Fatkhur Rohman, Yakin Berbisnis dengan Modal Dawuh dan Doa Kiai

Fatkhur Rohman, Yakin Berbisnis dengan Modal Dawuh dan Doa Kiai

Posted on

Saya mencoba menuliskan pengalaman hidup teman saya, Fatkhur Rohman. Silahkan dibaca. Lumayan panjang sih, tapi insyaallah inspiring.

Fatkhur Rohman, Yakin Berbisnis dengan Modal Dawuh dan Doa Kiai.

KLIK DISINI untuk mengirim WA (tanpa harus menyimpan nomor terlebih dahulu) ke Call Center NU Care LAZISNU DIY, untuk konsultasi/tanya-tanya.

Saya tumbuh dan berkembang dari keluarga kurang mampu, di desa Bulumanis, Margoyoso Pati. Sejak duduk di Madrasah Ibtidaiyah (MI), saya sudah membantu bibi. Bibi saya memiliki usaha sablon dan mendring (kredit perabotan rumah tangga), warisan dari suaminya yang sudah meninggal. Saya tidak pernah meminta gaji dari bibi saya. Diberi ya syukur, tidak diberi ya tidak apa-apa. Orang Barat menyebut: Life begins at fourty. Tapi saya bilang: “Life begins at ten.”

Ibu saya jualan makanan ringan di kantin Sekolah Teknik Mesin (STM) di Mbapoh, Pati, 20 km ke arah selatan dari pertigaan Ngemplak, Margoyoso, Pati. Bakpao, misua, arem-arem, lemper dan beberapa jenis gorengan adalah makanan yang dijual. Keluarga besar kami adalah keluarga Madrasah Salafiyah, kebayakan anak-anaknya disekolahkan di Madrasah Salafiyah, Kajen, Margoyoso Pati. Selain karena dekat dengan rumah kami di Bulumanis Kidul, biaya pendidikannya pun masih terjangkau.

Sejak masuk di MTs Salafiyah, pekerjaan rutin saya adalah membantu ibu saya membawakan jajanan untuk dijual di STM. Selepas subuh, saya sudah membawa jajanan untuk dijual. Dengan naik sepeda, saya meluncur ke pertigaan Ngemplak. Sepeda saya titipkan di sana. Kemudian saya naik bus jurusan Pati-Tayu, turun di STM Mbapoh.

Jajan saya taruh ke kantin dan buru-buru balik. Sampai di rumah pukul 06:30. Saya siap-siap berangkat ke madrasah. Kegiatan ini saya lakukan dari sejak Tsanawiyah hingga Aliyah. 6 tahun. Ibu tidak pernah memberi uang saku. Saya juga tidak pernah minta. Saya paham, ibu tidak punya uang. Laba jualan jajan hanya cukup untuk makan dan kebutuhan pokok lainnya. Ibu hanya membekali jajan, lebihan jajan yang dijual di STM. Itulah uang sakuku selama di Madrasah Salafiyah.

Selepas sekolah di madrasah, siang sekitar pukul 13:00, saya mulai bekerja nyablon di rumah bibi sampai sore. Sore harinya, saya bantu ibu membuat Bakpao dan jajanan lainnya hingga malam. Selepas itu istirahat. Praktis, saya tidak punya waktu untuk belajar di rumah. Belajar saya ya di madrasah dan di makam Mbah Mutamakkin di setiap malam Jumat sehabis baca Yasin dan Tahlil (nanti saya kisahkan tentang ini).

Mengenal Yi Mad

Sejak di MTs Salafiyah, saya mulai mengenal Yi Mad (KH. Husain Muzakkir). Ada peristiwa penting antara saya dengan Yi Mad. Saya punya tetangga, namanya Mbak Ana. Mbak Ana ahli pembuat jamu. Mbak Ana jualan jamu di pinggir jalan di wilayah Bulumanis. Yi Mad suka dengan jamu mbak Ana. Singkat kata, saya selalu mengantarkan jamu pesanannya Yi Mad ke rumahnya di Nggesing, sekitar 15 km dari rumah.

