Cintaa

Hakikat Cinta yang Sebenarnya

Posted on

 Oleh: Wasna Arif Mahmudi Penikmat Kajian Keagamaan Tinggal di Bantul

Cinta. Sebuah kata yang sering diucapkan oleh insan yang dimabuk asmara kepada pasangannya.  Seakan kata cinta hanya relevan dengan remaja yang sedang mabuk asmara atau menjadi lirik penuh sukacita, duka dan lara dalam lagu-lagu. Padahal, kata cinta sering diungkapkan oleh Rasulullah SAW dalam tema persaudaraan dan persahabatan bahkan tema cinta itu sendiri.

Para salafuna shalih, berkata “janganlah engkau mengatakan cinta kepada seseorang, kecuali setelah engkau merelakan dirimu berbagi harta dengan baik, adil, dan ketika orang yang engkau cintai tertimpa musibah (penderitaan) maka engkau merasakan hal yang sama, barulah ketika sudah demikian engkau layak mengatakan cinta kepada orang yang engkau cintai”.

Inilah standar cinta menurut salafuna Shalih, yang ternyata tidak sederhana dan tidak mudah. Banyak manusia bisa bersama ketika dalam kesenangan dan kebahagiaan namun sangat sedikit orang yang bisa setia dalam kepedihan, bahkan lebih sangat sedikit orang yang bisa merasakan kepedihan, penderitaan orang yang dicintai.

Baca Juga >  Jangan Biarkan Tasbihmu Kelaparan

Itulah hubungan cinta, kerelaan berbagi harta dan satu rasa, terutama dalam kepedihan. Hal ini tentunya tidak terbatas antara laki-laki dan perempuan, suami istri, orang tua dan anak, kakak dan adik, namun mencakup seluruh hubungan secara menyeluruh.

Kepada siapa kita menyatakan cinta? Apakah standar dari salafuna Shalih sudah sesuai yang kita rasakan ? Atau cinta kita hanya sebatas kata-kata semata ?

Baca tulisan menarik lainnya dari Wasna Arif Mahmudi di sini