gus muwafiq

Gus Rijal: Saya Bersama Gus Muwafiq Nderek Kanjeng Nabi

Posted on

Oleh Gus Rijal Mumazziq Z, rektor INAIFAS Jember.

Kalau ada yang sewot dan marah atas ucapan Gus Muwafiq saya kira wajar. Wong ya Kanjeng Nabi “digitukan”. Nggak usah curiga terhadap yang mengkritik dan menyanggah Gus Muwafiq. Reaksi yang wajar juga, saya kira. Tapi kalau kemudian ada yang mau memperpanjang dengan demo, apalagi melaporkan ke polisi, ini malah berlebihan. Toh, Gus Muwafiq sudah minta maaf.

Minta maaf itu butuh kerendahan hati, lho. Sedangkan memaafkan butuh kelapangan hati. Katanya sih begitu. Saya iyakan saja. Gus Muwafiq sudah minta maaf dan memberi penjelasan. Bagi saya ini gentle. Berani bertanggungjawab. Menurut saya, case closed (tulisane ngene ta rek?hahaha), sebagaimana dulu Pak Evi Effendi juga minta maaf atas ucapannya tentang Rasulullah. Angkat kopiah untuk Gus Muwafiq dan Pak Evi yang dengan rendah hati mau klarifikasi dan minta maaf. Jarang-jarang lho orang yang sudah kondang mau mengakui kesalahannya. Sekali lagi harus diapresiasi. Salut! Terimakasih sudah memberikan contoh yang baik buat kami, Gus Mu dan Pak Ev!

***

Tabligh itu hampir sama dengan ta’lim. Hanya saja, di Indonesia, tabligh konotasinya lebih wow, semarak, meriah dan muballighnya punya kemampuan retorika yang kece.

Retorika ini bisa dipelajari. Tekniknya bisa diujicoba berkali-kali hingga mahir. Semakin Anda mahir dalam olah kata, semakin menarik. Apalagi kalau menguasai emosi massa. Bung Karno adalah contoh paripurna orator dengan perpaduan kata-kata yang memukau dan kharisma yang unik. Bung Karno berlajar pidato dari HOS. Tjokroaminoto, eyang buyut Maia Estianti itu.

Apakah Bung Karno pernah terpeleset lidah? Yang pasti pernah, entah dalam konteks apa. Mustahil orang yang suka bicara nggak pernah luput. Tapi, ada yang unik dari Bung Karno. Ketika berpidato politik, dia percaya diri sekali. Tapi ketika pidato dalam acara Peringatan Resmi di Istana Negara: dari Maulid Nabi, Isra Mi’raj, Nuzulul Qur’an, maupun Halal BI Halal, Bung Karno memang memukau seperti biasanya. Hanya, di tengah-tengah pidato, dia bertanya tanpa malu-malu atau minta pembenaran kepada beberapa orang yang dia anggap paham agama, misal,

Baca Juga >  Khalifah Umar dan Kisah Perjalanan Seorang Dukun Masuk Islam

“Bukankah demikian, Saudara Idham Chalid?”

atau

“Tadi saya diskusi mengenai peristiwa isra mi’raj bersama Pak Mulyadi Joyomartono (tokoh Muhammadiyah). Apa yang tadi saya sampaikan, sudah benar, bukan?”

atau

“Dengar, dengar kanlah! […….] tanyakan ke saudara Idham Chalid ini!

***

Kalau kita pidato atau ceramah, potensi keseleo lidah, atau menyinggung orang itu pasti ada. Semacam reaksi spontan yang, ibarat panah, sekali meluncur tidak bisa kita tarik kembali. Ini berbeda dengan tulisan yang sebelum kita publikasikan, bisa kita baca dan edit ulang berkali-kali agar tidak menimbulkan kehebohan dan kontroversi.

Dan, pada suatu ketika, pada suatu ceramah, sambutan, atau mengajar, potensi kita dalam salah ucap maupun salah pilihan diksi pasti ada. Ini resiko ngomong. Dan, kalaupun salah, ya harus minta maaf. Dalam hal ini saya kagum melihat Gus Muwafiq dengan legowo minta maaf. Tanpa gengsi, tanpa pretensi membela diri. Semoga senantiasa bisa menyebarkan kebaikan dan inspirasi, Gus!

Jangankan muballigh kayak Gus Muwafiq, level MC saja masih belepotan, misal, “Kepada AL-MUKHARROM kiai haji….”, atau peristiwa saat Gus Dur diundang halal bihalal di sebuah kampus di Jakarta.

Gus Dur telat. Dia datang ketika rektor sedang sambutan, yang secara spontan bereaksi, “Hadirin yang terhormat, marilah kita sambut KH. Abdurrahman Wahid, sang DOI BESAR dari Nahdlatul Ulama, dengan berdiri….”

Doi, Gaes! Mau bilang Dai keliru Doi!

Allahumma shalli wa sallim wa barik ala Sayyidina Muhammad wa ‘ala ali Sayyidina Muhammad