Jamu saya antar ke rumah beliau seminggu dua kali. Di sela-sela saya mengantarkan jamu, Yi Mad memberikan nasihat. Yi Mad juga pernah memberikan uang ke saya sebesar 300 rupiah dan berpesan, “Iki disimpen!” (Ini disimpan). Uang 300 rupiah itu masih saya simpan sampai sekarang. Di lain waktu, tanpa ada pengantar apa-apa, Yi Mad berpesan, “Ditekuni, sing sabar.”

Yi Mad memang tidak banyak bicara dan bercerita. Sekali bicara singkat, padat dan bernas, sekaligus mengena. Biasa, tipikal kiai unik.

Sejak sekolah di Madrasah Salafiyah, saya suka sowan-sowan ke kiai. Kalau tidak ke kiai, ya ke orang tua yang petuah-petuahnya menjadi mata air bagi dahaga jiwa saya. Di antara mereka adalah Kiai Aziz Yasin. Beliau adalah guru saya di MI Nahjatul Falah Bulumanis. Kiai Aziz Yasin adalah bapak dari Mas Imam Aziz, aktivis NU yang kini menjadi Staf Khusus Wakil Presiden RI, KH. Ma’ruf Amin.

Kiai Aziz Yasin berpesan kepada saya: “Pokok e, nek diutus kiai atau guru ojo sampek nolak!” (Pokoknya, kalau kiai atau gurumu menyuruh melakukan sesuatu, jangan ditolak). Pesan itu saya ingat-ingat sampai sekarang.

Selain ke Kiai Aziz, saya juga sering sowan ke Pak Su’udi. Pak Su’udi itu tetangga saya dan juga sekaligus guru kesenian saya di Madrasah Salafiyah. Beliau adalah mertua dari KH. Ubaidillah (atau yang akrab dipanggil Pak Obet). Sowan di Pak Su’udi, saya diberi amalan wirid. Membaca Surat Al-Ikhlas 7 kali, Al-Falaq 7 kali, An-Nas 7 kali dan ayat kursi 7 kali. Dibaca minimal sehari sekali. Syukur-syukur lebih. Sembari memberi amalan wirid itu, Pak Su’udi berpesan: “Mugo-mugo opo sing mbok butuhke kecukupan.” (Mudah-mudahan apa yang kamu butuhkan dicukupkan).

Seiring bertambahnya umur dan pengalaman, tugas saya di sablon bibi saya bertambah. Saya harus mengontrol kerjaan sablon dan berbelanja bahan baku di Kudus. Saat itu saya masih di Tsanawiyah. Bahan baku sablon di Pati terbatas. Jika tidak ada, mau tidak mau harus belanja ke Kudus, di Simpang Lima Kudus dan kadang di dekat Menara. Ke Kudus sebulan sekali. Kadang juga dua kali. Usaha sablon bibi saya masih sangat sederhana saat itu, hanya nyablon undangan, plastik dan kertas.

Ketika saya sudah bisa mengendarai motor, saya mengantarkan bibi saya untuk mendring dan nagehi (menagih cicilan), hampir setiap sore. Kadang bisa sampai malam. Saya juga tidak pernah meminta upah dari bisnis mendring bibi saya. Pekerjaan yang padat membuat saya tak punya waktu cukup untuk belajar. Tapi saya tidak kekurangan akal.

Malam Jum’at di Makam Mbah Mutamakkin

Malam Jumat adalah malam penting dalam hidup saya. Malam Jumat adalah malam jeda. Malam istirahat dari kerja dan saatnya belajar. Malam Jumat selalu saya manfaatkan sebaik-baiknya.

Setiap malam Jumat saya ke makam Mbah Mutamakkin. Tak lupa saya bawa buku-buku pelajaran madrasah. Selepas baca Yasin dan Tahlil, saya baca dan hapalkan buku-buku pelajaran itu. Saya habiskan malam Jumat di makam untuk belajar. Saya sering tertidur dan tidur di makam setiap malam Jumat. Alhamdulillah, sejak Tsanawiyah dan Aliyah, saya selalu ranking satu dan dua (kalau gak satu ya dua. Kalau tidak dua ya satu). Saya sendiri juga heran. Kakek saya, Mbah Sholeh Jaelani, selalu mensugesti saya: “Kalau mau menghapal pelajaran ya sana ke makam Mbah Mutamakkin.” Itu yang saya pegang.

