dialog dengan kh ali yafie

Dialog dengan KH Ali Yafie: Perlindungan Jiwa/Nyawa Lebih Diutamakan

Posted on

Perlindungan terhadap jiwa/nyawa lebih diutamakan.

Aku ingin mengulang tulisan dialogku dengan Al-Mukarram, Kiyai Ali Yafie, mantan Rois ‘Am PBNU, Ketua Umum MUI dan Rektor IIQ (Institute Ilmu al-Qur’an. Mungkin penting untuk konteks hari ini di sini.

KLIK DISINI untuk mengirim WA (tanpa harus menyimpan nomor terlebih dahulu) ke Call Center NU Care LAZISNU DIY, untuk konsultasi/tanya-tanya.

Dialog :

“Kiyai, mohon maaf, belakangan ada istilah, terma keagamaan Islam yang makin populer di kalangan intelektual/sarjana Islam progresif. Yaitu “Maqashid al-Syari’ah” (tujuan hukum agama). Ini dipopulerkan oleh Imam Abu Hamid al-Ghazali dalam bukunya “Al-Mustahfa min ‘Ilm al-Ushul”. Al-Imam menyebutnya “Al-Kulliyat al-Khams” (Lima hak dasar manusia). Yaitu “Hifzh al-Din” (perlindungan keyakinan), “Hifzh al-Nafs” (Perlindungan jiwa/hidup), “Hifzh al-‘Aql” (perlindungan hak berpikir), “Hifzh al-Nasl” (perlindungan berketurunan) dan “Hifzh al-Mal (perlindungan hak milik). Begitu menurut urutan Imam al-Ghazali.

Bagaimana urutan ini menurut kiyai?.

“Hifzh al-Nafs (hak hidup) itu urutan pertama,” jawab beliau spontan.

Aku terperangah, sambil tertawa kecil senang, karena aku pikir sama dengan yang aku pikirkan, meski tak populer.

Mengapa “Hifzh al-Din” tidak didahulukan?. Bukankah ini sangat mendasar?

“Ya karena orang bergama itu harus orang hidup,” katanya.

Aku tertawa senang lagi.

Jadi “Hifzh al-Din” (perlindungan atas hak beragama dan berkeyakinan) diletakkan di mana kiyai?,” aku mengejar

“Terakhir”.

Wouw, Subhanallah. Aku kaget lagi.

Mengapa, Kiyai?

“Agama melindungi semua hak itu,” kata beliau.

Baca Juga >  Ini Penjelasan tentang Larangan Shalat Jumat dan Berjamaah saat Corona

Dan aku terpana. Tak bisa bicara. Luar biasa progresif beliau ini, kata hatiku.

Menempatkan “Hifzh al-Din” pada urutan terakhir ini jarang dikemukakan orang lain. Mungkin Kiyai Sahal atau Gus Dur. Paling tidak itulah yang aku ketahui, sesudah membaca sejumlah literatur tentang Maqashid al-Syari’ah. Sesungguhnya al-Ghazali sendiri tidak menjelaskan apakah urutan itu didasarkan atas logika berpikir prioritas atau tidak, tetapi sekedar dikumpulkan saja, sehingga pilihan prioritas diserahkan kepada dan tergantung konteksnya sendiri-sendiri. Maka aku bertanya kepada Kiyai Ali Yafi.

“Mengapa Imam al-Ghazali menempatkan perlindungan atas agama atau keyakinan ini pada urutan pertama”, tanyaku penasaran.

“Konteksnya menghendaki demikian,” jawabnya singkat.

Aku dan teman-teman yang mendengar jawaban itu berdecak kagum kepada beliau ini.

Begitulah dialogku dengan Kiyai kharismatik yang meski sudah 93 tahun, tapi masih sangat cerdas dan berpikir jernih. Orang lain boleh berpendapat berbeda atasnya. Begitu juga berbeda dalam memaknai butir-butir hak dasar yang lima itu. Juga boleh menambah untuk memperkaya wawasan, misalnya “hifzh al-‘Irdh” (perlindungan atas kehormatan/dignity) dan “hifzh al-Biah” (perlindungan lingkungan hidup).

Yang penting tidak marah saja.

02.04.2020

KH Husein Muhammad, Pesantren Darut Tauhid Arjawinangun Cirebon.