doa manusia

Burdah 26, Mohon Ampunan dari Kosongnya Amal

Posted on

Oleh Kiai Kuswaidi Syafi’ie, Pengasuh Pesantren Maulana Rumi Bantul

أستغفر الله من قول بلا عمل
لقد نسبت به نسلا لذي عقم

KLIK DISINI untuk mengirim WA (tanpa harus menyimpan nomor terlebih dahulu) ke Call Center NU Care LAZISNU DIY, untuk konsultasi/tanya-tanya.

Saya mohon ampun pada Allah dari keterangan yang tanpa amal. Sungguh, dengan demikian, berarti telah kunisbatkan keturunan pada lelaki yang mandul.

Bait di atas setidaknya menunjuk kepada dua hal. Pertama, kesungguhan melaksanakan perintah Allah Ta’ala untuk senantiasa mohon ampun kepada hadiratNya sebagai bukti ketidaksanggupan untuk sepenuhnya terhindar dari dosa-dosa. Kedua, kesadaran tentang dosa-dosa yang dirasa menggelayuti sang penyair yang tak lain adalah penulis kitab Burdah itu sendiri.

Dosa-dosa yang dimaksud terutama berkaitan dengan kemungkinan tidak singkronnya keterangan tentang berbagai macam kebaikan yang disampaikan oleh si penyair dengan tindakan dan perilakunya sendiri. Dan hal itu memang merupakan hal yang “lazim” terjadi, apalagi di zaman akhir seperti sekarang ini, di kalangan orang-orang alim yang “berprofesi” sebagai penceramah.

Baca Juga >  Ngaji Gus Baha: Bolehkah Ujian Nasional Dibocorkan?

Realitas ketidaksingkronan itu, sebagaimana diungkapkan oleh si penyair pada bait di atas, sama saja dengan imposibilitas lahirnya seorang anak dari seseorang yang mandul. Artinya adalah bahwa ilmu agama tanpa amal itu laksana pohon yang tidak berbuah. Karenanya, setelah kita memahami ilmu agama, perjuangan kita berikutnya adalah mengamalkan ilmu itu dengan penuh kesungguhan dan ketulusan.

Tujuannya jelas. Di samping agar kita tidak termasuk di antara orang-orang yang diancam oleh Allah Ta’ala karena hanya pandai menerangkan ilmu agama tapi tidak mengamalkannya (QS. ash-Shaff: 2-3), juga agar dengan pengamalan yang penuh dengan keikhlasan itu kita bisa mempertajam pengharapan untuk merasakan kenikmatan yang agung lantaran dekat dengan hadiratNya.