kyai thoriqoh

Gus Yahya (Katib Aam PBNU) dan Kisah Curhat Kyai Thoriqoh

Mbah Kyai Syahid Kemadu menikah dengan Mbah Nyai Shofiyah yang usianya agak jauh lebih sepuh.

“Pada waktu dia disunat, aku sudah ikut rewang”, kata Mbah Shofiyah, menggambarkan perbedaan umur diantara beliau berdua. Maksudnya, pada waktu Mbah Syahid disunat di usia kanak-kanaknya, Mbah Shofiyah sebagai tetangga sudah ikut bersama-sama perempuan-perempuan dewasa lainnya membantu orang tua Mbah Syahid mempersiapkan masakan untuk kondangannya.

Mbah Syahid sangat menghormati isterinya.

“Orang-orang itu salah sangka”, beliau berkata, “dikiranya aku ini keramat. Padahal yang punya keramat itu sebenarnya ya Nyai –maksudnya: Mbah Shofiyah. Aku bisa begini ini karena Nyai. Kalau bukan karena dia, mustahil aku bisa istiqomah”.

Memang, Mbah Shofiyah tergolong kaya-raya. Kebun dan sawahnya luas. Beliau mewakafkan lahan untuk membangun pesantren bagi suaminya dan mencukupi segala nafkah dari panen pertaniannya. Mbah Syahid tidak perlu memikirkan apa-apa selain mengajar santri dan menekuni jalan mendekat kepada Allah.

Belum lama ini, saya melakukan perjalanan selama tiga minggu bersama seorang kyai thoriqoh yang sudah sepuh juga, sebut saja “Mbah Zen” –bukan nama sebenarnya. Itu membuat saya jadi cukup dekat dengannya, sehingga beliau lantas tidak sungkan-sungkan menceritakan berbagai hal pribadi, bahkan curhat.

“Dulu aku pernah mengawini seorang janda kaya”, ia berkisah, “Dia yang minta, malah nggrenjik-nggrenjik minta dinikah”.

Diam-diam saya jadi iri mendengarnya.

Baca Juga >  Menutup Mulut Saat Menguap, Ini Rahasianya!

“Pada mulanya kupikir enak, karena dia mencukupi nafkah rumah tangga”, Mbah Zen melanjutkan, “Apalagi dia janji mau ngajak pergi haji berdua…. Tapi aku cuma tahan tiga bulan, terus kulepas”.

“Dilepas gimana, Mbah?”

“Ya kuceraikan”.

“Lho? Memangnya kenapa?”

“Sebagian wadhifah wirid thoriqohku jadi terbengkelai gara-gara dia”.

“Kok bisa gitu?”

“Lha tiap malam dianya minta terus….”

10 September 2018

(KH Yahya Cholil Staquf, Katib Aam PBNU)