***
Galau Setelah Lulus dari Salafiyah.

Fase kebingungan datang selepas lulus dari Salafiyah. Saya tidak punya jaringan, tidak punya pengalaman untuk melanjutkan studi setelah dari Salafiyah. Tapi saya yakin, pendidikan bisa merubah segalanya. Saya punya modal otak, bisa mikir dikit-dikitlah. Matematika saya tidak kalah dengan anak-anak kota.

Mbah saya, Mbah Sholeh Jaelani sering berpesan sebelum saya lulus Salafiyah: “Kalau kamu mau kuliah, ya ambil yang kuliah umum saja. Kalau kamu tertarik sama agama, ya mendingan mondok saja di Jawa Timur.”

Kegalauan semakin menjadi. Tidak kunjung ada keputusan: kuliah atau mondok. Kalau saya minta ke orangtua untuk kuliah, pasti mereka berdua akan bilang tidak ada uang. Akhirnya, lagi-lagi saya harus kembali ke makam. Tiap hari, kurang lebih satu bulan, saya ziarah ke makam Mbah Mutamakkin dan Mbah Ronggo Kusumo di Ngemplak. Saya juga sering tertidur di makam Mbah Ronggo. Di makam Mbah Ronggo, dalam tidur, saya bermimpi. Mimpi ini yang menjadi momen penting dalam kehidupan saya yang unyu-unyu dan galau.

Saya bermimpi bertemu dengan seseorang berjubah putih. Orang ini mengajak saya dan teman-teman Langgar al-Munajat (Musholla tempat kami mengaji, berjanji, Yasinan, jagongan) menuju sebuah tempat. Di tempat itu ada piramid besar, seperti yang ada di Mesir. Di piramid itu ada lubang kecil. Seluruh teman-teman saya diperintahkan untuk mengintip isi Piramid melalui lubang kecil itu. Saya juga diperintahkan. Tidak hanya mengintip. Akhirnya orang berjubah putih itupun meminta kami (saya dan teman-teman saya) untuk masuk ke piramid melalui lubang sempit itu. Akhirnya semua bisa masuk.

Yang membuat saya kaget adalah ada tahta emas di dalam Piramid tersebut. Dan tanpa saya saya sadari, saya duduk di tahta itu. Sampai di situ mimpi saya berhenti. Mimpi itu menjadi motivasi saya untuk segera memutuskan: kuliah atau mondok. Setelah saya ceritakan mimpi saya, Mbah Sholeh Jaelani cuman bilang, “Kuwi Mbah Ronggo.”

Saya masih tetap galau, hingga saya bertemu dengan Pak Armansyah. Pak Armansyah, asli Padang, sekolah dan kuliah di Yogyakarta, menjadi guru mapel Sosiologi di Salafiyah dan tinggal di samping rumah saya.

“Jika kamu mau kuliah di Yogyakarta, saya ada teman di sana. Kamu bisa tinggal di rumahnya dan bekerja di sana,” saran Pak Arman ke saya.

Tentu, ini tawaran menarik buat saya. Mbah Sholeh Jaelani setuju, Ibu dan Abah pun setuju. Namun saya bingung, ke Yogyakarta pakai uang apa. Ibu menggadaikan perhiasan tembaganya, dihargai 20 ribu. Bibi saya, yang tidak menggaji saya dari hasil mendring mendengar kalau saya tidak punya modal untuk ke Yogyakarta.

“Ini Tur, kanggo sangu ke Jogja,” kata bibi saya sambil mengodorkan uang 50 ribu. Berangkatlah saya ke Jogja dengan uang 70 ribu. Saat itu cukup, tahun 2000.

Mengadu Nasib di Yogya.

Teman Pak Armansyah yang tinggal di Yogyakarta bernama Arif Hartanto. Saya memanggilnya Pak Arif. Pak Arif adalah sopirnya Pak Amin Rais. Meskipun jadi sopir, Pak Arif punya Panti Asuhan Yatim Piatu di Umbulharjo—deket terminal lama. Nama pantinya Putra Islam. Pak Arif juga punya usaha lain, yakni sablon. Pak Arif, orangnya strick, tegas, detail, dan disiplin. Sebelum ke Jogja, Pak Armansyah sudah mengontak Pak Arif tentang kehadiran saya. Sesampainya di terminal Umbulharjo, Pak Arif menjemput saya.

