak bersaudara dalam iman, kita tetaplah bersaudara dalam kemanusiaan.

Ketiga, cinta yang menyelamatkan tangan dan lidah kita dari mengucapkan dan melakukan hal-hal yang berisiko menyakiti dan merugikan orang lain.

Umpama pun kita menerapkan pola hierarkis itu berdasar pertimbangan “kedekatan/kesamaan” dengan orang lain, maka pada derajat yang paling bawah sekalipun prinsip-prinsipnya tetaplah tidak mendampratkan rasa sakit hati dan kerugian pada orang lain. Jika ini dijaga dengan teguh, tentulah semua orang akan terselamatkan dari potensi sikap keras dan kasarnya lisan dan tangan kita. Ini selaras sekali dengan hadis Rasul Saw: “Sang Muslim itu adaah orang yang menyelamatkan orang lain dari lisan dan tangannya.”

Di bagian akhir ini, saya kutipkan surat al-Hujurat ayat 11-12:

Wahai orang-orang yang beriman, janganlah sekelompok lelaki mengolok-olok sekelompok lelaki lainnya karena boleh jadi mereka lebih baik darinya dan janganlah sekelompok perempuan mengolok-olok sekelompok perempuan lainnya karena boleh jadi mereka lebih baik darinya. Dan janganlah mencela dirimu sendiri dan pula memanggil (diri dan orang lain) dengan sebutan yang mengandung hinaan. Seburuk-buruk panggilan adalah panggilan yang buruk setelah beriman, maka siapa yang tidak bertobat mereka itulah orang-orang yang zalim. Wahai orang-orang yang berman, jauhilah pelbagai prangka karena sebagian dari prasangka adalah dosa. Dan jangan pula mencari-cari keburukan orang lain dan jangan pula menggunjing satu sama lainnya. Apakah ada seseorang di antara kalian yang suka memakan daging saudaranya sendiri dalam keadaan telah mati? Tentulah kamu akan merasa jijik. Bertawakkallah kepada Allah Swt, sesungguhnya Allah Swt Maha Penerima taubat dan lagi Maha Penyayang.

Ya, bertawakkal sajalah kepada Allah Swt dengan menerima semua kehendak dan ketetapanNya. Apa saja wujudnya di dunia ini. Semoga Allah Swt lalu merahmati kita semua. Amin.

Wallahu a’lam bish shawab.

Jogja, 10 Oktober 2019