Kehidupan barupun dimulai. Di panti saya menjadi tukang bersih-bersih dan membantu masak makanan untuk anak-anak panti. Lumayan, saya masih bisa makan dan tidur, GRATIS. Pak Arif sudah tahu, kalau saya ke Jogja bukanlah untuk bersih-bersih atau membantu masak. Singkat cerita, Pak Arif membiayai saya untuk kuliah di fakultas Ekonomi, Universitas Cokroaminoto Yogyakarta. Bersih-bersih, bantu masak, kuliah dan selebihnya kerja di sablonnya Pak Arif. Pak Arif tahu betul jadwal kuliah saya.

Baca Juga >  Lawan Corona, PW GP Ansor DIY Sterilisasi Ratusan Masjid dan Fasilitas Umum

Setelah perkuliahan selesai, saya harus balik ke panti. Jika ada jadwal kuliah mundur, saya harus minta surat keterangan ‘jadwal kuliah dimundur’ dari dosennya. Untuk bukti ke Pak Arif bahwa saya tidak bohong.

Meski pak Arif punya mobil dan motor, beliau lebih memilih naik sepeda. Dan itu diajarkan kepada saya. Setiap kali mengantarkan pesanan sablon, saya harus naik sepeda, meskipun jauh. Dari Umbulharjo ke Piyungan, ke Godean, naik sepeda. Kata pak Arif, “Supaya kamu tahu dan merasakan betapa susah dan capeknya mencari uang.” Betul juga.

Hanya setahun saya tinggal di panti. Selanjutnya harus ngekost dan hidup dengan biaya sendiri. Semua saya lakukan, mulai dari menjadi tukang ketik lembar KRS (Kartu Rencana Studi) hingga kondektur bus kota jalur 7 dan 3. Pak Arman—orang yang merekomendasikan belajar di Yogyakarta dan tinggal di panti—marah mendengar saya menjadi kondektur.

“Jangan, kehidupan di terminal itu keras.”

Profesipun beralih. Seiring bertambahnya pengetahuan, selain saya mendapatkan beasiswa dari kampus, saya juga menjadi ghost writer makalah para mahasiswa. Hasilnya lumayan bisa buat makan. Setelah lulus S1, profesi saya naik. Tidak ghost writer makalah lagi. Tapi skripsi. Hadeuh. Lumayan lama, 1-2 tahun.

Kembali ke Sablon

Suatu saat saya pulang ke Pati. Saya sowan ke Mbah Khozin. Mbah Khozin masih keluarga, dari Mbah putri saya. Mbah Khozin tidak bisa melihat, alias tuna netra. Tapi Mbah Khozin hapal al-Qur’an. Mbah Khozin menjadi salah satu pengasuh Pondok Khoiriyyah di Waturoyo. Mbah Khozin menghapalkan al-Qur’an di Mbah Munawwir Krapyak Yogyakarta. Mbah Khozin seangkatan dengan Kiai Arwani Kudus. Sowan di Mbah Khozin, saya seperti mendapatkan tamparan.

Beliau ngendiko, “Panas….panas…. kowe nyablon wae yo….!” (panas… panas… kamu nyablon saja ya).

Mbah Khozin tampaknya tahu apa yang saya lakukan di Jogja. Membuatkan skripsi, mungkin secara etika akademik tidak baik. Panas menurut Mbah Khozin. Kembali ke Jogja, saya berhenti menjadi gost writer. Saya ikut kursus sablon kaos yang diadakan oleh Dagadu waktu itu. Sampai mahir, bayar 2.5 juta, selama sebulan. Sesudah mahir, saya buka sablon kaos kecil-kecilan. Saya hanya punya triplek untuk alas sablon sebanyak 10 biji. Tentu ini ecek-ecek. Awal-awal, tidak banyak orderan. Malah seringnya pengangguran.

Kalau lagi sepi orderan, saya teringat—lagi-lagi—Mbah Khozin. Beliau pernah ngendiko, “Nek nganggur, moro o nek makame Mbah Munawwir. Ben tonggomu ngiro nek kowe kerjo.” (Kalau lagi tidak ada kerjaan, pergilah ke makam Mbah Munawwir. Biar tetanggamu menyangka kalau kamu kerja).

Saya tahu maksudnya Mbah Khozin.

Sedikit demi sedikit Sablonku berkembang. Saya tidak ambil untung banyak. Ibarat harga 10.000, saya hanya ambil untung 2.500 untuk makan. Yang 7.500 untuk modal. Untungnya lagi, selama berjuang, saya membiasakan diri untuk puasa Dawud. Jadi, pengeluaran untuk makan bisa direm. Usaha sablon masih kembang kempis. Kadang ketidakpastian tetap menghantui.

Memberanikan Diri untuk Menikah.

Meskipun begitu, di tahun 2011 saya memberanikan diri untuk menikah. Menikah dengan perempuan aktivis Aisyiyah Yogyakarta yang sudah punya kerja lumayan mapan. Saya mendapatkan support darinya. Motivasi dan juga finansial. Perlahan sablon berkembang. Di saat perlahan berkembang, salah satu putera KH. Faqihuddin, menitipkan empat santri perempuan ke saya. Mereka alumni SMK Salafiyah, bisa menjahit.

“Tur, aku titip bocah papat iki, kasih mereka pekerjaan biar punya pengalaman.”

Saya tidak mungkin menolak permintaan Gus tersebut. Saya ingat dawuh Kiai Aziz Yasin. Istri saya sempat mengeluh, “Kita makan saja masih sulit. Kok malah dititipi wong papat (empat orang).”

Sebisa saya, empat anak itu saya openi. Selang beberapa bulan setelah menerima empat anak titipan Gus tadi, saya mendapatkan orderan, buat bendera Keraton plus nyablon, sebanyak 5000 bendera. Uang dawn payment (DP) saya belikan mesin jahit, biar empat anak tersebut bisa bantu. Sablon dan konveksi (kecil-kecilan) mulai menggeliat membaik.

Sampai suatu saat di tahun 2015, saya ditipu oleh teman saya sendiri. Orderan sablon dengan jumlah yang banyak tidak dibayar. Hutang saya ke toko kain Cina menumpuk. 75 juta. Stress berat saat itu. Tak ada uang sama sekali. Saat lebaran, saya tidak bisa pulang. Akhirnya kakak tertua saya menjemput saya ke Yogyakarta.

Untuk menghilangkan stress, saat pulang ke Pati, saya sempatkan sowan ke Kiai Nafi’ Abdullah di Kajen. Niatnya mau curhat soal ditipu tadi. Dengan gayanya yang khas, merokok dan menyembulkan asapnya di depan saya, Yi Nafi ngendiko, “Dadi wong kuwi, nek susah disabari, nek seneng disyukuri.” (jadi orang itu, kalau susah maka dibuat sabar, kalau bahagia maka dibuat bersyukur).

Dada saya mak deg. Saya belum curhat. Saya resapi terus ngendikane Yi Nafi itu sampai di rumah. Stress tetap menggelayut di kepala.

Sebelum balik ke Jogja lagi, saya ajak teman saya untuk sowan ke Abah Habib Lutfi di Pekalongan. Saya hanya pakai batik, sarungan dan bersandal. Saya ditemui jama 02.00 dini hari. Dan saya diberi amalan wirid. Keluar dari kediaman Habib Lutfi, sandal saya tidak ada. Saya ikhlaskan. Saya pun telanjang kaki hingga Yogyakarta. Wirid dari Habib Lutfi saya amalkan hingga 4 bulan.

Singkat cerita, tiba-tiba saya kepikiran untuk beli mesin bordir. Saya sudah punya sablon dan konveksi. Tapi saya belum punya bordir. Banyak konveksian yang minta dibordir. Saya sering melempar ke pihak lain. Akhirnya, saya hubungi teman saya untuk mencarikan contact person marketing mesin bordir.

Teman saya bertanya,”punya uang berapa?”

Saya jawab,”Nggak punya.”

Dia tepok jidat.

Tapi temen saya tetap mempertemukan saya dengan marketing mesin bordir. Ketika bertemu, pihak marketing mengajukan pertanyaan yang sama. Saya pun menjawab yang agak mirip, “Jujur, saya tidak punya uang.” Ada kata “jujur”. xixixixi

Setelah melihat kondisi ruang kerja saya di Gamping, Ring Road Utara Yogyakarta, melihat mesin jahit dan sablon saya, pihak marketing menyetujui dan akan menurunkan mesin boardir seharga 230 juta. Dibayar dengan cara cash lunak. 3 bulan. Saya tawar 6 bulan. Dan disetujui. Tapi pihak marketing meminta agar saya punya ruangan untuk mesin tersebut, karena ukurannya besar. Itu artinya, saya harus cari ruko atau kontrakan yang besar. Perlu uang lagi. Sedang saya tak ada uang. Pusing tujuh keliling. Pihak marketing sudah ok, saya belum punya tempat untuk mesin bordir. Saya segara mencari tempat dan dapat. Harganya 15 juta pertahun. Lagi-lagi, uang dari mana?

Saya telpon Ibu saya. Saya sampaikan kalau saya mau beli mesin bordir dan bingung mau bayar kontrakan untuk menaruh mesin bordir tersebut. Akhirnya ibu jual emas-emasnya. Total dapat 13 juta. Harga kontrakan saya nego. Dapatlah 13 juta. Mesin bordir sudah siap dipakai. Orderan bordir membanjir hingga kewalahan dan saya kerahkan karyawan sampai 24 jam. Kemudian perkembangan bordir semakin baik. Konveksi jalan lancar, begitu juga sablonan, dan tentu cicilan pembayaran mesin bordir yang stabil.

Suatu saat, Abah Habib Lutfi sedang memberikan pengajian di Yogyakarta. Sepulang pengajian, Abah mampir ke tempat kami dan melihat-lihat lokasi kami kerja. Dan bilang, “Saya doakan semoga ada mesin bordir lagi.”

Tepat satu bulan setelah kunjungan Abah Habib Lutfi, marketing mesin bordir datang lagi dan menawarkan mesin bordir yang lebih bagus dengan cara pembayaran cash lunak. Harga mesin itu 335 juta. Saya tawar pelunasannya sampai satu tahun. Marketing setuju dan mesinpun diturunkan. Kondisi semakin membaik setelah itu.

Empat alumni SMK Salafiyah yang dititipkan oleh Gus ke saya, akhirnya saya biayai untuk kuliah. Ada yang di UGM, UNY, UMY dan Universitas PGRI.

Dalam kondisi yang sedang di atas ini, tiba-tiba saya merenung dan deleg-deleg. Saya sekarang punya karyawan 56 orang. Mesin bordir 4 buah seharga lebih dari satu milyar, belum mesin jahit dan mesin lobang kancing dan pasang kancing otomatis 3 buah. Total sudah lebih dari 1 Milyar.

Nalar dan logika saya tidak nyandak.

Awalnya saya kan tidak punya uang. Kok sekarang jadi begini. Di tengah-tengah keheranan tersebut, saya pulang ke Pati dan lagi-lagi sowan ke Kiai Nafi’ Abdillah. Niatnya mau curhat kalau logika ini tidak nyandak memikirkan apa yang belakang berkembang dalam hidup saya. Masih dengan gayanya yang nyentrik, merokok dan menyembulkan asapnya ke depan muka saya, dan berkata, “Sandalmu wis diganti mesin bordir computer karo Habib Lutfi. Urip iku nek seneng disyukuri, nek susah disabari.” (sandalmu sudah diganti mesir bordir komputer sama Habib Lutfi. Hidup itu kalau senang ya disyukuri, kalau susah dibuat sabar).

Lagi-lagi, mak deg. Kiai Nafi’ tahu kalau sandal saya hilang dan Habib Lufti mendoakan saya akan mendapatkan mesin bordir lagi. Pesannya Yi Nafi’ pun dibalik: senang disyukuri, susah disabari. []

*Kisah “Fatkhur Rohman, Yakin Berbisnis dengan Modal Dawuh dan Doa Kiai” ini bukan untuk pamer atau sombong-sombongan. Kisah ini hanya ditujukan untuk—jika memungkinkan—menginspirasi dan memotivasi santri-santri Salafiyah yang sedang menuntut ilmu atau bagi anda yang telah membaca. Terimagaji#

Kamis, 4 Juni 2020.

Penulis: Hamam Faizin, Alumni Pondok Pesantren As-Salafiyah Kajen Margoyoso Pati, kini tinggal di Depok Jawa Barat.

Berikut ini foto-foto Fatkhur Rohman, Yakin Berbisnis dengan Modal Dawuh dan Doa Kiai.